Tampilkan postingan dengan label Al-Asrar fil Awliya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Asrar fil Awliya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juni 2008

Pengalaman Spiritual Pengarang Al-Mizan, Syekh Abdul Wahab Sya’rani

Syekh Abul Mawahib Asy-Sya’rani dalam kitabnya Al-Mizan mengungkapkan:
“Cara untuk meraih derajat kasyaf dalam memahami sumber syariat adalah melalui suluk dengan bimbingan seorang yang Arif dengan syarat seseorang itu harus menyerahkan dirinya, hartanya dan keluarganya kepada pembimbing yang arif tersebut dengan hati yang lapang.
Seandainya pembimbing yang Arif itu menyatakan kepadamu: ‘Ceraikan istrimu, atau lepaskan hartamu atau pekerjaanmu’, misalnya, kemudian Engkau membangkang, maka Engkau tidak akan sampai kepada derajat kasyaf meskipun Engkau beribadah selama 1.000 tahun dengan cara biasa.
Apakah ada syarat-syarat lain dalam menempuh suluk? Ya, ada. Di antaranya tidak boleh menyandang hadats walaupun sebentar baik siang maupun malam, tidak makan selama menjalani suluk kecuali kalau sudah dalam kondisi mendesak, tidak memakan makanan yang asalnya bernyawa, tidak makan melainkan jika telah mengalami awal-awal tanda bahaya, tidak memakan makanan pemberian orang lain yang tidak wara’ dalam memperolehnya, seperti orang yang diberi makan karena ia orang baik atau karena ia zuhud, atau orang yang berjual beli dengan petani atau aparat penguasa yang tidak wara’. Syarat lainnya adalah tidak lupa kepada mengingat Allah siang malam meskipun sekejap, bahkan mesti muraqabah setiap saat.
Kalau sudah demikian, maka seseorang suatu ketika akan mencapai derajat ihsan dalam arti seolah-eoalah ia melihat Tuhannya. Atau bisa pula mencpai derajat keyakinan sesudah ihsan, sehingga ia dapat melihat Tuhannya setiap saat dengan mata iman, bukan dengan mata kepala, karena melihat Tuhan dengan mata iman itu lebih menyucikan Allah SWT daripada seolah-olah meilhat Allah dengan mata kepala yang tentunya dibayangi dengan khayalnya, padahal Allah Suci dari segala apa yang terlintas di dalam hatimu.
Jika ada orang bertanya: ‘Bagaimana pengarang kitab (Al-Mizan) ini menempuh suluknya?’ Jawabannya adalah sebagai berikut:
Pertama-tama saya mendapatkan suluk dari Nabi Khidhir As melalui ilmu, iman dan Islam. Kemudian saya mendapatkannya dari Sayid Ali Al-Khawash, sehingga saya dapat memahami sumber syariat melalui rasa (dzauq), kasyaf, dan yakin tanpa ada rasa ragu, kemudian saya bermujahadah dengan amalan-amalan tertentu selama satu tahun. Lalu saya berkhalwat berada di atas tali yang saya gantungkan ke atap sehingga tubuh saya tidak menyentuh bumi. Terus saya berupaya benar-benar dalam bersikap wara’, sehingga saya pernah memakan zat-zat tanah dengan terpaksa apabila saya tidak menjumpai makanan yang sesuai dengan maqam saya dalam ketaqwaan. Saya pun pernah memakan semacam lemak di atas tanah yang mirip dengan lemak daging atau lemak samin atau lemak susu. Suluk semacam ini pernah ada yang menjalani sebelum saya, yakni Ibrahim bin Adham Ra. yang bertahan selama 20 hari hanya memakan zat-zat tanah ketika ia tidak menemukan makanan yang halal menurut maqamnya.
Begitu pula saya tidak lewat di bawah atau di sebelah gedung-gedung istana penguasa. Tatkala Sultan al-Ghuri As-Sabath berkuasa yang saya pernah lewati di antara madrasah dan kubahnya yang biru, saya masuk melalui pasar Warraqin dan keluar lewat pasar minuman, jadi saya tidak lewat di bawah atau di sebelah gedung istana sultan. Gedung-gedung lain milik orang yang lalim dan penguasa serta aparatnya, hukumnya sama dengan gedung istana yang penuh dengan kelaliman tersebut.
Saya tidak memakan sesuatu kecuali saya teliti terlebih dahulu dengan betul kehalalannya, tidak langsung saya memakannya dengan berdasarkan adanya rukhshah, dan al-hamdulillah saya sampai saat ini tetap seperti itu. Dulu, saya meneliti kehalalan makanan dengan melihat siapa pemilik sebenarnya, tetapi sekarang saya bisa mengetahui halal, haram, dan syubhatnya makanan dengan melihat warnanya atau melalui baunya atau rasanya. Saya merasakan bau wangi kalau makanan itu halal. Saya merasakan bau busuk kalau makanan itu haram, dan saya merasakan busuk yang tidak sebusuk bau makanan haram kalau makanan itu syubhat. Kalau ada tanda-tanda tersebut maka saya tidak memakannya tanpa harus meneliti siapa pemiliknya yang sah. Segala puji milik Allah atas karunia yang demikian itu.
