Kamis, 04 November 2010

Kisah Ja’far Ash-Shadiq dengan Imam Abu Hanifah

Ibnu Syabramah berkata:

Saya dan Abu Hanifah pernah menemui Ja’far Ash-Shadiq. Saya memperkenalkan Abui Hanifah kepada beliau. ‘Kenalkan, ini temanku. Ia adalah salah seorang Fuqaha Iraq’.

Mendengar itu beliau lalu berkata, ‘Apakah ia yang menganalogikan agama dengan nalarnya? Apakah ia Nu’man bin Tsabit?’

Saya tidak tahu siapa nama sebenarnya dari Abu Hanifah sehingga saya hanya bisa diam ketika beliau menanyakan itu. Akan tetapi Abu Hanifah kemudian berkata, ‘Ya, saya adalah Nu’man bin Tsabit, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik kepada Anda’.

Setelah itu beliau berkata kepada Abu Hanifah, ‘Bertaqwalah kepada Allah dan jangan engkau menganalogikan agama dengan nalarmu karena orang pertama yang melakukannya adalah Iblis ketika ia mengatakan Aku lebih baik dari Adam. Engkau menciptakannya dari tanah, sedangkan aku Engkau cipttakan dari api. Ketahuilah Iblis telah salah dalam analoginya hingga ia akhirnya tersesat’.

Abu Hanifah hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Imam Ash-Shadiq. Beliau lalu melanjutkan, ‘Apakah kamu pernah mencoba melakukan analogi dengan kepala dan tubuhmu?’

‘Tidak,’ jawab Abu Hanifah.

‘Kalau begitu, coba beritahukanlah kepadaku mengapa Allah menjadikan air mata itu asin sedangkan kotoran telinga pahit? Mengapa Allah menjadikan hidung berair da menjadikan rasa tawar pada dua bibir?’

‘Saya tidak tahu,’ jawab Abu Hanifah.

‘Ketahuilah, Allah menjadikan itu semua sebagai karunia bagi hamba-hamba-Nya. Dua mata adalah lemak yang jika tidak asin maka ia akan meleleh. Sedangkan telinga sangat rawan dimasuki oleh binatang kecil sehingga jika tidak pahit akan menggigitnya. Adapun hidung adalah untuk menghirup bau yang harum sekaligus yang busuk sehingga jika di sana tidak ada air, semua itu tidak akan bisa tercium. Sedangkan dua bibir adalah untuk makan. Jika tidak tawar, maka rasa makanan tdak akan bisa tercicipi’.

‘Sekarang, beritahu kepadaku kalimat yang awalnya adalah syirik akan tetapi akhirnya adalah iman?’

‘Saya tidak tahu,’ jawab Abu Hanifah.

‘Kalimat tersebut adalah, ‘Laa Ilaaha Illallaah,’ beliau memberitahukan.

‘Kalau begitu, beritahukanlah aku manakah yang lebih besar dosanya antara membunuh atau berzina?’

‘Membunuh,’ jawab Abu Hanifah.

‘Jika demikian, mengapa Allah menerima dua saksi untuk kasus pembunuhan, sedangkan dalam kasus perzinahan harus ada empat orang saksi?’

Abu Hanifah terdiam mendengar pertanyaan beliau. Karena Abu Hanifah tidak bisa menjawab, beliau melanjutkan: ‘Manakah ibadah yang lebih baik, shalat atau puasa?’

‘Tentu saja shalat, ‘ jawab Abu Hanifah.

‘Kalau begitu, mengapa Allah mewajibkan untuk mengganti puasa bagi perempuan haid, akan tetapi Allah tidak memerintahkan untuk mengganti (mengqadha) shalat?’

Kali ini pun Abu Hanifah hanya terdiam dan tidak bisa menjawab.

Setelah itu beliau melanjutkan, ‘Bertaqwalah kepada Allah, jangan pernah mengatakan dalam masalah agama dengan nalarmu karena kami semua di hadapan Allah nanti akan mengatakan firman Allah atau sabda Rasulullah, sedangkan kamu dan teman-temanmu akan mengatakan, menurut kami …….’. Sungguh Allah adalah Zat Yang Kuasa melakukan apa yang Dia kehendaki. Dengarkan jawaban dari pernyataan saya tadi. Dituntutnya lebih banyak saksi dalam kasus zina karena tujuannya untuk menutupi, sedangkan gugurnya shalat bagi orang haid karena kuantitasnya yang banyak dan berulang-ulang sehingga sangat pantas diberikan keringanan’.

Diambil dari: 215 Kisah yang Meneguhkan Iman, Mitra Pustaka. Terjemah An-Nawadir, karya Syekh Syihabuddin al-Qalyubi.

