Senin, 28 Desember 2009

Masing-masing Merasa Benar

Sebuah semangka jatuh dari kendaraan bermotor, berguling-guling di tengah jalan raya yang ramai. Pengendara B di belakangnya melihat benda tersebut segera menyepaknya dari jalan. Melihat barangnya ditendang seperti barang mainan si Pengendara A yang tadinya berniat berhenti mengambil semangkanya menjadi urung, dan berbalik niat mengejar Pengendara B yang berbuat tidak senonoh terhadap barang belanjaannya itu. Akhirnya di tengah jalan raya itu terjadi aksi kebut-kebutan, kejar mengejar. Sialnya, jalan raya di Jakarta saat itu sedang sibuk. Kemacetan membuat Pengendara A berhasil mengejar Pengendara B. Terjadilah baku hantam diselingi lontaran kata-kata yang tidak enak untuk ditulis, didengar, apalagi diucapkan oleh seorang manusia beradab.

Keduanya berhasil dihijrahkan ke Pos Polisi. Keadaannya pun tidak berubah, perang mulut tetap berlangsung. Rasa malu keduanya menjadi hilang. Ego dan emosi menggelapkan hati keduanya.

Keadaan sudah menjadi keruh, sehingga saat warna air sudah menjadi coklat kita sudah tidak bisa memilah mana yang susu dan mana yang kopi. Demikianlah kebenaran, jika dibahas dan diungkap secara emosional (meskipun) awalnya benar menjadi rusak lah aromanya.

Anggaplah kita sebagai malaikat saksi yang bisa me-review ulang kisah tersebut. Rupa-rupanya si Pengendara A habis pulang dari orang tuanya yang menitipkan buah semangka untuk anak kesayangannya di rumah. Si Pengendara A menganggap semangka yang dibawanya adalah sesuatu yang sangat berharga, karena dianggap sebuah amanat yang wajib sampai ke tujuan, yakni untuk si buah hati. Bagaimana jawaban yang mesti ia berikan kepada anaknya jika ia menanyakannya. Begitu pula dengan pertanyaan kedua orang tuanya. Ia merasa kecewa dengan Pengendara B yang semena-mena memperlakukan ‘barang berharga’ itu. ‘Dasar manusia tak berperasaan!’ kata si Pengendara A dalam hati.

Pengendara B juga punya alasan baik yang tidak diketahui oleh Pengendara A. Ia punya pengalaman pahit yang menimpa anaknya ketika naik kendaraan bermotor di jalan raya. Anaknya jatuh dari kendaraan bermotor akibat benda asing yang jatuh di hadapannya saat berkendara. Akibatnya hingga saat ini anaknya mengalami patah tangannya. Cerita duka inilah yang menghantui si Pengendara B, sehingga saat peristiwa itu berulang pada dirinya segera ia lakukan tindakan tepat dan cepat. Ia berharap dirinya maupun orang lain di jalan raya tidak mengalami seperti apa yang dialami anaknya. Trauma kejadian itu tidak dimengerti oleh Pengendara A.

Kejadian begitu cepat, dan keadaan sebenarnya tidak bisa kita ungkap dengan seketika. Bayang-bayang ego dalam menilai suatu kebenaran dalam diri sering mendorong kita untuk menemukan atau menentukan jawaban pasti dan segera. Kita membutuhkan seorang Hakim (penengah) dalam kehidupan ini, karena kerap kali kita tergesa-gesa memilih atau menentukan kebijakan dalam menentukan kebenaran.

Inilah pelajaran Kekhidhiran. Yang mengajarkan Musa As bersabar mendapatkan penjelasan / pemahaman. Kebenaran Hakiki tidak bisa dinilai secepat mata memandang, telinga mendengar, akal merekam, hati merasakan. Semua mesti menahan diri dan sabar terhadap metode kebijakan yang sedang dihadapkan. Maka pengertian yang lebih sempurna dengan sendirinya akan kita dapatkan.

Syekh al-Akbar mengungkapkan, 'Seorang Muslim belum tentu konsisten dengan keislamannya, dan orang Kafir belum tentu konsisten dengan kekafirannya'. Artinya semuanya berjalan melalui proses mekanisme Qudrat dan Iradat-Nya, bukan kemauan (kehendak) manusia dengan sifat ketergesaannya.


Salam Birokrasi Ilahiyyah, 29 Des 2009.


Selasa, 01 Desember 2009

Kasih Sayang Terhadap Sesama Makhluk

Dikisahkan bahwa sesungguhnya Nabi Musa As. pernah berkata, 'Ya, Tuhanku, berilah aku wasiat!'. Lalu Allah SWT berfirman, 'Jadilah engkau orang yang menyayangi makhluk!' Nabi Musa As menjawab, 'Baiklah'. Kemudian Allah SWT menghendaki agar ia menampakkan kasih sayangnya kepada para malaikat, lalu mengutus malaikat Mikail dalam bentuk burung 'Ushfur (pipit) yang kecil, malaikat Jibril dalam bentuk burung elang. Lalu burung tersebut datang kepada Nabi Musa As dan berkata, 'Selamatkanlah aku dari elang!' Nabi Musa As menjawab, 'Baik'.
Setelah itu elang datang dan berkata, 'Wahai Musa! Seekor burung lari dariku, sedangkan aku sangat lapar!'
Lalu Nabi Musa As menjawab, 'Aku akan menghilangkan rasa laparmu dengan dagingku'
'Aku tidak akan makan kecuali pahamu,' kata elang.
'Silahkan!' Jawab Musa As.
Lalu ia berkata, 'Bagus sekali wahai Kalimullah! Sesungguhnya aku adalah Jibril dan burung pipit itu adalah Mikail. Allah SWT mengutus kami berdua untuk menunjukkan kasih sayangmu kepada para malaikat sebagai jawaban atas ucapan mereka:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ ‌ - البقرة:٣٠
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Selasa, 1 Desember 2009

Minggu, 29 November 2009

JANGAN BERBANGGA ATAS KARUNIA

Kita bisa bersyukur mendengar keutamaan suatu amal, dan juga tidak perlu berbangga karena karunia yang ditujukan kepada diri atau golongan kita. Bonus atau ganjaran itu merupakan fasilitas untuk menegakkan perintah. Besarnya fasilitas dan kelebihan menunjukkan kelemahan seseorang.

Kalau kita melihat tentara dengan persenjataan lengkap bukan berarti ia adalah perkasa, tapi justru karena ia lemah menghadapi medan pertempuran, maka ia mesti dipersenjatai dengan lengkap. Fasilitas yang dituntut anggota Dewan Perwakilan Rakyat (yang dianggap terlalu besar bagi masyarakat umum) juga bisa menunjukkan kelemahan mereka sehingga mereka amat membutuhkan nilai tunjangan tersebut dalam menjalankan tugas. Terkadang kita mesti melihat dengan 'cara berbeda' terhadap kelebihan-kelebihan atau anugerah yang diperoleh seseorang. Jika kita melihat atau mendengar karamah seseorang, kita pandang bahwa ia mesti diberikan karunia itu untuk mempertahankan keyakinannya. Tidak jarang terjadi orang yang mendengar cerita karamah menjadi naik keyakinannya melebihi persentase keimanan orang yang mengalaminya.

Kalau kita simak kembali alur cerita diturunkannya perintah (kewajiban) sholat, maka kita akan mendapatkan keterangan bahwa sesungguhnya jumlah sholat yang hendak diwajibkan kepada umat Muhammad Saw adalah 50 waktu, tapi karena kelemahan umat akhir zaman ini maka Beliau Saw memohon 'keringanan' sehingga berkuranglah menjadi 5 waktu melalui 9 kali proses dispensasi Ilahiyyah. Tapi ternyata, dengan melaksanakan sholat 5 waktu itu sebanding pahala orang yang melaksanakan sholat 50 waktu.

Keliru rasanya jika kita berbangga dengan keistimewaan atau keutamaan sholat 5 waktu yang sama dengan sholat 50 waktu. Padahal keutamaan itu lahir karena kelemahan diri kita sebagai umat akhir zaman. Sikap yang semestinya dimunculkan adalah rasa bersyukur dengan keutamaan itu karena kelemahan diri.

Sekarang kita tengok Tarekat Idrisiyyah. Kalau dibandingkan dengan Tarekat lain, awrad yang diwajibkan atas murid-murid begitu simple (sederhana). Persyaratan menjadi murid begitu mudah, tidak melalui test atau ujian seleksi terlebih dahulu. Ajarannya tidak menganjurkan khalwat (berdiam di kamar yang sunyi) selama 40 hari. Atau mesti mengikuti ke mana pun Gurunya pergi, karena seorang murid Sufi mesti sekampung atau semajelis dengan Gurunya terus menerus. Banyak rukhshah yang dilaksanakan, sementara Tarekat lain banyak yang menekankan 'azimah (pelaksanaan ketat terhadap ibadah wajib dan mengurangi rukhshah).

Namun kelebihan apa yang sering kita dengar dalam menapaki Tarekat ini? Barang siapa mengekalkan awrad Fi Kulli Lamhatin 300 kali setiap hari, maka ia dapat mengejar keimanan (keyakinan) para sahabat Nabi Saw[liyusbiqul awaa-il]. Melihat Wajah Gurunya atau bersalaman saja berguguran dosa-dosanya. Dan banyak lagi lainnya.

Tidak ada yang bisa kita banggakan atas diri kita yang lemah ini atas keterangan itu sementara melaksanakan kewajiban awrad sehari-hari saja masih kedodoran (malas). Dengan banyaknya keutamaan itu bukanlah kita mau menafikan atau tidak mempercayainya, tapi di balik rasa syukur atas keutamaan itu sebenarnya mesti menimbulkan rasa malu yang mendalam, karena kita yang lemah dan sering melakukan dosa ini merasa tidak pantas menerimanya. Kita tidak perlu berbangga dengan bonus pahala dan tingkatan derajat di syurga yang dijanjikan, karena tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan saat ini. Mungkin pemberian itu pantas diberikan untuk kita lantaran kelemahan jiwa yang mesti ditopang oleh motivasi ganjaran dan pahala tersebut. Akhirnya, kita hanya bertugas menjalankan dan mengamalkannya saja, tidak perlu mengkaji masalah takdir keutamaan itu terlalu dalam sehingga melupakan apa yang semestinya kita lakukan.

