Selasa, 19 Februari 2008

Merpati Pembawa “Hadiqah Riyahin”

Ujian Allah Swt kepada manusia senantiasa silih berganti waktunya, jenis atau bentuknya, kekuatan (berat dan ringan)nya, asal muasalnya, dsb. Ujian berupa musibah itu merupakan sarana untuk menguji ketabahan/kesabaran seseorang terhadap takdir yang Allah berikan kepadanya.
Ujian derita penyakit yang berkepanjangan pernah dialami oleh sepasang murid Idrisiyyah dari daerah Subang. Istrinya mendapatkan penyakit sebanyak 7 macam yang membuatnya selalu mengeluh. Pada masa-masa sebelum sakitnya ia memang sedang mengalami keraguan / kebimbangan menjadi murid Idrisiyyah. Dan akhirnya penyakit itu datang mengingatkan dirinya kepada Gurunya Syekh al-Akbar.
Ia pun berikhtiar mencari obat ke mana-mana, tapi belum juga membuahkan hasil. Sang istri selalu menyuruh suaminya meminta air do’a kepada Syekh al-Akbar. Harapannya, agar penderitaan yang dialaminya akan segera berakhir. Permintaannya itu terus menerus dilakukannya sampai-sampai muncul rasa ketidaksabarannya.
Baru saja suaminya datang membawa air do’a, ia disuruh datang kembali kepada Syekh al-Akbar untuk meminta air lagi. Akhirnya, suatu ketika Syekh al-Akbar Muhammad Daud Ra. berkata kepadanya (membaca ketidaksabaran istrinya tersebut), ‘Tolong beritahu istri kamu, sesungguhnya jika Allah berkehendak atas sesuatu adalah mudah. Seperti membalikkan kedua belah telapak tangan saja’. Maka kembalilah si suami menceritakan apa yang dipesankan Syekh al-Akbar kepada istrinya tersebut.
Pada malam harinya muncullah peristiwa yang mengawali keajaiban yang terjadi pada keluarganya. Sang istri bermimpi didatangi seekor burung merpati yang besar. Dia datang sambil mengitari rumahnya berkali-kali. Lalu burung tersebut masuk lewat jendela kamar tidurnya sambil menggigit sebuah gulungan kertas kecil yang ada tulisannya. Kertas itu diletakkan di meja sebelah tempat tidurnya.
Pada keesokan harinya, ia kaget melihat sebuah buku kecil telah berada di samping tempat tidurnya itu. Setelah diperhatikan ternyata buku itu adalah buku Hadiqatur Riyahin, kitab Awrad jama’ah / murid Thariqah Al-Idrisiyyah.
Buku itu pun akhirnya ia baca sampai selesai. Setelah itu, tiba-tiba ia merasakan badannya sehat. Ia bangun dari tempat tidurnya. Wajahnya menjadi ceria. Ia berteriak kegirangan karena ia sudah bisa berjalan, padahal sebelumnya duduk saja ia susah untuk melakukannya.
Besoknya, sang ibu menceritakan peristiwa yang aneh. Ia melihat ada sinar (cahaya) dari langit yang turun ke rumah anaknya. Cahaya tersebut masuk melalui jendela tempat anaknya sedang terbaring sakit.
Benarlah apa yang diungkapkan Syekh al-Akbar di atas, “Sesungguhnya Allah Berkuasa atas segala sesuatu!”
Hikmah dari peristiwa tersebut membuat istrinya rajin menghadiri majelis pengajian Syekh al-Akbar di Tasikmalaya. Tidak jarang antara suami-istri tersebut ribut kecil untuk memperebutkan siapa yang berhak datang ke pengajian dan siapa yang mesti menjaga anaknya di rumah.

Tidak ada komentar: