Selasa, 20 Oktober 2009

Keberkahan setelah Menikah

Adalah suatu hal yang membahagiakan bagi seorang lajang saat mendapatkan pasangan pujaannya. Hal ini juga dialami oleh seorang murid yang mendapatkan calon istri dari daerah Garut. Di tempat istrinya itu dilangsungkan acara akad nikah, dan dihadiri oleh kedua keluarga besar mempelai. Saat itu selama 7 bulan lebih daerah tersebut mengalami kekeringan dan belum tersiram hujan. Menjelang akad nikah itulah terjadi suatu keajaiban.

Malam hari sebelum esok dilangsungkan akad nikah, datanglah hujan. Namun hujan itu hanya berlangsung selama 5 – 10 menit saja. Pagi hari Syekh al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan beserta rombongan dari pesantren datang ke tempat acara, menjenguk muridnya yang sedang melangsungkan pernikahan tersebut.

Tiba-tiba kran air di kamar mandi mengucurkan air yang deras setelah sekian lama tidak berfungsi. Mata air di sumur yang dahulu kering, sehingga alat penyedot semacam sanyo atau jet pump tidak mengeluarkan air, keluar kembali. Semua penampungan air berupa bak dan tangki terisi penuh. Empang yang sudah lama kering bisa terairi kembali.

Hingga kini sudah genap setahun kejadian itu air masih mengalir di rumahnya. Anehnya, tetangga sekitarnya tidak mengalami anugerah seperti yang didapat keluarga ini. Mereka tetap menggunakan sungai, untuk mandi dan keperluan lainnya sebagai air bersih sehari-hari.

Hal ini, menurut penuturan si murid, karena keberkahan karamah Syekh al-Akbar yang datang menginjakkan kakinya di rumahnya saat pernikahannya setahun yang lalu.

Kamis, 15 Oktober 2009

Kamis, 15 Oktober 2009

Cerita Kesurupan (Kemasukan) Jin

Dalam beberapa hari saya mendengar 2 cerita orang kemasukan Jin. Yang pertama, seorang murid dari Jawa Timur yang menjenguk kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Di rumah sakit ia mengalami kesurupan, dan berbagai upaya telah dicoba tapi tidak berhasil. Hingga adiknya datang membimbingnya berdzikir. Kakaknya dijenguk oleh seluruh kerabat dekatnya, tapi dalam pandangannya tidak semuanya hadir. Beberapa wajah dilihatnya kabur (tak berbentuk).

Jin pertama yang masuk ke tubuh kakaknya adalah jin yang agak lembut, sehingga ketika adiknya berabithah 'Madad Syekh Akbar!' maka keluarlah jin tersebut. Karena seringnya ia mengucapkannya di rumah sakit, beberapa pasien dan penjaga rumah sakit berkata, 'Wah, jinnya takut sama Pak Akbar ya?!' Si Satpam juga berkata, 'Saya kasih dong baju putihnya (ghamis, red) biar saya bisa ngusir hantu atau jin!' Si murid hanya mesem mendengarnya.

Tapi setelah itu datang lagi jin lainnya, yang lebih sulit mengatasinya. Si jin tidak mau keluar dari tubuh kakaknya. Sebagaimana sebelumnya, kakak yang kemasukan jin ini mengeluarkan suara asing, kadang laki-kadang perempuan. Begitu dibaca Surat Yasin dan dzikir, si jin meledek, 'Ayo! Teruus! Siapa yang kuat ayo! Baca apa lagi? Paling-paling Yasin sama ayat Kursy! Saya tidak takut!'

Dulu juga pernah ada seorang murid yang mempunyai adik kemasukan jin, kemudian dibacakan Surat Yasin atasnya (berharap kesurupannya hilang). Si jin menyahut, 'Bacanya salah tuh! Emangnya saya gak hafal Surat Yasin! Makanya sebelum baca belajar dulu yang bener! Tajwidnya aja belum becus mau bacain Yasin untuk saya!' Cerita ini membuat geli yang mendengarnya. Kejadian itu pun akhirnya berhasil diatasi berkat karamah Syekh al-Akbar.