Lq, 24 November 2009.

Kamis, 12 November 2009

PENGARUH PAKAIAN DAN AURAT WANITA TERHADAP KEHIDUPAN

Berbicara masalah dunia pria tidak lepas dari masalah dunia wanita. Betapa banyak peristiwa besar yang terjadi di dunia ini karena peran dan keberadaan wanita. Para Nabi dan Shalihin dahulu pun banyak yang diuji karena wanita. Hingga kini kasus besar yang melanda negeri kita (mengenai perseteruan KPK – Polri – Kejaksaan) berawal dari masalah wanita.

Menyentuh kehidupan wanita, erat kaitannya dengan pembicaraan masalah aurat. Wanita dan auratnya ternyata menjadi pemicu yang ampuh dalam menciptakan skenario fitnah yang terjadi di mana-mana. Awal terjadinya peperangan pertama di zaman Nabi Muhammad Saw adalah disebabkan karena masalah aurat wanita, sebagaimana diriwayatkan dalam suatu hadits,

Ibn Hisyam mengisahkan, ketika itu, seorang wanita Muslimah datang ke pasar Bani Qainuqa' (kaum Yahudi) dengan membawa perhiasan. Ketika ia sedang duduk menghadapi tukang emas, sejumlah Yahudi berusaha melihat muka si Muslimah, namun wanita muslimah menolak (Kisah lain menyebutkan, Yahudi di situ juga berusaha mencopot jilbabnya). Diam-diam, seorang Yahudi datang dari belakang dan mengikatkan ujung baju si muslimah pada sebatang pengikat. Ketika berdiri, tampaklah aurat muslimah. Mereka beramai-ramai menertawainya, dan wanita itu menjerit-jerit.

Seorang laki-laki Muslim yang lewat disitu segera menerkam tukang emas Yahudi dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi lain berdatangan dan membunuh Muslim tersebut. Segera Nabi Muhamad SAW mendatangi Yahudi Bani Qainuqa' dan mengingatkan mereka, agar memelihara perjanjian damai yang sudah disepakati. Jika tidak, ancam Nabi, maka mereka akan mengalami nasib seperti kaum Quraisy yang kalah dalam Perang Badar. Ancaman Nabi SAW itu malah dilecehkan. Mereka katakan, "Hai Muhammad, jangan kau tertipu karena kau sudah berhadapan dengan suatu golongan yang tidak punya pengetahuan berperang sehingga engkau mendapat kesempatan mengalahkan mereka. Tetapi, kalau sudah kami yang memerangi kau, niscaya akan kau ketahui, bahwa kami inilah orangnya."

Maka tidak ada pilihan bagi Nabi SAW kecuali memerangi mereka. Setelah dikepung selama 15 hari, Yahudi Bani Qainuqa' menyerah. Seluruh Bani Qainuqa' diusir dari Madinah, dan kemudian mereka menetap di daerah Syam (Syiria).

Dari cerita ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa wanita muslimah pada masa Nabi Saw mengenakan penutup wajah, sehingga orang-orang Yahudi dalam cerita dikisahkan penasaran ingin melihat wajah wanita muslimah. Wajah wanita merupakan pintu fitnah yang mengakibatkan masalah menjadi lebih besar. Kedua, masalah aurat bagi wanita bukanlah masalah yang sepele dan mendapatkan tempat perhatian yang tinggi dan serius dalam ajaran Islam.

Isu yang cukup sensitif berkenaan dengan masalah aurat wanita ini berulang pada masa sekarang. Hanya saja, temanya menjadi seolah terbalik. Kalau dahulu peperangan disebabkan karena aurat wanita muslim dibuka paksa oleh kaum Yahudi, sekarang ‘kemarahan’ dipicu oleh ketidaksenangan pihak yang telah diganggu kebebasannya dalam mengumbar aurat yang dikatakan sebagai kebebasan berekspresi, Hak Azasi Manusia, dan sebagainya. Malah, orang yang sebenarnya ingin mengenakan busana muslim dengan benar, diintimidasi dan dibatasi geraknya oleh kekuasaan negara atau komunitas sosial yang dibentuk dari kekeliruan yang selalu diopinikan masyarakat.

Zaman yang mengasingkan nilai-nilai keislaman telah diisyaratkan oleh Nabi Saw, dan kini kita tidak menyadari bahwa banyak orang telah mengasingkan keberadaan nilai-nilai Islam dalam aturan berbusana. Sehingga keluarlah ungkapan bahwa orang yang berghamis dan bercadar adalah identik dengan kelompok garis keras atau teroris. Mereka tidak mengatakan "Para Teroris itu penampilannya mirip orang Islam!" Inilah bukti bahwa umat Islam sudah merasa asing dengan kehadiran atribut fitrah Islami. Bahkan intelektual muslim sekaliber Dosen atau Rektor Al-Azhar sendiri tidak mampu atau berani memutuskan dengan jelas bahwa Cadar merupakan bagian nilai ajaran Islam. Tapi mereka (dengan sangat hati-hati) menudingnya sebagai produk budaya Arab masa lalu.

Kalau alasan budaya selalu dikemukakan untuk menghindar dari aturan Islam, maka seharusnya bahasa Arab tidak perlu dipakai lagi dalam peribadatan muslim, karena bahasa itu sendiri merupakan produk budaya, dan selalu berubah-ubah serta berkembang makna dan fungsinya. Maka dari itu Islam mengenal istilah 'Sunnah' yakni kebiasaan, adat, tradisi , budaya yang bersumber dari apa yang dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para Pewarisnya. Apapun yang dilakukan oleh para Nabi (meski terkesan usang) adalah Uswah (teladan) kehidupan yang mesti kita ikuti. 'Sunnah' dalam hal ini bukan lagi menjadi perdebatan dalam kerangka budaya atau bukan, tapi tuntunan yang mutlak dipatuhi dan dikerjakan. Firman Allah: "Wamaa aataakumur Rosuulu fakhudzuuhu wamaa nahaakum 'anhu fantahuu" ["Apa yang didatangkan Rasul kepada kalian ambillah, dan apa yang dilarangnya jauhilah!"]. Q.S. al-Hasyr: 7.

Selasa, 20 Oktober 2009

Keberkahan setelah Menikah

Adalah suatu hal yang membahagiakan bagi seorang lajang saat mendapatkan pasangan pujaannya. Hal ini juga dialami oleh seorang murid yang mendapatkan calon istri dari daerah Garut. Di tempat istrinya itu dilangsungkan acara akad nikah, dan dihadiri oleh kedua keluarga besar mempelai. Saat itu selama 7 bulan lebih daerah tersebut mengalami kekeringan dan belum tersiram hujan. Menjelang akad nikah itulah terjadi suatu keajaiban.

Malam hari sebelum esok dilangsungkan akad nikah, datanglah hujan. Namun hujan itu hanya berlangsung selama 5 – 10 menit saja. Pagi hari Syekh al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan beserta rombongan dari pesantren datang ke tempat acara, menjenguk muridnya yang sedang melangsungkan pernikahan tersebut.

Tiba-tiba kran air di kamar mandi mengucurkan air yang deras setelah sekian lama tidak berfungsi. Mata air di sumur yang dahulu kering, sehingga alat penyedot semacam sanyo atau jet pump tidak mengeluarkan air, keluar kembali. Semua penampungan air berupa bak dan tangki terisi penuh. Empang yang sudah lama kering bisa terairi kembali.

Hingga kini sudah genap setahun kejadian itu air masih mengalir di rumahnya. Anehnya, tetangga sekitarnya tidak mengalami anugerah seperti yang didapat keluarga ini. Mereka tetap menggunakan sungai, untuk mandi dan keperluan lainnya sebagai air bersih sehari-hari.

Hal ini, menurut penuturan si murid, karena keberkahan karamah Syekh al-Akbar yang datang menginjakkan kakinya di rumahnya saat pernikahannya setahun yang lalu.

Kamis, 15 Oktober 2009

Kamis, 15 Oktober 2009

Cerita Kesurupan (Kemasukan) Jin

Dalam beberapa hari saya mendengar 2 cerita orang kemasukan Jin. Yang pertama, seorang murid dari Jawa Timur yang menjenguk kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Di rumah sakit ia mengalami kesurupan, dan berbagai upaya telah dicoba tapi tidak berhasil. Hingga adiknya datang membimbingnya berdzikir. Kakaknya dijenguk oleh seluruh kerabat dekatnya, tapi dalam pandangannya tidak semuanya hadir. Beberapa wajah dilihatnya kabur (tak berbentuk).

Jin pertama yang masuk ke tubuh kakaknya adalah jin yang agak lembut, sehingga ketika adiknya berabithah 'Madad Syekh Akbar!' maka keluarlah jin tersebut. Karena seringnya ia mengucapkannya di rumah sakit, beberapa pasien dan penjaga rumah sakit berkata, 'Wah, jinnya takut sama Pak Akbar ya?!' Si Satpam juga berkata, 'Saya kasih dong baju putihnya (ghamis, red) biar saya bisa ngusir hantu atau jin!' Si murid hanya mesem mendengarnya.

Tapi setelah itu datang lagi jin lainnya, yang lebih sulit mengatasinya. Si jin tidak mau keluar dari tubuh kakaknya. Sebagaimana sebelumnya, kakak yang kemasukan jin ini mengeluarkan suara asing, kadang laki-kadang perempuan. Begitu dibaca Surat Yasin dan dzikir, si jin meledek, 'Ayo! Teruus! Siapa yang kuat ayo! Baca apa lagi? Paling-paling Yasin sama ayat Kursy! Saya tidak takut!'