Setelah saya selesai dari perjalanan suluk itu, maka mata hati saya bisa melihat sumber syari’at, yang dari sumber syari’at itu muncul beberapa pendapat Ulama yang kesemuanya bersambung ke sumber itu. Saya bisa mengetahui bahwa semua pendapat tersebut berada di dalam lingkup syara’ yang murni, dan mata hati saya bisa membuktikan bahwa semua mujtahid itu benar dengan pembuktian secara kasyaf dan yakin, bukan sekedar sangkaan dan kira-kira. Mata hati sayapun bisa mengetahui bahwa tidak ada suatu madzhab yang lebih kuat daripada madzhab lain di dalam syari’at. Kalau ada 1000 orang yang membantah saya bahwa ada satu madzhab lebih kuat dari lainnya, saya tidak terpengaruh. Anggapan tersebut hanya karena keterbatasab pemahaman seseorang terhadap sumber syari’at, dan kebenaran anggapan tersebut hanyalah berlaku sepihak.
Di antara yang bisa saya lihat secara kasyaf adalah bahwa ada saluran-saluran parit dari para Imam Mujtahid sebagai tokoh madzhab, di mana parit-parit itu bermuara sampai ke sumber syari’at bagai lautan yang luas. Tetapi parit-parit tersebut mongering airnya dan membatu / menjadi batu, hanya ada 4 parit yang airnya terus mengalir (4 madzhab). Saya memberikan takwil bahwa madzhab 4 Imam tersebut akan bertahan kekal hingga menjelang kiamat. ….
Ketika saya menunaikan ibadah haji pada tahun 957 H. saya berdoa di dalam Ka’bah, memohon kepada Allah agar diberi tambahan ilmu, kemudian saya mendengar suara dari atas sebagai berikut: “Belum cukupkah kitab Al-Mizan yang telah Kami anugerahkan kepadamu, yang dengan kitab itu kamu meyakini kebenaran semua pendapat para Mujtahid dan para pengikut mereka sampai hari kiamat, yang anugerah tersebut tidak diberikan kepada orang lain pada zamanmu?” Kemudian saya mengatakan: “Cukuplah kepada Allah saya berharap tambahan rahmat”. ……
Jika engkau yang bertanya: “Apakah orang yang memakan makanan yang halal dan meninggalkan maksiat lalu menempuh suluk dengan dirinya sendiri tanpa pembimbing yang Arif bisa sampai ke tingkat kasyaf sehingga mampu melihat sumber syari’at dengan mata hati?”
Jawabannya adalah 2 hal:
1. Adakalanya karena jadzab (tarikan) yang langsung diberikan oleh Allah.
2. Adakalanya dengan menempuh suluk di bawah asuhan dan bimbingan Guru yang Arif, agar bisa membuang cacat dan kotoran di dalam batinnya. Bahkan seandainya ia bisa menghilangkan aib dan kotoran batinnya melalui ibadahnya sendiri, ia tetap tidak akan sampai ke maqam kasyaf yang mampu melihat sumber syarai’at dengan mata batin, karena ia terkurung di dalam sikap taklid terhadap imam madzhabnya. Jadi imam madzhabnya itulah sebagai penghalang untuk melihat sumber syari’at, padahal imamnya sendiri mampu melihat sumber syari’at tersebut……
Apabila engkau ingin sampai ke tingkat yang setara dengan kitab Al-Mizan ini secara dzauq (rasa) dan engkau ingin mempunyai kemantapan bahwa semua madzhab itu benar sebagaimana yang diakui oleh para Imam madzhab itu benar sebagaimana yang diakui oleh para Imam madzhab itu sendiri, maka tempuhlah melalui suluk dan riyadhah dengan asuhan seorang Guru yang Arif yang mengajarkan bagaimana cara engkau agar bisa menjadi orang yang ikhlas dan jujur dalam memahami ilmu dan amal, bagaimana cara engkau agar terhindar dari kotoran-kotoran yang mengotori batin yang menghambat dan menghalangi perjalanan taqarub kepada Allah SWT dan mematuhi anjuran Gurumu, agar engkau bisa sampai ke maqam kesempurnaan yang tertentu, sehingga engkau berperasaan bahwa semua manusia itu selamat kecuali dirimu sendiri, seolah-olah engkau melihat bahwa dirimu celaka. Kalau engkau sudah sampai di mana engkau bisa melihat sumber syari’at secara seksama dengan mata batin, yang dari sumber itu mengalir beberapa pendapat Ulama.
Adapun suluk yang engkau tempuh tanpa bimbingan Guru yang Arif, biasanya tidak bisa menyelamatkan dan membebaskan engkau dari sifat riya’, perdebatan, dan cenderung mencintai harta benda, walaupun sifat-sifat tersebut hanya ada di dalam hati tanpa diucapkan, sehingga tidak bisa mengantarkan engkau ke maqam kasyaf tersebut, walaupun teman-temanmu sudah terlanjur menjulukimu sebagai Wali Quthub.
Dalam masalah ini, Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi memberikan penjelasan di dalam kitab Al-Futuhat al-Makiyyah pada Bab 73 sebagai berikut: ‘Barang siapa menempuh suatu cara taqarub kepada Allah tanpa bimbingan seorang Guru yang Arif dan tanpa bersikap wara’ dalam menghadapi hal-hal yang diharamkan Allah SWT, maka ia tidak akan sampai ke maqam makrifat seperti yang telah dicapai oleh para Ulama yang Arif, walaupun ia telah beribadah kepada Allah selama umur Nabi Nuh As. Kalau seseorang sudah sampai ke tingkat makrifat maka tidak ada lagi penghalang antara dia dengan Allah SWT, sehingga ia bisa mengetahui Asma-asma Allah secara kasyaf dan yakin, mampu memehami bahwa semua pendapat mujtahid itu tidak menyimpang dari Asma-asma Allah tersebut, sehingga tidak ada lagi pertentangan dan perbedaan di antara madzhab, karena kesemuanya bermuara dari satu sumber yang sama’.
(Petikan Kitab Al-Mizan, Syekh Abul Mawahib Abdul Wahab Asy-Sya’rani)

Selasa, 13 Mei 2008

Cinta melupakan lainnya

Rasulullah Saw bersabda:
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِيْ وَيُصِمُّ
Cintamu pada sesuatu akan membuatmu buta dan tuli”. (HR. Abu Daud dari Abu Darda & Ahmad)
Inilah yang membuktikan sifat ke-ummy-an seorang murid, bahkan pada diri seorang Syekh yang Kamil. Kita dapat memahami apabila seorang Syekh yang dipilih Allah itu bukan berdasarkan apa yang ia ketahui. Dan tiada yang mengetahuinya mengapa. Hanya yang dapat kita simak berdasarkan hadits ini, Syekh yang Ummi ditutup dari hal-hal ‘yang lainnya’ karena cintanya kepada Allah.
Rasulullah Saw dengan sifat ke-ummi-an Beliau mengungkapkan, ‘Kalian lebih mengetahui apa-apa yang menjadi perkara duniamu’. Antum A'lamu bi-umuuri dun-yaakum.
Kita mungkin bisa memandang seorang murid itu kelihatan bodoh (menurut jangkauan pengetahuan kita) tapi kita tidak mampu mengukur kedalaman cintanya kepada Syekh-nya, kerinduan hatinya kepada Allah. Bahkan seorang Nabi pun tiada mampu mengukurnya. Sesungguhnya kebodohan di sisi Allah adalah kebodohannya dari sisi Tauhid (tidak mengenal Allah), bukan kebodohan pengetahuan lahir.
Kita tidak bisa meremehkan seseorang berdasarkan keilmuannya, karena kita tidak mampu mengukur kecintaannya kepada Allah. Itulah rahasia Allah yang tidak bisa kita ungkap.
Syekh Abu Ali ad-Daqqaq Rhm. menuturkan, ‘Suatu ketika Syu’aib menangis hingga matanya buta. Allah SWT mengembalikan penglihatannya. Dia menangis lagi sampai matanya buta kembali, dan Allah SWT mengembalikan lagi penglihatannya. Kemudian dia menangis sampai buta, lantas Allah SWT mewahyukan, ‘Jika engkau menangis karena syurga, maka Aku pun memperkenankannya. Jika engkau menangis karena neraka, maka Aku pun telah menjadikanmu selamat darinya’. Syu’aib menjawab, ‘Bukan itu. Aku menangis karena rindu kepada-Mu!’ Lalu Allah berfirman padanya, ‘Karena itu Aku menunjuk Nabi-Ku dan Kalim-Ku (Musa) untuk melayanimu selama 10 tahun’.
Inilah kerinduan. Inilah Mahabbah yang tidak bisa dijangkau kedalamannya oleh akal. Yang hanya dapat dibeberkan dengan logika ruhani. Semua indera menjadi buta, hanya rasa cinta yang menuntun.
Saat perintah [dalam Tarekat Idrisiyyah] untuk melaksanakan kegiatan di tengah laut pertama kali (P. Untung Jawa), betapa berat menyesuaikan diri dengan instruksi tersebut bagi murid-murid yang baru bergabung dengan Syekhnya. Mereka mesti mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk diri dan keluarganya agar ikut serta beribadah bersama Syekh-nya tersebut. Tapi cinta menghilangkan penat yang mereka rasakan. ... Akhirnya Safari Dakwah dan Dzikir tersebut menandai hikmah Tragedi Tsunami tidak melanda P. Jawa, tetapi terjadi di Aceh beberapa tahun silam. Inilah bukti lahir yang nyata. Sedangkan bukti ruhani amat subyektif jika diungkapkan.
Begitu pula kita tidak akan mengerti apabila musibah yang akan mengancam P. Jawa ini dapat dicegah dengan kehadiran seorang Awliya yang dipilih-Nya, yang menetap di tempat tersebut. Lalu apakah kita sembrono untuk segera menyimpulkan bahwa upaya penyelamatan nyawa ribuan bahkan jutaan manusia itu, kita katakan sebagai buang-buang uang dan waktu serta tidak menghasilkan apapun. Pada saat manusia-manusia tidak menggubris tindakan Syekh Mursyid ini, penghuni alam ghaib bereaksi menunjukkan simpati. Ternyata mereka lebih teliti terhadap langkah yang dilakukan seorang Pewaris Nabi.
Saat ini kita diperintahkan untuk terlibat dalam Gerakan Moral Massa berupa Karnaval Rahmatan lil Alamin. Seluruh Ruhani para Nabi dan Rasul ingin mendukung perjuangannya. Kegiatannya ditunggu oleh penghuni langit (kalau pun penduduk bumi tidak menghiraukannya). Jika petinggi-petinggi ruhani turun ke bumi, maka ruhani-ruhani kelas bawah pun berpesta menyambutnya. Tidak ada yang sia-sia dari langkah ini, karena semuanya merupakan tuntutan amanah yang Allah berikan kepada Pewarisnya.
Para malaikat akan menaungi dengan sayap-sayapnya rombongan Birokrasi Ilahiyyah ini. Jika kita diinformasikan bahwa para malaikat akan turun ke bumi, lalu menghamparkan mutiara di sepanjang perjalanan Karnaval, maka apakah kita mengernyitkan kening, dan bergumam, ‘Bagaimana mungkin?’
Kita akan menggunakan logika yang sama jika diinformasikan, ‘Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari bau kesturi’. Mana mungkin mulut yang bau dikatakan lebih harum dari kesturi? Inilah bahasa ruhani! Bukan bahasa lahir!
Apapun informasi ruhani seperti Lailatul Qadr, tidak akan mengubah pengalaman inderawi kita. Karena kita tidak melihat dan merasakan gegap gempita penghuni ruhani di langit turun ke bumi menyenandungkan tasbih dan dzikir. Kenyataan ruhani terkubur oleh kenyataan lahiri.
Kenyataan-kenyataan ruhani merupakan wilayah keimanan yang hanya dapat disentuh melalui dzauq (rasa) jiwa. Dan fenomena tersebut merupakan Busyra (kabar gembira) bagi para Awliya dalam kehidupan dunianya, sebagai bukti ketundukannya kepada apa yang diperintahkan.
Apa yang dibijaki oleh seorang Syekh Mursyid yang menjadi penerus Nabi Saw (sekalipun dijumpai kekurangan manusiawinya) merupakan ujian kecintaan murid kepada Gurunya. Kecintaan yang tulus tidak akan melahirkan kekecewaan dan kerugian. Al-Mar’u ma’a man Ahabb. Seseorang akan beserta dengan orang yang ia cintai (Al-Hadits).
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. (Q.S. Maryam: 25)
Dan saya katakan, “Dan goyanglah pangkal pohon kecintaan Syekh-mu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kecintaan yang manis kepadamu”.
Hanya kerinduan atau kecintaan yang membuahkan tangisan-tangisan. Dan itulah yang tampak pada beberapa majelis di Tarekat Idrisiyyah, karena luapan kegembiraan dan kedahsyatan rindu yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Dan ilmu-ilmu tidak mampu menjangkaunya. Ilmu manusia tidak cukup untuk mengukurnya. Dengan kecintaannya ia menggenggam perintah tanpa bahasa penolakan, atau diam karena ketidakberdayaan.
Seorang ahli hikmah berkata, “Diam adalah bahasa ketabahan”
“Diamnya orang awam adalah dengan mengekang lidahnya untuk tidak berbicara, sementara diamnya orang Arifin dengan mengendalikan hatinya. Sedangkan diamnya para Pencinta (Al-Muhibbin) dengan mengendalikan bersitan-bersitan hati nuraninya”.
“Manusia diciptakan hanya dengan satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan dua telinga. Mengapa?..... Agar ia mendengar dan mau memperhatikan lebih banyak daripada berbicara”.
Selasa, 7 Rabi’ul Akhir 1429 H/13 Mei 2008.
LqmnA