Berikutnya adalah dari seorang murid di Sumatera, yang mengisahkan bagaimana karamah Syekh al-Akbar ia rasakan bersama keluarganya. Ceritanya, di kampung yang agak jauh dari kediamannya pernah terjadi peristiwa kesurupan masal. Seluruh dukun, paranormal, Ustadz, serta orang pintar telah berupaya untuk mengatasinya. Namun upaya itu tidak juga membuahkan hasil. Jin yang memasuki raga tubuh anak-anak berusia remaja itu tidak juga beranjak dari tempatnya.

Sang jin mengaku bahwa ia adalah penghuni wilayah itu sejak lama, sudah 250 tahun yang lalu sebelum orang-orang tinggal di tempat tersebut. Oleh karenanya ia tidak mau menerima jika ia diganggu, apalagi disuruh meninggalkan tempat yang sudah ditempatinya sejak lama.

Si murid ini mempunyai anak yang sering berinteraksi dengan alam ghaib. Anaknya yang sering menjumpai atau melihat peristiwa ghaib ini mencoba untuk mengobati kawan-kawannya itu. Lalu begitu ia berusaha mengeluarkan penghuni ilegal dari tubuh anak-anak yang kesurupan, yang terjadi malah jin yang ada semuanya berpindah ke tubuh anak ini. Mendengar anaknya termakan oleh kejadian kesurupan tersebut, sang ayah mendatangi tempat kejadian. Ia tidak mengerti harus melakukan apa. Yang diingat bahwa ia pernah membaca buku 'Dialog dengan Jin Muslim', karangan Muh. Isa Dawud, yang terkenal itu. Di dalamnya ada sebuah kaifiyat (cara) bagaimana mengatasi peristiwa yang semacam ini. Lalu diperintahkan beberapa ustadz untuk melakukannya, tapi sekali lagi sia-sia. Bacaan Quran semacam Yasin dan ruqyah lainnya tidak berhasil mengeluarkan sang jin dari raga korban.

Akhirnya, ia mengambil buku Hadiqah Riyahin, yang di dalamnya memuat foto Syekh al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan. Buku tersebut yang memperlihatkan gambar Syekh al-Akbar langsung dihadapkan ke wajah orang yang kesurupan itu.

Yang kesurupan berteriak, 'Jangaan! Jangaan dekati saya, saya kapook!'

Si murid berkata, 'Kalau begitu kamu keluar dari tubuh anak ini!'

'Aku tidak mau!' si jin tidak mau mengalah.

'Kalau begitu rasakan saja sendiri!' Kata si murid sambil menyodorkan buku kembali.

'Yaa, baiklah. Saya mau keluar, tapi saya mau orang-orang yang telah bertindak kurang senonoh di kampung ini dikumpulkan semuanya! Saya mau mengambil kesepakatan' pinta sang jin.

Akhirnya orang-orang berkumpul mendengarkan celotehan si Jin. Satu per satu keadaan orang-orang yang ada di hadapannya dikemukakan. Salah satunya adalah seorang pemuda, katanya 'Nah, kamu ini suka pacaran dan sering berduaan di gudang kosong dekat pos. Tolong jangan kamu ulangi lagi!' Si pemuda meminta maaf kepada pemuka warga setempat dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.

Setelah terjadi kesepakatan kedua belah pihak, bahwa penghuni kampung tidak mengganggu dan membuat perbuatan-perbuatan yang tidak pantas, maka si Jin pun bersedia keluar dari raga anaknya itu.

Si jin sempat berkata kepada si murid Idrisiyyah, 'Anak kamu itu, kurang ajar sekali sama saya. Masak ia panggil-panggil Guru Bapaknya. Saya kan jadi takut!'

'Emangnya kenapa, kamu kok takut?' tanya si murid.

'Bagaimana saya gak takut, dia tingginya sebesar pohon kelapa. Saya dikejar-kejar olehnya! Saya kapok!'

Pembicaraan ini menutup kisah kesurupan yang berlangsung selama 2 hari 3 malam. Si murid bertambah keyakinan kepada Gurunya yang juga mempunyai peran sebagai pembimbing dan pelindung alam ruhani bagi murid-muridnya.

Jakarta, 13 Oktober 2009.


Jumat, 09 Oktober 2009

Gak Nyambung

Ceritanya dulu ada murid yang melanglang buana entah ke mana setelah diangkat menjadi murid Idrisiyyah. Eh, tau-tau nongol lagi pada saat acara Pekan Santri. Lalu ia pun menceritakan pengalamannya selama ini. Ia merasa menjadi murid Idrisiyyah itu nikmat dan mudah sekali.
'Untuk menyelesaikan wirid aja gak perlu berjam-jam. Maka saya selama beberapa tahun ini gak pernah meninggalkan wirid sehari pun!' ia memulai pembicaraan.
'Emangnya Bapak berapa lama sih menuntaskan awrad semuanya selama ini!' tanya murid lain yang menimpali.
'Ah, guampang bener! 5 menit juga udah selesai!' Jawabnya rileks.
'Yang Bener Pak?' tanya kawannya terheran-heran.
'Kalau saya aja yang udah lama jadi murid kira-kira 1 jam kurang dikit untuk menyelesaikannya' sahut rekan di sebelahnya.
'Emang gimana kiat (cara)nya Pak agar membaca wiridnya bisa secepat itu?' tanya yang lain penasaran.
'Kok, bingung amat. Semenjak saya ditalqin, kan dzikir yang mesti dibaca itu pertama, membaca Quran 1 Juz, kedua Istighfar 100 kali, Dzikir fi kulli lamhatin 300 kali, sholawat Ummy 100 kali, Yaa Hayyu Yaa Qoyyuum 1000 kali, dan terakhir Taqwa kepada Allah. Mudah kan?! Menyebutnya paling gak ada 1 menit!'
Mendengar ucapan Bapak itu menjadi tertawalah murid-murid yang disampingnya. 'Lho, kenapa tertawa? Apa yang lucu?' tanya si Bapak keheranan.
'Ya, lucu dong Pak. Gimana gak lucu. Bapak salah mengamalkan wiridnya!'
'Yang bener, wiridnya bukan cuma disebut judulnya doang, tapi bacaan seluruhnya juga dibaca!' Anak kecil juga bisa kalau nyebut begitu doang!'
Gerr
, semuanya tertawa dan si Bapak melongo hampa.

Jadi, selama bertahun-tahun si Bapak salah cara mengamalkan wiridnya.

Jakarta, 8 Oktober 2009

Kamis, 01 Oktober 2009

Iblis Tidak Mau Berwasilah

Tanpa disadari bahwa orang-orang yang meremehkan wasilah itu menyerupai perilaku Iblis La'natullah 'alaih. Peristiwa tidak maunya Iblis bersujud kepada Adam As. adalah bukti enggannya ia berwasilah dalam penghambaannya kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Iblis menginginkan ibadah langsung kepada Allah tanpa perantara. Tapi Allah SWT justru menginginkan lain. Dia menjadikan para Utusan-Nya sebagai sarana dan bukti kecintaan seseorang kepada-Nya. Dalam syahadat Dia senantiasa menyandingkan Nama-Nya dengan para Utusan-Nya. Allah SWT menghendaki manusia mencintai para Utusan-Nya jika mereka mengaku cinta kepada-Nya. Bahkan cinta kepada para Utusan-Nya itu perlu bukti dengan taat (turut) kepada mereka. Tidaklah Allah menyatakan 'Jika kalian cinta kepada-Ku maka cintailah para Utusan-Ku (Fatahibuunii), tapi Allah berfirman: 'Qul inkuntum tuhibbuunallaah fattabi'uunii' [Katakanlah (wahai Utusan-Ku), jika kalian mencintai-Ku maka ikutilah Aku!]. Cinta itu dibuktikan dengan menuruti para Utusan-Nya. Dan itulah yang tidak diperbuat oleh Iblis kepada Adam As.

Seolah-olah Iblis berprinsip benar, bahwa ia menginginkan Tauhid yang murni, yang tidak ada sesuatu yang lain dalam ibadahnya melainkan Allah. Ia ingin beribadah hanya kepada Allah tanpa ada bayangan lain yang membuatnya menyekutukan-Nya. Banyak orang yang bermakrifat terjebak dengan pola pikir seperti ini.

29 September 2009