Dulu juga pernah ada seorang murid yang mempunyai adik kemasukan jin, kemudian dibacakan Surat Yasin atasnya (berharap kesurupannya hilang). Si jin menyahut, 'Bacanya salah tuh! Emangnya saya gak hafal Surat Yasin! Makanya sebelum baca belajar dulu yang bener! Tajwidnya aja belum becus mau bacain Yasin untuk saya!' Cerita ini membuat geli yang mendengarnya. Kejadian itu pun akhirnya berhasil diatasi berkat karamah Syekh al-Akbar.

Berikutnya adalah dari seorang murid di Sumatera, yang mengisahkan bagaimana karamah Syekh al-Akbar ia rasakan bersama keluarganya. Ceritanya, di kampung yang agak jauh dari kediamannya pernah terjadi peristiwa kesurupan masal. Seluruh dukun, paranormal, Ustadz, serta orang pintar telah berupaya untuk mengatasinya. Namun upaya itu tidak juga membuahkan hasil. Jin yang memasuki raga tubuh anak-anak berusia remaja itu tidak juga beranjak dari tempatnya.

Sang jin mengaku bahwa ia adalah penghuni wilayah itu sejak lama, sudah 250 tahun yang lalu sebelum orang-orang tinggal di tempat tersebut. Oleh karenanya ia tidak mau menerima jika ia diganggu, apalagi disuruh meninggalkan tempat yang sudah ditempatinya sejak lama.

Si murid ini mempunyai anak yang sering berinteraksi dengan alam ghaib. Anaknya yang sering menjumpai atau melihat peristiwa ghaib ini mencoba untuk mengobati kawan-kawannya itu. Lalu begitu ia berusaha mengeluarkan penghuni ilegal dari tubuh anak-anak yang kesurupan, yang terjadi malah jin yang ada semuanya berpindah ke tubuh anak ini. Mendengar anaknya termakan oleh kejadian kesurupan tersebut, sang ayah mendatangi tempat kejadian. Ia tidak mengerti harus melakukan apa. Yang diingat bahwa ia pernah membaca buku 'Dialog dengan Jin Muslim', karangan Muh. Isa Dawud, yang terkenal itu. Di dalamnya ada sebuah kaifiyat (cara) bagaimana mengatasi peristiwa yang semacam ini. Lalu diperintahkan beberapa ustadz untuk melakukannya, tapi sekali lagi sia-sia. Bacaan Quran semacam Yasin dan ruqyah lainnya tidak berhasil mengeluarkan sang jin dari raga korban.

Akhirnya, ia mengambil buku Hadiqah Riyahin, yang di dalamnya memuat foto Syekh al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan. Buku tersebut yang memperlihatkan gambar Syekh al-Akbar langsung dihadapkan ke wajah orang yang kesurupan itu.

Yang kesurupan berteriak, 'Jangaan! Jangaan dekati saya, saya kapook!'

Si murid berkata, 'Kalau begitu kamu keluar dari tubuh anak ini!'

'Aku tidak mau!' si jin tidak mau mengalah.

'Kalau begitu rasakan saja sendiri!' Kata si murid sambil menyodorkan buku kembali.

'Yaa, baiklah. Saya mau keluar, tapi saya mau orang-orang yang telah bertindak kurang senonoh di kampung ini dikumpulkan semuanya! Saya mau mengambil kesepakatan' pinta sang jin.

Akhirnya orang-orang berkumpul mendengarkan celotehan si Jin. Satu per satu keadaan orang-orang yang ada di hadapannya dikemukakan. Salah satunya adalah seorang pemuda, katanya 'Nah, kamu ini suka pacaran dan sering berduaan di gudang kosong dekat pos. Tolong jangan kamu ulangi lagi!' Si pemuda meminta maaf kepada pemuka warga setempat dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.

Setelah terjadi kesepakatan kedua belah pihak, bahwa penghuni kampung tidak mengganggu dan membuat perbuatan-perbuatan yang tidak pantas, maka si Jin pun bersedia keluar dari raga anaknya itu.

Si jin sempat berkata kepada si murid Idrisiyyah, 'Anak kamu itu, kurang ajar sekali sama saya. Masak ia panggil-panggil Guru Bapaknya. Saya kan jadi takut!'

'Emangnya kenapa, kamu kok takut?' tanya si murid.

'Bagaimana saya gak takut, dia tingginya sebesar pohon kelapa. Saya dikejar-kejar olehnya! Saya kapok!'

Pembicaraan ini menutup kisah kesurupan yang berlangsung selama 2 hari 3 malam. Si murid bertambah keyakinan kepada Gurunya yang juga mempunyai peran sebagai pembimbing dan pelindung alam ruhani bagi murid-muridnya.

Jakarta, 13 Oktober 2009.


Jumat, 09 Oktober 2009

Gak Nyambung

Ceritanya dulu ada murid yang melanglang buana entah ke mana setelah diangkat menjadi murid Idrisiyyah. Eh, tau-tau nongol lagi pada saat acara Pekan Santri. Lalu ia pun menceritakan pengalamannya selama ini. Ia merasa menjadi murid Idrisiyyah itu nikmat dan mudah sekali.
'Untuk menyelesaikan wirid aja gak perlu berjam-jam. Maka saya selama beberapa tahun ini gak pernah meninggalkan wirid sehari pun!' ia memulai pembicaraan.
'Emangnya Bapak berapa lama sih menuntaskan awrad semuanya selama ini!' tanya murid lain yang menimpali.
'Ah, guampang bener! 5 menit juga udah selesai!' Jawabnya rileks.
'Yang Bener Pak?' tanya kawannya terheran-heran.
'Kalau saya aja yang udah lama jadi murid kira-kira 1 jam kurang dikit untuk menyelesaikannya' sahut rekan di sebelahnya.
'Emang gimana kiat (cara)nya Pak agar membaca wiridnya bisa secepat itu?' tanya yang lain penasaran.
'Kok, bingung amat. Semenjak saya ditalqin, kan dzikir yang mesti dibaca itu pertama, membaca Quran 1 Juz, kedua Istighfar 100 kali, Dzikir fi kulli lamhatin 300 kali, sholawat Ummy 100 kali, Yaa Hayyu Yaa Qoyyuum 1000 kali, dan terakhir Taqwa kepada Allah. Mudah kan?! Menyebutnya paling gak ada 1 menit!'
Mendengar ucapan Bapak itu menjadi tertawalah murid-murid yang disampingnya. 'Lho, kenapa tertawa? Apa yang lucu?' tanya si Bapak keheranan.
'Ya, lucu dong Pak. Gimana gak lucu. Bapak salah mengamalkan wiridnya!'
'Yang bener, wiridnya bukan cuma disebut judulnya doang, tapi bacaan seluruhnya juga dibaca!' Anak kecil juga bisa kalau nyebut begitu doang!'
Gerr
, semuanya tertawa dan si Bapak melongo hampa.

Jadi, selama bertahun-tahun si Bapak salah cara mengamalkan wiridnya.

Jakarta, 8 Oktober 2009

Kamis, 01 Oktober 2009

Iblis Tidak Mau Berwasilah

Tanpa disadari bahwa orang-orang yang meremehkan wasilah itu menyerupai perilaku Iblis La'natullah 'alaih. Peristiwa tidak maunya Iblis bersujud kepada Adam As. adalah bukti enggannya ia berwasilah dalam penghambaannya kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Iblis menginginkan ibadah langsung kepada Allah tanpa perantara. Tapi Allah SWT justru menginginkan lain. Dia menjadikan para Utusan-Nya sebagai sarana dan bukti kecintaan seseorang kepada-Nya. Dalam syahadat Dia senantiasa menyandingkan Nama-Nya dengan para Utusan-Nya. Allah SWT menghendaki manusia mencintai para Utusan-Nya jika mereka mengaku cinta kepada-Nya. Bahkan cinta kepada para Utusan-Nya itu perlu bukti dengan taat (turut) kepada mereka. Tidaklah Allah menyatakan 'Jika kalian cinta kepada-Ku maka cintailah para Utusan-Ku (Fatahibuunii), tapi Allah berfirman: 'Qul inkuntum tuhibbuunallaah fattabi'uunii' [Katakanlah (wahai Utusan-Ku), jika kalian mencintai-Ku maka ikutilah Aku!]. Cinta itu dibuktikan dengan menuruti para Utusan-Nya. Dan itulah yang tidak diperbuat oleh Iblis kepada Adam As.

Seolah-olah Iblis berprinsip benar, bahwa ia menginginkan Tauhid yang murni, yang tidak ada sesuatu yang lain dalam ibadahnya melainkan Allah. Ia ingin beribadah hanya kepada Allah tanpa ada bayangan lain yang membuatnya menyekutukan-Nya. Banyak orang yang bermakrifat terjebak dengan pola pikir seperti ini.

29 September 2009

Senin, 21 September 2009

Berjumpa Syekh al-Akbar Muhammad Dahlan Qs.