Prasangka yang meremehkan

Imam Qusyairi Rhm. berkata, ‘Tidak satupun zaman dalam periode Islam, melainkan selalu ada seorang Syeikh dari para tokoh Shufi ini, yang mempunyai ilmu tauhid dan kepemimpinan spiritual. Tokoh-tokoh panutan umat dari kalangan para ulama pada waktu itu benar-benar telah berpasrah diri kepada Syeikh tersebut, bertawadhu’ dan menyerap barakah darinya. Kalau saja tiada keistimewaan dan citra khususiyyah-nya niscaya akan terjadilah persoalan sebaliknya. Inilah yang dialami oleh Imam Ahmad bin Hanbal ketika bersama asy Syafi’i Ra. datanglah Syaiban ar Ra’yi’.
Ahmad bin Hanbal berkata: “Wahai Abu Abdullah , aku ingin mengingatkan orang ini akan kekurangan ilmunya, agar mau tekun meraih sebagian pengetahuan”. Maka asy Syafi’i berkata, “Jangan anda lakukan!” Namun Ahmad tetap saja berupaya. Ahmad berkata kepada Syaiban, “Apa pendapatmu bila ada orang lupa akan shalatnya dari shalat lima waktu sehari semalam. Sementara ia tidak mengerti shalat mana yang terlupakan? Apa kewajiban bagi orang tersebut, wahai Syaiban?” Syaiban menjawab, “Wahai Ahmad, itulah hati yang lupa kepada Allah SWT. Kewajibannya ia harus belajar adab, sehingga ia tidak lupa Tuannya”. Seketika itu pula Ahmad pingsan mendengar jawaban Syaiban. Ketika sadar, as-Syafi’i berkata kepada Ahmad, “Bukankah sudah kukatakan, jangan mengganggunya! Syaiban ini orang yang buta huruf. Apabila orang yang buta huruf (ummy) seperti dia dari kalangan mereka (kaum Shufi)) saja demikian itu, lalu bukankah betapa hebat imam-imam mereka?”
Hasan al-Bashry masuk sebuah masjid untuk shalat Maghrib. Ternyata imam masjid tersebut adalah orang ’Ajam (non Arab). Al-Bashry tidak mau shalat bermakmum di belakangnya, karena khawatir logat Ajam imam itu tidak fasih. Ketika tidur al-Bashry bermimpi bertemu dengan seseorang yang bertanya, “Kenapa Anda tidak shalat di belakangnya? Sungguh, jika engkau shalat di belakangnya, dosamu yang telah lalu akan diampuni semua”.
Syaikh Yusuf Tajul Khalwati al Makassari dalam risalahnya yang berjudul Zubdatul Asrar menulis, Sekali-sekali saya peringatkan dengan hati-hati, peliharalah baik-baik jangan sampai timbul kekhawatiran dan keraguan untuk mengikuti Syaikhmu itu, walaupun engkau melihatnya ia berbuat sesuatu pekerjaan yang bukan mengarah pada taqarrub kepada Allah SWT. Akhirnya, dalam hal ini dikatakan oleh Syaikh Besar dan Imam yang terkenal Muhyiddin ‘Ibnu ‘Arabi Rahimahullahu’anhu: “Andaikata engkau telah menyaksikan Syaikhmu bahwa ia berbuat yang bertentangan dengan hukum syari’at, maka jelas manusia sesudah Nabi-nabi tidak ada yang sunyi dari dosa. Adapun berdosa itu tidak menjadi syarat dan fungsi Syaikh dan tidak pula menjadi syarat bagi orang-orang ‘Arif (makrifat) terhadap Allah Ta’ala”. Telah diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:”Barangsiapa mengaku dirinya ma’shum (merasa bebas akan dosa) setelahku bukanlah ia dari umatku”.
Rasulullah Saw yang ma’shum saja pernah bersabda:
اَللّهُمَّ إِنِّيْ بَشَرٌ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ فَأَيُّمَا امْرِئٍ سَبَّبْتُهُ أَوْ لَعْنَتُهُ فَاجْعَلْ ذٰلِكَ كَفَّارَةً لَّهُ
“Yaa Allah, sesungguhnya aku adalah manusia biasa yang bisa marah sebagaimana orang lain marah. Maka jika ada orang yang aku lecehkan atau aku laknat, maka jadikanlah itu sebagai kaffarat (tebusan) dosanya”. (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah, & Ahmad)
Jika Beliau Saw sebagai teladan umat mengungkapkan kekurangannya dari sisi manusiawinya, apalagi seorang Waratsatul Anbiya’ (pewarisnya). Meskipun begitu kita tidak menampakkan ketidakpercayaan kepada Beliau Saw. Beliau bahkan dianggap sebagai sosok manusia yang utama di antara manusia lainnya. Apakah kita tidak menaruh kepercayaan pula kepada petugasnya yang juga memiliki kekurangan dari sisi manusiawi? Orang yang bersahabat dengan rasa cinta tidak akan menemui kekurangan apalagi bersahabat dengan Kekasih Allah.
Dikisahkan bahwa ada seorang yang bersahabat dengan Ibrahim bin Adham. Ketika orang tersebut mau berpisah berkata, ‘Bila engkau melihat diriku ada cacat, maka ingatkanlah diriku’. Ibrahim menjawab, ‘Aku tidak pernah melihat cacatmu, karena aku melihatmu dengan mata Mahabbah, sehingga aku selalu memandangmu dengan mata pandangan qalbuku. Tanyakan saja selain diriku tentang cacatmu’.
Rasulullah Saw menyatakan: “Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, hendaknya kalian (mau) mendengar dan taat, meskipun budak hitam legam yang memerintahmu (menjadi pemimpinmu)” [H.R. Thabrani].
Ketakwaan diwujudkan dengan ketundukan kepada orang yang memimpin kita, walau (menurut kacamata) kita ia banyak kekurangan. Bahkan Rasulullah Saw mengisyaratkan kriteria pemimpin itu dalam keadaan yang di bawah standar keinginan kita.

Senin, 12 Mei 2008

NIAT MENJADI MURID

Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.....
Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya setiap amal (bergantung) kepada niatnya, dan setiap perkara menurut apa yang ia niatkan.....” HR. Bukhari dan Muslim dari Amar, Muwatha dari Muh. bin Hasan.
Di antara para Ahli Fiqih menyatakan bahwa hadits ini masuk dalam 30 Bab ilmu pengetahuan. Kita tidak mengetahui kedalaman niat seorang Syekh terhadap penerapan suatu kebijakan kepada murid-muridnya. Kecintaan murid kepadanya melupakan mereka untuk bertanya mengapa? Mereka telah mengutamakan menjaga perasaan Syekh dari pada ungkapan-ungkapan yang lahir dari bersitan-bersitan hatinya yang dikhawatirkan bercampur dengan syahwatnya.
Memendam pertanyaan bagi orang yang diberi pengetahuan adalah ujian yang lebih berat dari pada lainnya dalam perkara ini. Para Imamaini (pangkat kewalian setelah Sulthan Awliya) yang ada dalam Tarekat Idrisiyyah sangat teguh penjagaannya berkenaan masalah menjaga perasaan Syekh ini.
Ada sebuah kisah yang yang tidak ada pada literatur tertulis, bahwa Syekh al-Akbar Abdul Fattah Ra. Mengawali perjalanannya mengembara mencari Syekh Mursyid (dengan pijakan Q.S. Al-Kahfi: 17). Kegigihan pencariannya itu bertahan begitu lama hingga ia ditakdirkan dapat menjumpai Syekh Mursyid yang ia cari, yakni Sidi Ahmad Syarif as-Sanusi al-Khathabi al-Hasani di Jabal Abu Qubais, Mekah al-Mukarramah.
Setelah sekian tahun ia bersama dengan Syekh-nya, kecintaannya itu melahirkan ujian-ujian yang cukup berat bagi dirinya. Di antara ujian yang terberat adalah berita-berita ruhaniyah yang sering dialaminya, khususnya perjumpaan dengan Rasulullah Saw. Beliau Saw suatu ketika menginformasikan kepadanya bahwa Khilafah Tarekat yang dipegang oleh Syekh Ahmad Syarif ini akan dilimpahkan kepada Abdul Fattah. Kabar ini (setelah beliau mengalami beberapa kejadian) akhirnya beliau ungkapkan kepada gurunya, Sidi Ahmad Syarif. Asy-Syekh berkata, ‘Apa niatmu pertama kali datang ke sini? Ingin menjadi murid atau ingin menjadi Guru’. ‘Ingin menjadi murid ya Sayyidi!’ jawab Abdul Fattah. ‘Maka, luruskan niatmu itu!’ Gurunya menegaskan.
Dengan jawaban Gurunya tersebut Abdul Fattah tidak kecewa, bahkan apa yang membayanginya itu selalu ia buang jauh-jauh dari angan-angannya (bahasa Sunda-nya dikepret-kepret keun). Abdul Fattah senantiasa bersangka baik bahwa bukanlah perkataan itu menandakan ketidaktahuan Gurunya, melainkan bimbingan kasih sayangnya kepadanya agar perjalanannya bermakrifatullah tidak terjegal di tengah jalan.
Jawaban itu menimbulkan renungan yang mendalam dan mengakhiri kegelisahan Abdul Fattah muda yang ketika itu dipercaya menjadi Wakil Talqin bagi murid-murid baru, bahkan kerap kali menggantikan posisi Gurunya tersebut mengajar. Ia menjadi fokus, dan tiada mempedulikan berita apapun.
Inilah niat. Kita tidak mengetahui niat seseorang, apalagi kekhususan niat seorang Syekh yang dipilih-Nya yang kita andalkan dapat meluruskan niat-niat kita selama ini dalam berguru kepadanya. Yang perlu kita perbuat adalah mengosongkan niat kita dari keinginan lain, yang kita harapkan adalah menjadi murid yang tulus, yang mendapat curahan air petunjuk Allah yang lahir dari lisan dan Ahwal Syekh. Hal tersebut tidak akan diperoleh melainkan mengosongkan ‘wadah’ yang ada pada diri kita agar makanan jiwa yang masuk kepada kita begitu murni dan menyehatkan.
Inilah sejalan dengan apa yang dikatakan Syekh Abu Nashr Sarraj (Thaus al-Fuqara), yang meriwayatkan perkataan seorang Shufi besar, ‘Awal perjalanan (Bidayah) sama seperti akhir perjalanan (Nihayah). Dan begitu pula akhir perjalanan sama seperti permulaan. Maka barang siapa di akhir perjalanannya meninggalkan sesuatu yang ia lakukan (perjuangkan) seperti awal perjalanannya itu, maka sebenarnya ia telah tertipu’.

MENJAGA PERASAAN HATI SYEKH

Allah SWT berfirman:
هل أتبعك على أن تعلمني مما علمت رشداً
“Musa berkata kepada Khidhir, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar kamu mengajarkan kepada ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu”. (Q.S. Al-Kahfi: 66)
Al-Junaid berkata, “Ketika Musa ingin berguru kepada Khidhir, beliau menjaga syarat-syarat etika. Pertama, mohon izin dalam berguru, lantas Al-Khdhir memberi syarat kepadanya agar tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak mengajukan protes atas keputusannya. Namun ketika Musa As mulai kontra terhadapnya, dibiarkanlah sikapnya yang pertama dan kedua. Tetapi ketika kontra untuk ketiga kalinya – dan yang ketiga merupakan batas minim dari jumlah banyak dan awal dari batas banyak – maka terjadilah perpisahan. Khidhir berkata:
هذا فراق بيني وبينك
Inilah perpisahan antara aku dan antara kamu!” (Q.S. Al-Kahfi: 78)
Rasulullah Saw bersabda:
مَا أَكْرَمَ شاب شيخاً لسنَّه إلا قبض الله تعالى له من يكرمه عند سنه
Tiadalah orang muda yang menghormati seorang Guru (Syekh) karena usianya, melainkan Allah akan menakdirkan baginya kelak orang akan menghormati dirinya saat usianya sudah tua”. (HR. Tirmidzi)
[Berkata Imam Qusyairi]: Saya mendengar Syekh Abu Ali ad-Daqqaq Ra. Berkata, “Awal segala perpisahan adalah pertentangan. Yakni, orang yang kontra dengan Syekhnya,berarti ia tidak menetapi tarekatnya. Hubungan antara keduanya telah terputus, walaupun keduanya terkumpul dalam satu bidang tanah. Barang siapa berguru kepada salah satu Syekh, kemudian dalam hatinya ada konflik, maka janji pertalian Guru dan murid telah rusak, dan ia wajib bertobat”.
Salah satu Syekh berkata, “Menyakiti para guru, tidak ada lagi tobatnya”.
[Berkata Imam Qusyairi]: Saya mendengar Abu Abdurrahman as-Sulamy berkata, “Aku pergi ke Merw pada saat Syekh-ku, Abu Sahl ash-Shu’luky masih hidup. Sebelum aku keluar dulu, pada hari-hari Jum’at pagi selalu ada majelis Khatmul Quran. Tetapi ketika aku kembali, majelis tersebut telah tiada. Diganti dengan suatu forum diskusi yang dipimpin oleh Abul ghaffany. Kenyataan itu membuatku gelisah, dan aku berkata pada diriku sendiri, “Ini sebuah majelis Khatmul Quran telah diganti dengan majelis diskusi”. Kemudian suatu hari Syekh berkata kepadaku, “Hai Abu Abdurrahaman, apa yang diperbincangkan banyak orang tentang diriku?” Aku katakan kepadanya, “Mereka mengatakan, majelis al-Quran al-Karim telah dihilangkan dan diganti dengan majelis diskusi”. Lantas Syekh berkata, “Siapa saja yang berkata kepada Gurunya mengapa? Maka dia tidak akan bahagia selamanya”.
Ucapan yang populer dari al-Junaid, antara lain, “Aku memasuki rumah Sary as-Saqathy pada suatu hari. Dia memerintahkan sesuatu padaku, dan aku bergegas memenuhi kebutuhannya. Maka di saat aku kembali kepadanya, ia memberikan aku secarik kertas, sembari berkata, “Inilah kedudukan pemenuhanmu atas kebutuhanku yang begitu cepat”, lalu aku kubaca pada kertas itu, ternyata di sana tertulis:
Aku mendengar orang yang berjalan di padang pasir menyanyi,
أبكي، وهل يدريك ما يبكيني ...
أبكي جداراً أن تفارقيني وتقطعي حبلي وتهجريني