Kamis, 4 November 2010.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Kisah Tsabit bin Ibrahim (Ayahnya Imam Hanafi)

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya. Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya.
Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, "Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya". Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam". Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka"
Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata," Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?" Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan ?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?" Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!"
Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"
Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala".
Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam ,"Assalamu'alaikum..." Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya . Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini.
"Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ? Setelah Tsabit duduk di samping istrinya , dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta . Mengapa ?" Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah".
Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?"
Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan ?"Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala".
Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya... Subhanallah , dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap". Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit.

Sumber: http://solihin87.cybermq.com/

Rabu, 01 September 2010

Keutamaan Malam Kemuliaan 'Lailatul Qadr'

Sholat Sunat Lailatul Qadr

مَنْ صَلىَّ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ مَرَّةً وَاْلإِخْلاَصِ سَبْعَ مَرَّاتٍ, فَإِذَا سَلَّمَ يَقُوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ سَبْعِيْنَ مَرَّةٍ فَلاَ يَقُوْمُ مِنْ مَقَامِهِ حَتَّى يَغْفِرُ اللهَ لَهُ وَلِأَبَوَيْهِ وَيَبْعَثُ اللهُ تَعَالَى مَلاَئِكَةً إِلىَ الْجِنَانِ يَغْرُسُوْنَ لَهُ اْلأَشْجَارِ وَيَنْبُوْنَ الْقُصُوْرَ وَيُجْرُوْنَ اْلأَنْهَارَ وَلاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى يَرَى ذَلِكَ كُلَّهُ. تفسير حنفي
“Siapa yang menjumpai Lailatul Qadar, dan ia shalat 2 raka’at, setiap raka’at membaca Fatihah 1x, dan Surat Al-Ikhlash 7x, sehabis salam beristighfar 70x, maka tidaklah ia bangun dari duduknya, hingga Allah mengampuni ia dan kedua orang tuanya. Dan Allah mengutus malaikat ke syurga supaya menenam pohon-pohon untuknya, mendirikan gedung-gedung, membuka pintu-pintu air bengawan, dan ia tidak keluar dari dunia, kecuali melihat semua itu”. Tafsir Hanafi.

Munajat Nabi Musa As.
Nabi Musa As. bermunajat, ‘Wahai Tuhan, aku ingin selalu dekat dengan-Mu!’ Firman Allah, ‘Aku selalu dekat dengan orang yang bangun di malam Kemuliaan Lailatul Qadr’.
Berkata Musa As, ‘Ya Tuhan, kelak di hari kiamat aku ingin melintasi Shirat dengan cepat bagaikan kilat menyambar!’. Firman Allah, ‘Yang demikian itu mudah bagi orang yang suka bersedekah di malam Kemuliaan Lailatul Qadr’.
Berkata Musa As., ‘Ya Tuhan, aku ingin memperoleh rahmat-Mu!’ Firman Allah, ‘Rahmat-Ku adalah bagi orang yang berkasih sayang kepada orang miskin di malam Kemuliaan Lailatul Qadr’.
Berkata Musa As, ‘Ya Tuhan, kelak aku ingin duduk di bawah pohon-pohon syurga sekaligus menikmati buahnya’. Firman Allah, ‘Itu untuk orang yang suka bertasbih di malam Kemuliaan Lailatul Qadr’.
Berkata Musa As, ‘Ya Tuhan, kelak aku ingin bebas dari siksa api neraka!’ Firman Allah, ‘Yang demikian itu mudah bagi orang yang beristighfar di malam Kemuliaan Lailatul Qadr sampai pagi’.
Berkata Musa As, ‘Ya Tuhan, aku benar-benar mendambakan keridhaan-Mu!’ Firman Allah, ‘Ridha-Ku adalah bagi orang yang melakukan shalat 2 raka’at di malam Kemuliaan Lailatul Qadr’.
(Zubdatul Wa’izhin)

Golongan Yang Tidak mendapatkan Kemuliaan Lailatul Qadr
Imam Ar-Razi menjelaskan bahwa ketika fajar telah muncul di pagi hari Lailatul Qadr, Jibril As berseru: ‘Hai jama’ah malaikat, berangkatlah, berangkatlah, berangkatlah!’ Jawab mereka, ‘Hai Jibril, apakah yang telah Allah lakukan kepada umat Muhammad yang benar-benar muslim pada malam ‘Kemuliaan’ ini? Jawabnya, ‘Pada malam ‘Lailatul Qadr’ ini Allah Swt telah memandang mereka dengan pandangan penuh rahmat (kasih sayang), dan telah memaafkan mereka serta mengampuni mereka, kecuali 4 golongan, yitu: (1) Pecandu arak, (2) Yang durhaka kepada kedua orang tuanya (3) Yang memutuskan persaudaraan (4) Yang bertengkar (bermusuhan) dan tidak menyapa lebih dari 3 hari’. (Zubdatul Wa’izhin)