Beberapa waktu setelah cerita ini sampai kepada penulis, seorang murid dari daerah Maluku bercerita tentang sahabat di kampungnya. Ia mengungkapkan suatu cerita yang membuat merinding bulu kuduknya. Betapa tidak, sahabatnya itu pernah bertemu dengan Syekh al-Akbar Muhammad Dahlan Qs. yang telah wafat 8 tahun yang lalu. Ceritanya adalah sebagai berikut,
Suatu hari ia kehilangan Hp kesayangannya. Ia telah mencarinya ke mana-mana, namun tak kunjung ketemu. Di tempatnya ada tempat kos-kosan (kontrakan) berlantai dua. Ia mencoba mencari tahu tapi semua penghuni kontrakan menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak mengetahuinya. Dengan rasa penasaran (karena merasa Hp yang ia miliki itu berharga baginya) malam-malam ia mondar-mandir mencari inspirasi di mana terakhir ia meletakkan Hp-nya. Tiba-tiba di depan kos-kosan lewat seorang Bapak Tua mengenakan sarung, berkaos dalam warna putih dan berkopiah putih, langsung menanyakan apa yang sedang ia lakukan. Setelah dijawab bahwa ia telah kehilangan sesuatu barang berharganya, si Kakek itu berkata, 'Yang mengambil Hp kamu itu adalah teman kamu yang kamarnya ada di lantas atas. Ciri-ciri pintunya adalah begini-begini!' Setelah itu si Kakek pamit pergi, dan tidak pernah ketemu lagi hingga kini.
Lanjut cerita, sepeninggal Kakek misterius tadi, keesokkan harinya ia mencoba menyelidiki apa benar yang diungkapkan si Kakek tadi malam. Dan ternyata apa yang diceritakannya itu benar. Kawannya sendirilah yang mencuri barang yang disayanginya itu.
Selanjutnya, keesokan hari ia bercerita kepada keluarga murid yang menjadi tetangganya. Ia masuk ke dalam rumahnya. Betapa kagetnya, setelah ia melihat foto seseorang yang ada di ruang tamu tetangganya itu. Foto itu adalah foto Syekh al-Akbar Muhammad Dahlan Qs, yang dikirim oleh adik tetangganya (murid Idrisiyyah) dari Jakarta. Sebagaimana diektahui pada beberapa tahun yang lalu sempat terjadi kerusuhan Ambon yang menelan banyak korban. Suasana yang mencekam keluarga murid yang berada di Ambon tersebut membuat keluarganya mencari cara apapun untuk berlindung dari peristiwa mengerikan waktu itu. Dan atas anjuran adiknya foto tersebut dipajang di ruangan tamu untuk menambah keberkahan dan perlindungan rumah.
Singkat cerita, orang yang kehilangan Hp itu begitu semangatnya mengungkapkan bahwa Kakek yang ia temui waktu itu adalah orang yang berada di foto rumah tetangganya itu. Meski saat ia temui tidak mengenakan surban dan berghamis, tapi ia tidak pernah lupa akan wajahnya. Wajahnya selalu terbayang di pelupuk matanya, dan ia tidak akan lupa atas wajah orang yang telah menolongnya itu.
Tetangganya mencoba mengingatkan kembali mungkin apakah ia salah lihat, mungkin sosok lain yang ia temui. Namun ia tetap bersikeras atas pendiriannya bahwa orang yang ia lihat adalah seperti yang ada di foto. Cerita ini pun akhirnya membuat kaget adiknya di Jakarta, yang tak lain adalah seorang murid Idrisiyyah yang menganjurkan foto Syekh al-Akbar itu dipasang di dalam rumahnya sejak kerusuhan dulu.
Benarlah firman Allah yang menyatakan, 'Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang wafat di jalan Allah itu mati, tetapi ia hidup dan diberi rizki dari sisi Allah'. (QS. Ali Imran: 169)
Hikmah cerita ini bukanlah semata-mata mengungkapkan kehebatan seseorang menolong orang yang kehilangan Hp, lebih dari itu pengetahuan yang sangat penting untuk dipahami adalah di dalam kehidupan ini ada orang-orang yang disucikan Allah yang masih menjalankan misi atau tugas dari Allah 'Azza wa Jalla. Mereka memantau perilaku dan perjalanan kehidupan manusia. Bagi seorang murid, cerita ini membuat yakin bahwa Gurunya adalah betul-betul Murobbi Ruh yang begitu nyata dengan peristiwa ini. Hanya saja, bimbingan itu kebanyakan tidak disadari karena kedhaifannya.
Dalam terminologi tasawuf, para Awliya yang masih dapat dijumpai dan berkeliaran di muka bumi padahal ia sudah dianggap telah wafat, disebut dengan 'Rijalullah atau Rijalul Ghaib'. Dan hanya orang-orang tertentu yang dikehendaki-Nya dapat bersua dengan mereka. Mereka hidup dalam dua dimensi kehidupan yang tak terjangkau oleh orang-orang yang hidup saat ini. 'Ibaadallaah Rijaalallaah Aghiitsunaa bifadhlillaah! Wallaahu A'lam wa 'Ilmuhu Atamm.
15 September 2009.

Selasa, 01 September 2009

Malam 17 Ramadhan Lailatul Qadar


Malam Lailatul Qadar banyak ditunggu orang, tapi dirahasiakan waktunya oleh Allah. Sebuah cerita dari seorang murid yang didatangi oleh 3 Syekh al-Akbar menceritakan bahwa malam Lailatul Qadar tahun ini jatuh pada malam 17. Mimpi itu terjadi berulang hingga 3 kali. Di akhir mimpi itu Syekh al-Akbar menyuruh murid untuk menginformasikan berita itu kepada yang lain. Berita ini kemudian disampaikan kepada Syekh al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan Ra. Beliau hanya terdiam. Di saat itu Isteri Beliau mengingatkan bahwa sebelum Ramadhan Syekh al-Akbar pernah mengungkapkan bahwa malam Lailatul Qadar tahun ini jatuh pada malam 17 Ramadhan. Hal itu disampaikan pada waktu acara Pekan Qini di Ponpes Tasikmalaya.

Murid yang bermimpi ini pun menceritakan informasi Lailatul Qadar ini kepada isterinya yang berada di Tasikmalaya. Dan sang isteri menjawab, 'Saya sih udah tahu. Kan Syekh al-Akbar sudah memberitahukan sebelum Ramadhan sewaktu Qini (PQN, red)! Memang Abi (ayah) gak tahu?'

Informasi keduanya terangkum sudah. Yang satu mendapatkannya dari isyraqiyyah (ruhani), dan yang satu lagi berasal dari informasi langsung dari Syekh al-Akbar sewaktu Taushiyyah.

Berita ini kemudian berkembang dan disampaikan kepada seorang murid. Maka serta merta murid tersebut kaget. Sebab ia teringat kisahnya pada masa dahulu. Dulu, sewaktu ia masih aktif di pengajian masjid, ia sempat menghadiri perayaan malam Nuzulul Quran pada tanggal 17 Ramadhan. Ia teringat kondisinya masih sarungan ke masjid waktu itu. Di tengah meriahnya acara tersebut ia merenung, 'Mengapa malam Lailatul Qadar tidak terjadi pada malam Nuzulul Quran?' ucapnya dalam hati. Maka tiba-tiba datanglah cahaya ruhani Syekh al-Akbar Muhammad Dahlan Qs. menghampirinya, dan berkata, 'Nanti suatu saat di Idrisiyyah akan mengalami malam Lailatul Qadar terjadi pada malam Nuzulul Quran (malam 17), dan kamu akan mengalaminya!' Peristiwa itu terjadi pada tahun 2003.

31 Agustus 2009

Senin, 10 Agustus 2009

ASPEK IMAN

Pengertian Iman
Dari segi bahasa kata ‘Iman’ (إيمان) itu mempunyai akar kata yang sama dengan ‘Aman’ (أمان). Artinya jika seseorang beriman kepada sesuatu (seseorang) maka ia akan berharap memperoleh rasa aman dari yang diimaninya itu. Seperti ia merasa was-was membawa atau menyimpan uang di rumah, kemudian ia memutuskan ‘beriman’ (memberikan kepercayaan) kepada sebuah Bank untuk mengamankannya.
Dalam kehidupan kita, sering kita memberikan sikap percaya kepada pihak lain untuk menangani masalah yang tidak sanggup kita lakukan. Pada saat kita naik bis, sebenarnya kita sudah beriman (percaya) kepada supir untuk membawa kita kepada tempat yang kita tuju. Sedangkan apapun resiko perjalanan, seperti menghindari macet, kondisi mesin, cuaca, dsb. kita percayakan kepada supir untuk mengaturnya.
Banyak aspek kehidupan yang mengandung wilayah spekulasi, remang-remang, ketidaktahuan, harapan rugi-untung, telah dilakukan kebanyakan orang. Karena segala sesuatu itu memiliki resiko untung atau rugi, bisa salah atau benar, dan seterusnya.1 Demikianlah tinjauan pengertian kata iman, dalam konteks yang umum.
Dalam Al-Quran-pun ternyata pengertian iman tidak hanya diorientasikan kepada keimanan kepada Allah saja, namun ada juga disinggung ‘keimanan kepada berhala’. Artinya konsep keimanan itu tidak hanya berlaku kepada nilai-nilai yang positif tapi juga dapat digunakan pada nilai-nilai negatif.
Al-Quran juga banyak menyebutkan bahwa keimanan itu tidak hanya ditujukan kepada Allah saja, tetapi tetapi juga menyangkut keimanan kepada Utusan-Nya. Hal ini menunjukkan aspek keimanan dalam pelaksanaannya bukan ditujukan mutlak kepada Sang Khaliq, tetapi juga kepada ‘Petugas-petugas-Nya’ dalam Birokrasi Ilahiyyah.
Secara kualitatif nilai keimanan itu ada 2 (dua), yakni keimanan yang benar dan salah. Keimanan yang benar bisa terjadi 2 (dua) kemungkinan pula, jika yang diimani itu benar atau salah. Sebagai contoh dari birokrasi insaniah, adalah kalau kita iman (percaya) pada calo tenaga kerja yang tidak mendapatkan letigimasi formal perizinan dari pihak berwenang, berarti kita mempercayai sesuatu yang salah walaupun kita sungguh-sungguh mempercayainya.
Pada dasarnya dalam kehidupan ini manusia membangun iman dalam berbagai aspek kehidupan. Berbagai iklan-iklan, informasi, bahkan pengetahuan dari berbagai urusan produk barang, politik, budaya dan ideologi, menunjukkan bahwa setiap manusia ingin membangun keimanan dan kepercayaan masyarakat luas pada dirinya.
Ada keimanan atas kehidupan dunia, dan keimanan atas kehidupan akhirat. Namun keimanan yang realistis benar adalah dengan Yang Ghaib, yu’minuuna bil ghoib, bukan bersifat lahir. Keimanan yang tidak benarlah yang sangat sulit menerima keberadaan Birokrasi Ilahiyyah, seolah-olah mereka mampu membebaskan diri dari Birokrasi Ilahiyyah. Mereka merasa merdeka, padahal hanya khayalan belaka. Kemerdekaan mereka dibelit oleh kebodohan dan rasa puas, serta manipulasi psikologis lainnya.2

Keimanan yang dimaksud
Dalam menghadapi masalah keimanan maka biasanya kebanyakan orang mengorientasikan pada masalah keagamaan saja, baik agama Islam atau agama lainnya. Al-Qur’an banyak mengungkapkan ayat-ayat yang menyebutkan masalah keimanan di antaranya Yaa ayyuhal ladziina aamanuu... (wahai orang-orang yang beriman!) Seolah-olah Allah mengajak manusia untuk menaruh kepercayaannya kepada Sang Khaliq. Walau Zat Allah Yang Sempurna tidak membutuhkan siapapun dari makhluk ciptaan-Nya itu.
Demikian kuat dominasi istilah keimanan dalam kehidupan beragama mengakibatkan orang-orang menyepakati ini sebagai masalah kebenaran. Padahal keimanan itu ada dua yaitu keimanan yang benar dan salah.
Masalah keimanan ini bukan saja masalah ubudiyah tapi juga masalah duniawi. Semua orang yang bekerja harus mempunyai keimanan bahwa dari pekerjaannya itu akan menghasilkan keuntungan. Jika orang tidak mempunyai keimanan bahwa pekerjaannya akan menghasilkan keuntungan, maka orang tidak akan mengerjakan pekerjaannya. Orang yang akan bertanding yang peluangnya 50%-50% maka mereka harus beriman akan kemenangan, karena jika tidak maka tidak ada pertandingan. Kalau mereka tidak beriman pada keimanan maka tidak ada pertandingan, dan salah satu pihak akan menyerah sebelum bertanding. Maka dengan demikian keimanan itu berada pada semua aspek dan urusan kehidupan.
Iman itu bersifat relatif, bisa benar dan salah. Maka keuntungan akan diperoleh pada iman yang benar, dan kerugian akan diperoleh pada keimanan yang salah. Dalam urusan ukhrawi dan ubudiyah akan mendapatkan jalan yang lurus jika keimanannya benar, sedangkan jika keimanannya salah maka akan menempuh jalan yang sesat. Dalam masalah keimanan menjalankan ibadah orang boleh saja khusyu’ dan menangis. Tapi tangisan itu bukan hanya klaim orang-orang yang menangis di masjid, tapi juga terjadi pada orang-orang yang beribadah di gereja, kuil, bahkan orang-orang Yahudi harus menangis di tembok ratapan. Bukan juga urusan peribadahan agama, tapi juga dalam urusan duniawi. Suporter sepakbola dapat menangis karena terlalu merasakan kegembiraan dan kekhusyu-an pada tim kesayangannya jika tim kesayangannya itu menang dalam pertandingan. Begitu pula dalam kekalahan timnya, mereka dapat menangis karena merasa kalah dan meratapi kekalahan tim kesayangannya itu. Jadi masalah keimanan dan kekhusyuan itu adalah masalah keyakinan yang relatif.
Di sinilah kita memerlukan kebenaran dalam agama, konsep dan kepemimpinannya untuk melimpahkan rasa keimanan dengan hakiki. Allah berfirman dalam Surat An-Nisaa’ ayat 125:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَه لله وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًاقلى وَاتَّخَذَ الله إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً النسآء: 124-125
Waman ahsanu diinam mimman aslama wajhahuu lillaahi wahuwa muhsinuw wattaba’a millata ibroohiima haniifaa, wattakhodzalloohu ibroohiima kholiilaa
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”
Siapa yang lebih baik agamanya, sistemnya, metodenya, tharikatnya, caranya, dari orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah?
Jika sudah sampai kepada pemahaman Birokrasi Ilahiyyah dan masuk di dalamnya, maka hal yang penting adalah ketundukan dan penyerahan diri dalam menghadap kepada Allah. Maqam ini lebih tinggi dari keimanan atau amal. Keimanan dan amal masih bersifat relatif, kedua hal itu bisa berorientasi pada keduniawian dan dirinya. Keimanan dan amal masih bisa menolak kewajiban dan larangan dari Allah SWT, sedangkan ketundukan dan penyerahan diri tidak mengenal kata relatif. Ketundukan tidak menolak kewajiban dan larangan dari Allah SWT. Dalam ketundukan dan penyerahan diri tersimpulkan ibadah total kepada Allah SWT.

Rabu, 05 Agustus 2009

Imam Asy-syatibi (Penulis Kitab Al-I’tisham) Membungkam Wahhaby

Pada Risalah ini dibahas mengenai fatwa-fatwa ahlusunnah dalam kitab Al-I’tisham (kitab yang membahas mengenai Bid’ah dan seluk beluknya) karya Imam Asy-Syatibi, karena pernyataan-pernyataan dalam kitab ini sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam yang mengaku-ngaku sebagai salafy (Wahhaby). Bagi mereka yang ingin membaca kitab al-I’tisham ini hendaklah membacanya dengan teliti dan hingga tuntas, jangan setengah-setangah.
Kitab tarjamah ini, Insya Allah dapat di Download :
http://www.scribd.com/doc/13441519/Al-Itisham-Imam-Syatibi
Beberapa hal yang dibentangkan berasal dari tarjamah kitab al-I’tisham, diantaranya adalah :

* Tassawuf Bukan Bid’ah (Kitab Tarjamah Al-I’tisham, Delik delik tasawwuf, halaman 237 )

* Mimpi Bertemu Allah atau nabi yang dapat dijadikan acuan untuk beramal (Kitab Tarjamah Al-I’tisham, halaman 308-310).

* Kewajiban Bertaqlid kepada imam Mujtahid dan haramnya Ber-ijtihad bagi orang yang bukan Mujtahid (Kitab Tarjamah Al-I’tisham, Halaman 879- 880)

* Aqidah Imam Ahlusunnah : Allah ada tanpa tempat dan arah! (dalam kitabnya berjudul Al-Ifadaat Wa Al-Insyadaat pada bilangan 11-Ifadah : Al-Isyarah Lil Baiid Bi Ismi Al-Isyarah Al-Maudhu’ Lil Qorib mukasurat 93-94)
(Kutipan: http://salafytobat.wordpress.com/)

Selasa, 28 Juli 2009

Sayid Abdur Rahman al-Mishri, Shahibul Misool Papua

Ketika saya diberitahu isteri saya mengenai sebuah acara tv yang menceritakan tentang keindahan sebuah pulau dan lautnya, disertai dengan adanya gua yang di dalamnya terdapat 2 buah makam, seketika itu hati ini menjadi penasaran. Di manakah tempat yang indah itu? Dan makam siapakah yang berada di dalam gua tersebut. Sungguh aneh, di tempat terpencil yang dikelilingi laut itu ada orang yang pernah hidup di sana. Bahkan ada tanda tanya besar, mengapa makamnya begitu dihormati sehingga dirawat dengan baik. Saya berusaha mencari di internet, tapi tidak juga berhasil. Biasanya saya gemar mencari buku-buku menarik (apalagi yang baru) tapi saat itu tidak ada waktu untuk datang ke toko buku.

Cerita ini akhirnya memancing kabar isyraqiyyah, yang menjelaskan itu semua. Ini merupakan anugerah yang ke sekian kali dari Murobbi Ruhina, Guru kami Syekh al-Akbar sehingga terkuak rahasia yang belum terungkap dalam literatur manapun. Mudah-mudahan cerita ini banyak manfaatnya dan hikmah bagi ita semua.

Adalah Sayid Abdur Rahman bin Abdullah bin Alwi al-Mishri, seorang kelahiran Mesir yang merantau jauh dari Negeri asalnya hingga mengabdikan akhir hidupnya di daerah terpencil di ujung Timur kepulauan Nusantara ini.

Beliau berperawakan tinggi (tapi tidak terlalu tinggi), berambut ikal, kulitnya kemerah-merahan. Jarang mengenakan imamah (surban) karena Beliau lebih senang menutup surban di atas kepalanya saat khalwat atau berdzikir. Beliau Ra. jarang sekali membawa perbekalan makanan saat melakukan khalwat atau berpergian ke suatu tempat. Ia tidak merasa khawatir dengan makanan, justru seolah makanan menghampirinya dengan berbagai sebab. Dengan kata lain, ia lebih memilih tawakkal dalam perjalanannya.

Sayid Abdur Rahman adalah orang yang memahami sya’ir, dan ahli balaghah, dan ini terbukti dari setiap tutur katanya yang indah dan tersusun. Dan memang Beliau merupakan orang yang menyukai keindahan.

Kisah ini berawal dari keberangkatan Beliau dari negeri Mesir, setelah melalui berbagai kunjungan ziarah Beliau ke beberapa Negara, di antaranya Al-Haramayn, Baghdad, Turki, dan sebagainya. Dan Beliau mempunyai kebiasaan berziarah ke berbagai tempat, berkelana ke berbagai negeri. Di tempat kelahirannya, Mesir, Beliau sudah berkeluarga dan memiliki sahabat. Semuanya Beliau tinggalkan, karena perintah Gurunya. Di akhir perjumpaan Beliau sesudah berkunjung dari Turki (sebelum berangkat merantau) Beliau mengadakan janjian untuk bertemu kembali, sahabatnya berkata, ‘Insya Allah, jika Allah takdirkan, kita akan bersua kembali’.

Menarik untuk diungkapkan bahwa Sayid Abdur Rahman ini adalah salah seorang murid Nabi Khidhir As. Dan melalui bimbingan Nabi Khidhir inilah Beliau diperintahkan suatu ketika untuk merantau ke negeri Jawi di wilayah Timur dalam rangka menyebarkan ajaran Islam. Salah satu kelebihan Beliau adalah saat ada khatir (kretek hati) ingin bersua Nabi Khidhir As, maka seketika datanglah gurunya tersebut tanpa penantian yang lama.