Aku menangis, dan tahukah engkau mengapa?
Aku menangis karena ketakutan
bila engkau (Syekh) memisahkan diriku
bila engkau memutuskan ikatan-ikatan hatiku
bila engkau menghindar dariku
Diriwayatkan dari Abul Hasan al-Hamadzany al-Alawy yang berkata, “Suatu malam aku berada di tempat Ja’far al-Khuldy. Padahal waktu itu aku diperintah untuk menggantungkan burung di atas dapur. Hatiku sangat berkait dengan burung itu. Ja’far berkata kepadaku, “Bangunlah malam ini”. Aku merasa ada yang mengganjal dan aku pun pulang. Ku keluarakan burung dari dapur dan ku letakkan di sisiku. Tiba-tiba ada anjing masuk dari arah pintu. Anjing itu langsung meraih burung,di saat orang-orang yang hadir alpa. Ketika esok paginya aku datang ke Ja’far, sejenak pandang matanya tertuju padaku, dan berkata, “Siapa yang tidak menjaga perasaan hati para Syekh, ia akan dipaksa oleh anjing yang menyakitinya”.
Abdullah ar-Razy mendengar abu Utsman Said al-Hiry sedang menjelaskan sifat Muhammad ibnul Fadhl al-balkhy, dan memuji-mujinya. Tiba-tiba Abdullah sangat rindu pada al-Balkhy, kemudian pergi berziarah padanya. Namun hatinya tidak berkenan pada Muhammad bin Fadhl. Lalu ia kembali kepada Abu Utsman, dan Abu Utsman bertanya, “Bagaimana, anda sudah menemuinya?” Abdulah menjawab, “Aku tak menemui apa-apa sebagaimana kuduga”.Lantas Abu Utsman berkata, “Karena Anda menganggapnya remeh. Dan tak ada seorang pun yang menganggap rendah seseorang, melainkan ia terhalang dari sari faedah. Kembalilah padanya dengan penuh hormat”. Abdullah pun kembali kepadanya dan banyak mengambil manfaat dari ziarahnya itu.
Syekh Abu Ali ad-Daqqaq Ra. Berkata, “Ketika penduduk Balkh mengusir Muhammad ibnul Fadhl dari daerahnya, dia mendo’akan mereka, “Ya, Allah, cegahlah kejujuran dari mereka”. Maka setelah itu tak seorang jujur pun yang muncul dari daerah Balkh.
Saya mendengar Ahmad bin Yahya al-Aiwardy Rhm. berkata, “Barang siapa Syekhnya ridha, ia tidak akn menyimpang pada saat hidupnya, dengan maksud agar rasa takzimnya kepada Syekh tersebut hilang. Apabila Syekh telah meninggal dunia, Allah SWT akan menampakkan balasan ridhanya Syekh kepadanya. Namun,barang siapa membuat hati Syekh-nya berubah, maka ia tidak akan menyimpang pada zaman Syekh tersebut hidup, karena ia tak ingin membelenggunya. Mereka senantiasa memiliki karakter untuk menghormati. Apabila Syekh tersebut meninggal dunia, maka pada saat itulah muncul suatu penyimpangan sepeninggalnya”.
[Petikan Kitab Risalah Qusyairiyyah]