Sebelum Beliau mengetahui yang membimbingnya adalah Khidhir As., terdengar suara yang memerintahkannya untuk berangkat pergi ke negeri seberang jauh di wilayah Timur, tepatnya di daerah Jawi (dahulu belum ada nama Indonesia). Tempat itu adalah tempat yang terindah di dunia ini yang belum diketahui oleh manusia di muka bumi ini. Beliau kemudian bertanya, ‘Apakah ada tempat yang lebih indah di dunia ini daripada apa yang saya kunjungi selama ini?’ Jawab suara misterius itu, ‘Ada!’ Lalu Sayid Abdur Rahman bertanya, ‘Siapakah gerangan Anda ini?’ Maka dijawab, ‘Nanti, engkau akan mengetahuinya!’

Berbagai tempat yang pernah Beliau singgahi dan lewati adalah Kerajaan Samudera Pasai, Banten, Brunai, Ambon, hingga Beliau disampaikan kepada gugusan pulau yang dikelilingi laut yang luas. Saat Beliau sampai di tempat itu, Beliau berpendapat, ‘Belum pernah ada tempat yang seindah ini selama aku merantau ke mana-mana!’ Akhirnya, Beliau pun betah tinggal di sana hingga akhir hayatnya.

Sebenarnya pencarian Beliau terhadap tempat yang dimaksud itu mirip dengan apa yang dialami oleh Syekh Abdul Muhyi Pamijahan saat mencari tempat yang diisyaratkan Yang Ghaib pada dirinya. Syekh Abdul Muhyi menemukan tanda mengenai tempat yang dituju berdasarkan isyarat sebuah tangkai tumbuhan yang tumbuh becabang tiga apabila ditancapkan di tempat tersebut. Akhirnya Beliau menemukan gua Pamijahan sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir.

Lain halnya dengan Sayid Abdur Rahman, Beliau diisyaratkan oleh sosok ghaib akan sebuah tempat di daerah lautan yang menghampar hijau. Dari perjalanan Beliau melewati banyak tempat, singgah di pulau atau bandar yang satu lalu ke pulau yang lain kesemuanya diperhatikan satu persatu, dan tidak juga berhasil menemukan tempat yang dimaksud. Yang selalu dijumpai adalah pemandangan laut yang airnya berwarna biru atau coklat (keruh). Ia berlayar terus mengarah ke arah Timur wilayah Nusantara. Sesampainya di daerah kepulauan Misool, Beliau merasakan apa yang ia lihat persis dengan apa yang diisyaratkan kepadanya. Akhirnya Beliau gembira menemukan apa yang selama ini ia cari. Keindahan laut beserta jajaran pulau di hadapannya seolah baru muncul ke permukaan. Memancarlah keindahan tempat itu, membuat terpesona bagi siapapun yang melihatnya.

Konon, tempat itu lebih indah dari kepulauan Seribu yang berada di wilayah utara Pantai Jakarta dan Banten. Air lautnya berwarna hijau bening, pulau-pulaunya saling berdekatan satu dan lainnya sehingga dikatakan sebagai kepulauan.

Beliau berkata, ‘Kalau Laut Mati memiliki kadar garam yang tinggi, dan tempat yang saya diami ini memiliki nilai keindahan yang teramat tinggi. Benarlah, bahwa setiap makhluk ciptaan Allah itu memiliki kelebihannya masing-masing. Demikian indah ciptaan Allah ini, maka bagaimanakah Yang menciptakannya?’

Beliau berkata, ‘Kalau ada orang yang melihat pasti terbelalak matanya seperti melihat zamrud di atas ketinggian ‘Arasy. Maka aku tidak beranjak sekejap pun darinya, aku mengagumi keindahan ciptaan Allah dan aku menjunjung Kebesaran Penciptanya’.

‘Hanya Subhanallah yang wajib diungkapkan bagi yang menyaksikannya, ucapan Alhamdulillah bagi yang berpijak di atasnya, dan Allahu Akbar sebagai kesempurnaan atas apa yang aku terima, sebagai kesyukuran terhadap anugerah yang diberikan Allahu Ahad, Ash-Shomad. Kemudian Beliau melantunkan Asmaul Husna. Ditutup dengan alladzii lam yalid walam yuulad walam yakul lahuu kufuwan ahad, laysa kamitslihi syay-un wahuwas sami’ul bashiir.

Rupanya Beliau hidup semasa dengan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), karena secara historis sebelum Beliau sampai ke Misool, Beliau singgah terlebih dahulu ke Cirebon menjumpai Sunan Gunung Jati (yang juga berasal dari Mesir). Persinggahan itu sesudah Beliau mampir ke Palembang. Namun ada sebagian orang berpendapat pula bahwa Beliau pernah datang ke Indonesia sebelum Syarif Hidayatullah.

Beliau berasal dari keturunan Husain Ra. (sehingga diberi gelar al-Husaini). Konon keturunan Rasulullah Saw dari Husain Ra. ini kebanyakan berasal dari Yaman (Hadhramaut). Tapi Beliau berkata, ‘Aku bukan berasal dari Yaman,aku bukan Habib!’

Lalu Beliau mengisahkan asal muasal timbulnya istilah Habib. Bahwa dahulu kala Yaman itu merupakan negeri yang gersang. Hingga disebut Hadhramaut (tanah yang mati). Kemudian datanglah keturunan Nabi Saw ke tempat tersebut, yang disambut oleh para penduduk asli dengan kegembiraan, ‘Marhaban Yaa Habiibi,marhaban Yaa Habiibii!’ Maka disematkanlah istilah tersebut kepada keturunan Rasulullah setelahnya. Padahal istilah itu hanyalah bersifat majazi, dan yang sebenarnya al-Habib (Sang Kekasih) adalah Rasulullah Saw. Selanjutnya sebagai ungkapan kegembiraan, dikumandangkanlah syair, sholawat dan pembacaan Maulid disertai tabuh-tabuhan. Setelah itu muncul berbagai jenis Rawi Maulid seperti Ad-Diba’i, Simtud Durar, Adh-Dhiya’ul Lami’, dsb. Namun yang lebih awal dan utama menurut Beliau di antara Rawi Maulid yang ada adalah Rawi Al-Barzanji.

Beliau termasuk salah satu Rijalallah yang masih berkeliaran membantu dan membimbing umat manusia di muka bumi. Beliau datang kepada orang yang menyebut dan memanggilnya, namun tidak bagi yang tidak meyakininya. Sebuah hadits menguatkan akan adanya Rijalallah ini. Dalam sya’ir Ghautsiyyahnya Syekh Abdul Qadir al-Jaelani Q.S mengungkapkan, ‘Ibadallaah Rijaalallaah Agitsuunaa bifadhlillaah!’ [Wahai Hamba Allah, Petugas Allah, tolonglah kami dengan kemurahan Allah!’ Dan dalam Tarekat Al-Idrisiyyah (khususnya di Indonesia) biasa diungkapkan oleh sang murid dalam berbagai hal, ‘Madaad Syekh Akbar!’ Adalah hal yang menyerupainya.

Saya diberitahu alamat yang begitu lengkap mengenai wilayah dimaksud, yakni Kepulauan Misool. Makam Sayid tersebut berada di sebuah gua yang bernama Gua Keramat. Nama Pulaunya juga disebut sebagai Pulau Keramat, di daerah Pulau Harapan Jaya, Misool, Papua Timur. Data di internet menunjukkan bahwa tempat ini termasuk dalam wilayah Raja Ampat.

Dahulu wilayah ini masih menganut animisme, hingga datang perubahan keyakinan kepada Tauhid, sejak datangnya Sayid Abdur Rahman ke tempat ini. Setelah itu kebanyakan orang di wilayah kepulauan ini menganut agama Islam. Saat ini sudah banyak kaum pendatang yang berasal dari Ambon hingga Banten yang menetap di wilayah ini.

Makam Sayid Abdur Rahman terlihat bersih dan rapih, karena ada yang merawatnya. Tepat di atas makam Beliau ada lubang yang tembus ke langit, berbentuk seperti kubah. Pemandangan ini menambah keindahan suasana di dalam gua tersebut. Di sebelah makam tersedia dupa (pembakaran wangi-wangian) bagi penziarah.

Menurut orang kepulauan di sana, tidak sempurna hajat seorang pendatang sebelum datang berkunjung ke gua keramat, tempat bersemayam Sayid Abdur Rahman ini. Apabila tidak berziarah dahulu ke tempat ini, biasanya terjadi sesuatu hal yang menjadi penghalang atau tidak mulus kenginannya. Beliau berkata, ‘Aku tidak menyukai orang yang merokok saat berziarah kepadaku, dan wajib orang yang hendak berziarah denganku berwudhu terlebih dahulu. [Larangan merokok saat berziarah sama seperti apa yang diterapkan di makam Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, hanya saja di sana dibatasi pada wilayah tertentu saja] Namun demikian Sayid Abdur Rahman di sini tidak menyatakan keharamannya (mencegah orang yang masih merokok berziarah kepadanya).

Saya sempat bertanya martabat kewalian apakah yang disandang Sayid Abdur Rahman ini? Lalu dijawab, ‘Imamayni!’ (Tingkatan kewalian kedua setelah Sulthan Awliya, yang hanya ada 2 orang di setiap zaman). Beliau telah terbiasa melakukan riyadhah, dan menyukai tempat yang sunyi. Dikisahkan, Beliau Ra. sering mendatangkan hidangan dari langit lewat do’a yang diucapkan oleh Nabi Isa As sewaktu berada di hadapan kaum Hawariyyin. Do’a tersebut diberikan oleh Nabi Khidhir As kepada Beliau. Karomah Beliau ini bukanlah untuk kondisi terdesak (tertentu saja), tapi memang sudah ditetapkan mustajab atas Beliau untuk memintanya kapanpun.

Satu hal lagi yang tak lupa, rupanya sahabat Beliau yang berjumpa terakhir di Mesir itu bisa dipertemukan kembali dengan Beliau di sana, hingga keduanya dimakamkan di pulau tersebut. Sungguh, merupakan bukti kebesaran Allah yang memperjalankan para Kekasih-Nya sehingga bisa disampaikan kepada yang dimaksud meski hamba-Nya tersebut tidak berdaya menjalankannya. Bisa dibayangkan, dari Mesir hingga ke wilayah Timur kepulauan Nusantara yang berjumlah ribuan pulau, dan sekian ribu kilometer jaraknya, serta keterbatasan transportasi waktu itu, bisa mentautkan kembali sepasang sahabat yang sudah lama terpisah sekian tahun lamanya. Mereka bersahabat karena Allah! Rela meninggalkan negeri beserta orang-orang yang mereka cintai karena Allah untuk menegakkan syi’ar Agama Allah.

Sebelum cerita ini ditulis, sempat terbaca oleh saya sebuah kitab klasik yang menarik karangan Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah, seorang Ulama asal Andalus, Mufti dan Qadhi bermadzhab Maliki. Beliau merupakan salah satu murid Ibnu Rusyd (Averous) yang masyhur namanya. Kitab tersebut adalah Asy-Syifa’ bi ta’rifi Huquqil Mushthafa. Menurut Al-‘Allamah Ahmad Syihabuddin al-Khafaji yang membuat syarah (ulasan) atas kitab tersebut (Nasim Riyadh fi Syarhi Qadhi ‘Iyadh) menuturkan bahwa jika kitab tersebut ditemukan di dalam rumah, maka rumah itu tidak ditemui bahaya, dan perahu yang membawanya tidak akan tenggelam, jika orang sakit membacanya atau mendengarnya dibaca, Allah akan menyembuhkannya!’

Maka Sayid Abdur Rahman (tanpa saya menanyakannya) berkata, ‘Kitab Syifa itu dicetak di Maroko. Dan saya punya kitab tersebut!’ Dengan ungkapan ini saya menguatkannya dengan data histori pengarangnya, yakni hidup menuntut ilmu di dua negeri, yakni Maroko (Fez & Qairawan) dan Spanyol (Andalusia).

Saya bersyukur mendapatkan kisah yang unik ini dan belum pernah saya dengar, dan tak terlacak di internet atau sumber tulisan lainnya. Sebagai bukti kebenaran tentang cerita keindahan tempat tersebut, silahkan pembaca mengunjungi tempat tersebut. Penulis hanya melukiskan dalam bentuk kata tapi belum pernah ke sana. Dan sebelumnya belum tahu cerita yang rinci mengenai sosok Shohibul Misool, seorang Wali Allah yang tersembunyi di gua di tengah gugusan pulau. Cerita ini merupakan pancaran karamah Syekh al-Akbar Muhyiddin Syekh Muhammad Daud Dahlan, Qaddasallaahu Sirrahu wa Ruuhahu, semoga Allah mensucikan Ruh dan Sir Beliau.

Jakarta, 26 Juli 2009 / 4 Sya’ban 1430 H.

Minggu, 26 Juli 2009

10 Foto Galaksi Yang Menakjubkan

1. THE SOMBRERO GALAXY

2. BLACK EYE GALAXY

3. OCCULTING PAIR

4. THE WHIRLPOOL GALAXY

5. GRAND SPIRAL GALAXY

6. SUPERNOVA 1987A

7. GALAXY NGC 1512

8. GALAXY NGC 3370


9. M81



10. HOAG’S OBJECT

Sumber : http://oddee.com/item_96598.aspx



Ikan Kookpit Pesawat

Pada 23 Februari 2009, National Geographic News merilis gambar seekor ikan yang tergolong aneh. Pada bagian kepala ikan tampak transparan sehingga terlihat bagian dalamnya. Sepintas kepala ikan mirip bagian kokpit pesawat tempur. (lihat pict. 1)

Sebagaimana diketahui, bagian atas kokpit pesawat tempur biasanya transparan sehingga sang pilot dapat terlihat dari sisi luar pesawat.

Ikan ini ditemukan peneliti Monterey Bay Aquarium Research Institute (MBARI), di kedalaman laut Pantai California. Ikan ini hidup pada kedalaman 200 kaki (600 meter) di bawah permukaan laut.

Dapat dikatakan ini temuan pertama spesies ikan berbentuk kubah dan transparan. Peneliti mengamati ikan bermata bulat (barreleye) menggunakan peralatan canggih yang dioperasikan dari jarak jauh (a remotely operated vehicle/ ROV)

Pada foto 2 dan 3 terlihat keunikan yaitu bola mata ikan yang seolah dapat berputar ke atas. Pupil mata yang berada di bagian atas ini berfungsi untuk melihat mangsa yang berada di atas ikan tersebut. Sedangkan warna hijau yang terlihat dalam gambar adalah semacam lensa yang melindungi mata dari sinar matahari. Dengan begitu mata tetap fokus pada mangsanya.

“Bola mata itu tampak seperti melihat langsung ke atas,” ujar Kim Reisenbichler, peneliti MBARI.

Ikan barreleye (Macropinna microstoma) memiliki panjang 6 inchi (15 sentimeter). Sebenarnya ikan ini telah dikenal sejak tahun 1939 saat tersangkut jaring nelayan.

Foto ikan transparan pernah juga dirilis pada 2001. Ikan ini bentuknya memanjang mirip akar tumbuhan. Ikan ini ada yang memiliki panjang hingga 10 meter. Foto 4.

Pict. 1.

090223-01-fish-transparent-head-barreleye-pictures_big

Pict. 2.

090223-02-fish-transparent-head-barreleye-pictures_big

Pict. 3.

090223-04-fish-transparent-head-barreleye-pictures_big

Pict. 4.

090223-03-fish-transparent-head-barreleye-pictures_big

Photograph courtesy Monterey Bay Aquarium Research Institute


Blue Hole

Great Blue Hole menurut National Geographic, ditemukan di laut Belize–negara kecil di pesisir Timur Amerika Tengah,.Dahulu disebut Honduras Britania hingga 1973, Belize adalah bekas jajahan Britania Raya selama lebih dari satu abad. Nama “Belize” diambil dari Sungai Belize— memiliki kedalaman 480 feet atau 146 meter.

Blue Hole

Blue Hole

Blue Hole ini sangat terkenal di dunia, khususnya di kalangan penyelam dunia yg ingin tau ‘isi Blue Hole’ hingga ke dasarnya. Berbeda dengan Black Hole yg sangat ditakuti karena banyak yg ‘tak kembali’ bila sempat masuk ke medan gravitasi, Blue Hole justru sebaliknya, menjanjikan kesenangan dan pengalaman tak terlupakan. Karenanya para penyelam di seluruh dunia begitu antusias ingin ‘mengungkap misteri’ LUBANG BIRU ini.

Blue Hole sebenarnya adalah gua berbentuk vertikal. Pada zaman es dulu, permukaan laut lebih rendah daripada sekarang. Kemudian, ketika zaman es usai, es-es mencair, saat itulah permukaan laut naik dan gua tertutup oleh laut

Di dalam Blue Hole, warna air laut tidak segelap permukaannya. Di sana para penyelam bisa melihat stalaktit-stalaktit seperti di gua-gua di daratan. Ada juga berbagai macam terumbu karang dan spesies ikan, yang paling sering terlihat adalah hiu. Misalnya hiu kepala palu, pemandangan bawah lautnya indah. makanya, Blue Hole dijadikan tempat favorit para penyelam.

Antusias ini ditangkap sebagai peluang bisnis yg menjanjikan, maka dibuatlah paket ‘wisata menyelam’ di Blue Hole Belize.

Blue Hole Dive

Blue Hole Dive

Para penyelam ini akan dibawa ke lokasi menggunakan pesawat kecil dari lapangan udara San Pedro, 72 km dari lokasi. Dari ketinggian3.963 meter, para penyelam dapat langsung terjun ke dalam Blue Hole. Petulangan mendebarkan ini sangat disukai para penyelam yg biasanya datang secara rombongan.

Namun, jika menyelam lebih dalam lagi, pemandangan indah itu tidak ada lagi. Hewan-hewan laut dan terumbu karang tidak dapat hidup di tempat yang lebih dalam. karena kondisi anoksik. Artinya Kondisi airnya tanpa oksigan.

Selain Great Blue Hole, ada beberapa Blue Hole lainnya. Blue Hole yang terdalam disebut DEAN’S BLUE HOLE, letaknya di Long Island, Kepulauan Bahama. Dalamnya 202 meter. Diameter lingkaran guanya 25 meter sampai 35 meter.

Ada pula Blue Hole di tepi laut merah . Letaknya beberapa kilometer dari kota Dahab, Yunani. Dalamnya 130 meter . Gua ini mempunyai terowongan yang panjangnya 26 meter. Nama terowongannya THE ARCH. Banyak penyelam ingin sekali masuk ke terowongan itu. Tetapi, mereka sulit menemukannya. Para penyelam akhirnya malah mengalami kecelakaan.

Jumat, 10 Juli 2009

ANTARA KEPEMIMPINAN DEMOKRASI DAN ILAHIYYAH

Khutbah Jum'at, 10 Juli 2009
Baru saja kita melewati proses kepemimpinan demokrasi. Kepemimpinan yang akan membawa aspirasi kita dalam kehidupan duniawi ini. Kebutuhan manusia kepada kepemimpinan adalah fitrah dan mutlak diperlukan. Sebab apa jadinya jika negara berdiri tanpa seorang pemimpin.
Kepemimpinan terkecil dalam kehidupan kita adalah diri kita masing-masing. Hal ini disabdakan Nabi Saw: Kullukum Ro'in, wakullu ro'in mas-uulun 'an ro'iyyatihi كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّ رَاعٍ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ [Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin itu akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak]. Dan kepemimpinan tingkat selanjutnya adalah kepemimpinan dalam membina rumah tangga.
Tentu, (sebagaimana sistem yang ada di kehidupan ini) dalam menjalankan aturan agama mesti ada pemimpinnya. Bagaimana mungkin urusan duniawi ada pemimpinnya, sedangkan ukhrawi tidak ada. Pembelajaran kepemimpinan sebenarnya sudah ditanamkan pada diri kita sejak dahulu, seperti apa yang kita laksanakan saat ini (ibadah Sholat Jum'at). Ada unsur imam dan makmum, ada khotib yang memberikan nasehat dan ada yang mendengarkannya, yakni hadirin sekalian.
Allah mengaitkan unsur kepemimpinan lainnya dalam aturan kehidupan kita. Tidak semata-mata hanya Allah saja. Sebab telah disebutkan: 'Athii'ullaah wa Athii'ur rosuula waulil amri minkum. [Taatlah kepada Allah dan Rasul, dan Ulil Amri di antara kalian].Qul in kuntum tuhibbunallaah fattabi'uunii. [Katakanlah (wahai Muhammad) jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku!]
Tidak ada dualisme antara ketaatan Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula tidak ada pertarungan konsep ketundukan antara Nabi Muhammad Saw dengan Al-Ulama sebagai pewaris para Nabi. Kesemuanya merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan.
Ketika kita mengimani atau mempercayai adanya penerus ajaran Nabi Muhammad Saw yang disebut sebagai Rasulu Rasulillah (Utusan dari Utusan Allah) atau Khalifatu Rasulillah (pengganti Utusan Allah), maka berarti ia beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Selanjutnya implikasi keimanan kepada Nabi Muhammad Saw menunjukkan keimanan kita kepada Allah SWT.
Allah mengajarkan kita tentang Rukun Iman yang berjumlah 6 point, bukan 1. Tidak mutlak hanya beriman kepada Allah saja, tapi juga kepada rangkaian keimanan yang lain. Dan analoginya, tidak hanya beriman kepada Nabi Muhammad Saw saja, tapi juga para penerusnya di setiap masa. Allah dalam beberapa firman-Nya menyatakan 'Kami', yang menunjukkan keberadaan unsur dan sistem kepemimpinan lain dalam kebijakan-Nya. Juga Nabi Saw tidak jarang mengungkapkan istilah Laysa minna (bukan golongan kami) atau istilah lainnya berkenaan dengan konteks ini.
Demikianlah yang ditetapkan Nabi Saw, Fa'alaykum bisunnatii wa sunnatil khulafaa-ir roosyidiina al-mahdiyyiina mim ba'dii. [Hendaklah kalian mengikuti kebiasaan-kebiasaanku dan para Khalifah yang memberi petunjuk vertikal dan horisontal setelahku]. Juga mengindikasikan adanya kebijakan yang mesti diikuti selain Nabi Saw.

Hadirin yang berbahagia,
Nilai ketaqwaan yang dianjurkan oleh setiap Khatib juga berkaitan dengan masalah kepemimpinan. Disebutkan dalam suatu hadits: Ittaqullaah 'Azza wa Jalla lis sam'i wath Tho'ati walaw amaro 'abdan habasyiyyan. [Taatlah kepada Allah 'Azza wa Jalla, agar mau mendengar dan taat, meski yang memerintah (kalian) adalah seorang budak hitam].
Jika kita mendefinisikan taqwa sebagai pelaksanaan amaliyyah yang diambil dari suatu konsep Islamiyyah, maka konsep itu sendiri mungkin terbangun dari budaya, tradisi yang selama ini kita ketahui. Bukan berdasarkan konsep yang dibawa oleh para pewaris di setiap zamannya. Allah menegaskan: Laysa bi-amaaniyyikum walaa amaaniyyi ahlil kitaab. [Bukanlah (kebenaran itu) menurut angan-angan kosong kalian, dan bukan pula menurut angan-angan (perkiraan) orang-orang Yahudi dan Nasrani].
Ahlul kitab di sini bukan saja kaum Pendeta Yahudi dan Nasrasi pada masa dahulu. Tetapi pada masa sekarang banyak Ahlul Kitab, yakni mereka yang mengerti betul makna kandungan Al-Quran dan Hadits, tapi pandangannya menyimpang atau memiliki garis yang berbeda dari tuntunan yang sebenarnya. Inilah sebab musabab yang menimbulkan firqah, sesuai yang diisyaratkan Nabi Saw.

Hadirin yang berbahagia,
Kriteria kepemimpinan selalu akan menimbulkan masalah karena memiliki perbedaan konsep, dan keberpihakan kepada kelompok yang mengusungnya. Jika mereka bukan berasal dari golongannya bisa dipastikan seseorang sulit menerima kepemimpinannya itu. Hal ini terjadi pada kaum Nasrani yang menanti-nanti Nabi terakhir dari golongan mereka, tapi harapan mereka tidak terwujud. Dan jika iming-iming konsepnya tidak membawa manfaat dan keberuntungan atas kepentingan duniawinya, maka ia pun juga akan menolaknya.
Namun kepemimpinan Ilahiyyah yang diangkat Allah itu tidak dibentuk berdasarkan kriteria dan keinginan manusia. Meskipun seluruh makhluk di langit dan di bumi menolak, Allah tetap tidak bergeming dengan putusan-Nya. Sosok kepemimpinan yang dibangun dalam Birokrasi Ilahiyyah tidak dipilih melalui Syuro (musyawarah atau suara terbanyak), seperti yang dipahami oleh tokoh faham Khilafah dewasa ini. Karena kriteria yang dituntut manusia memiliki banyak kelemahan, sedangkan pilihan Allah tidaklah keliru (meski kebanyakan orang melihatnya sebagai bentuk kekurangan).

Hadirin Rahimakumullah,
Perilaku umat dalam menyikapi kehadiran sosok Birokrasi Ilahiyyah di setiap masa, pada umumnya tidak menerima dan memberikan respon yang negatif, karena dianggap sebagai sesuatu 'hal' yang baru. Sikap mempertanyakan yang berakhir pada sikap penolakan adalah suatu hal biasa terjadi. Bahkan sikap anti kehadiran pemimpin Ilahiyyah itu mengalami puncaknya saat terjadi pembunuhan kepada beberapa Nabi dan Rasul, begitu juga terjadi pada Khalifah Rasul sesudah Nabi Muhammad Saw.
Padahal konsep Kenabian sejak dahulu adalah sekedar memberikan informasi [Wama 'alayna illal balaaghul mubiin, tiadalah atas Kami melainkan hanya sekedar menyampaikan informasi (kebenaran) yang nyata]. Dan siapapun yang mendengarnya, hanya dituntut meresponnya dengan iman, sami'na wa atho'na.
Sikap responsif ini pun yang diupayakan Nabi Sulaiman As kepada Ratu Balqis beserta kerajaannya, agar mereka mau tunduk. Bukanlah Nabi Sulaiman menginginkan kerajaan Saba, tapi Beliau hanya sekedar menyampaikan Risalah yang diamanatkan Allah padanya. Dan yang dituntut Allah adalah responnya yang positif berupa pengakuan (keimanan). Allah SWT juga mengajak Bumi dan Langit (setelah tercipta), agar merespon keberadaan Allah, Yang Menciptakan, ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ I'tiyaa thow'an aw karhaa qoolataa ataynaa thoo'i iin. [Datanglah kepadaKu dengan kerelaan atau terpaksa! Maka mereka berdua berkata, Kami berdua datang dengan sikap tunduk]. Q.S. Fushilat: 11.
Nabi Muhammad Saw pernah mengumpulkan penduduk Mekah di suatu tempat yang tinggi, kemudian mereka yang sebenarnya sedang sibuk dengan urusan dunianya disuruh mendengarkan maklumat Nabi Muhammad Saw berupa pengakuan diri Beliau sebagai Utusan Allah. Maka serta merta mereka yang mendengarnya ada yang diam (mengakui atau tidak bersikap), dan banyak yang mencibir apa yang dilakukan Nabi Muhammad Saw, karena mereka merelakan waktu mereka yang berharga untuk mendengar perkara yang mereka anggap sepele. Padahal Nabi Muhammad Saw dan para pewarisnya hanya membutuhkan pengakuan dan ketundukan dari umat, bukan butuh harta dan diri mereka.
Semoga kita tidak termasuk orang yang merugi, dan mengeluh di hadapan Allah karena salah memilih pemimpin,
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا*وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).[Q.S.Al-Ahzab: 66-67]
Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang lahir (nyata), yang sedang eksis, bukan yang telah wafat. Bukankah di dunia saat ini kita lebih membutuhkan SBY dibanding Soekarno? Karena SBY masih manggung, sedangkan masa Soekarno telah lewat. Maka demikian pula masa kenabian telah lewat, yang ada adalah masa Shiddiqin dan Awliya-Nya. Merekalah yang diberi nikmat yang sebenar-benar nikmat oleh Allah SWT, shirotholladziina alladziina an'amta 'alayhim ghoyril maghdhuubi 'alayhim waladh-dhoolliin..
Barokallaahu lii walakum fil Quranil 'Azhiim. Fastaghfiruuhu innahu huwal ghofuurur Rohiim.

Rabu, 24 Juni 2009

Perpindahan Ikan Pari


سبحان الله
- سبحان الله - سبحان الله

Bagai dedaun yang terapung-apung di tengah lautan,


beribu-ribu Ikan Pari kelihatan berkumpul di lautan Mexico .

Kejadian yang memukau ini direkam ketika

armada makhluk-makhluk ini melakukan perpindahan.

Dengan meluncur di bawah ombak,

ia mengubah lautan biru menjadi kuning keemasan.

Seorang juru foto amatir, Sandra Critelli merekam foto indah ini.

Katanya,

Seperti lukisan… permukaan air seperti dipenuhi

dedaun musim luruh yang melayang ditiup angin.

Banyak jumlahnya… menjangkau hingga ribuan jumlahnya!”

Berukuran lebar kepaknya 2.1 meter, ia menutupi seluruh kawasan sekitarnya…

bukan saja di permukaan, malah ada yang bergerak di lapisan bawah.”


Dari: Taman2Syurga@yahoogroups.com