Kamis, 03 Januari 2008

Fadhilah (keutamaan) Ber-Tasawuf

Sayyidi Syaikh Abdul Wahhab as Sya’rani Rhm bercerita: “Aku melihat Nabi SAW di dalam tidurku, maka aku berkata: ‘Ya Rasulullah! Bahwasanya hamba sekarang ini seperti kanak-kanak yang baru belajar Ilmu Tasawuf”. Maka sabda Nabi SAW: “Baca (perhatikan) olehmu akan perkataan kaum Ahlus shufi itu, maka bahwasanya orang yang mubtadi (pemula) yang baru belajar Ilmu Tasawuf itu, yaitu Wali Allah. Adapun orang yang berilmu Tasawuf ini, maka yaitu seperti bintang yang tiada dapat dihinggakan akan dia (ketinggiannya)”.
Imam al Ghazali menukil dalam kitab Ihya’nya daripada perkataan sebagian ‘Arifin:
مَنْ لَـمْ يَكُـنْ لَّه نَصِيْبٌ مِنْ عِلْـمِ الْـقَوْمِ يَـخَافُ عَلَيْهِ سُوْءُ الْـخَاتِـمَةِ وَأَدَّنِيْ نَصِيْبٌ مِنْهُ التَّصَوُّف مِنْهُ التَّصْدِيْقُ وَالتَّسْلِيْمُ لأَهْلِه
“Barang siapa yang tiada mengetahui bagian-bagian dari Ilmu kaum Shufi dikhawatirkan mati dalam keadaan Su-ul Khatimah dan sekurang-kurangnya bagian itu adalah membenarkan (Tashdiq) dan berserah diri terhadap ahlinya (Taslim)”.
Syaikh Junaid al Baghdadi Rhm berkata:
التَّصْدِيْقُ بِعِلْمِنَا هذَا وِلاَيَةُ الصُّغْرى
“Orang yang membenarkan Ilmu kami ini (yakni Ilmu Tasawuf ini adalah termasuk daripada Wali Allah yang kecil”.
Syaikh Abu Yazid al Busthami Qs. Berkata:
إِذَا رَأَيْتَ أَحَدًا يـُحْسِنُ الظَّنّ بِكَلَامِ أَهْلِ هذَا الطَّرِيْقِ فَقُلْ لَه يَدْعُوْلَكَ فَإِنَّه مُـجَابُ الدَّعْوَةِ
“Jika engkau melihat seseorang berhusnuz-zhan dengan perkataan Ahli Thariqah ini (Shufi), maka katakanlah agar engkau dido’akan, karena sesungguhnya ia menjadi mustajab do’anya”.
Ruwaim Rhm berkata:
مَنْ آمَنَ بِكَلَامِنَا هذَا وَلَوْ مِنْ وَّرَآءِ سَبْعِيْنَ حِـجَابًا فَهُوَ مِنْ أًهْلِه
“Barang siapa mempercayai perkataan kami ini (Ahli Shufi) ini meskipun ia berada di belakang 70 hijab (dinding), maka sesungguhnya ia termasuk daripada Ahlinya”.
Syaikh Zakaria Khandalawi dalam kitab Fadhilah Tabligh-nya mengemukakan beberapa keterangan hadits:
 Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Luqman al Hakim berkata kepada anaknya: '‘Wahai anakku, hendaknya engkau menyertai para Ulama dan dengarkan ucapan-ucapan ahli, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan”.
 Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Siapakah sahabat yang paling baik bagi kami?” Jawabnya: “Seseorang yang apabila kamu melihatnya,
 kamu akan teringat kepada Allah. Apabila kamu mendengar pembicaraannya, pengetahuanmu mengenai Islam akan bertambah. Dan apabila kamu melihat kelakuannya, kamu akan teringat hari kiamat”.
 Dalam hadits lain disebutkan bahwa hamba Allah yang terbaik adalah orang yang apabila kamu melihatnya, kamu akan teringat kepada Allah, Allah SWT berfirman:
يَآ أَيّـُهَا الَّذِيْنَ أمَنُوا اتَّـقُوا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama Shiddiqin (orang-orang yang benar)”. (At Taubah: 119)
Para ahli tafsir telah menafsirkan bahwa orang-orang Shiddiqin dalam ayat ini maksudnya adalah para Ulama Ahli Shufi dan para kekasih Allah (Awliya). Karena barang siapa berdekatan dengan mereka dan berkhidmah kepada mereka, akan mendapatkan tarbiyah dan kekuatan iman.
Dan masih banyak lagi keutamaan orang-orang yang menjalani Ilmu Tasawuf itu, yang tak dapat diuraikan di sini, dan mencukupilah kiranya apabila kita lihat uraian imam al Ghazali dalam kitab-kitabnya.
(Hikayat)
Syaikh Abdul Wahhab as Sya’rani di dalam kitabnya Madarijus Salikin mengisahkan suatu suatu peristiwa yang terjadi pada diri Syaikh Junaid Rhm, bahwa suatu jama’ah yang menuntut ilmu di Baghdad meninggalkan Guru fiqihnya, dan bergabung duduk bersama dalam halaqah Sufi al Junaid, sehingga membuat marah gurunya itu, sampai-sampai menghina dengan kata-katanya atas golongan Shufi. Maka disuruhlah gurunya itu untuk datang kepada al Junaid.
Maka berkatalah al Junaid kepada guru tersebut: “Wahai saudaraku, jika seorang hamba yang ingin bermaksud bertemu dengan kekasihnya memiliki 2 pilihan, ada yang sampai kepada kekasihnya dengan perjalanan kira-kira 30 tahun lamanya dan pilihan lainnya sampai kepada kekasihnya itu dengan waktu singkat kira-kira setahun lamanya. Maka manakah yang anda pilih?” Guru syariat itu berkata: “Tentu aku memilih jalan yang paling dekat dan cepat”. Berkata al Junaid: “Benar”. Lalu berkata guru tersebut: “Thariqah (jalan) kami adalah jalan yang paling dekat kepada Hadhrat Allah Ta’ala Al Haqq daripada thariqah (jalan)mu”. Maka berkatalah al Junaid: “Jalan dzikir kepada Allah itu lebih dekat/ mudah sampai kepada Allah daripada jalan mengetahui hukum-hukumNya, dikarenakan jalan syariat itu berhubungan dengan makhluk, sedangkan ‘jalan’ dengan dzikrullah itu berhubungan langsung dengan Allah Ta’ala Al Haqq”.
Guru syariat itu akhirnya berkata: “Apakah bukti kebenaran ucapan kamu itu?” Maka seru al Junaid kepada yang hadir: “Ambillah batu ini dan lemparlah kepada orang-orang Sufi yang faqir yang sedang berdzikir”. Maka ketika dilempar, berteriaklah mereka disertai ucapan ‘Allah, Allah’, dikarenakan asyiknya akan dzikrullah. Kemudian al Junaid memerintahkan mengambil batu yang lain untuk dilempar ke tengah-tengah jama’ah fuqaha. Dan ketika dilempari batu itu, maka terlihatlah jama’ah itu marah semuanya sambil berkata: ‘Tidak boleh engkau melakukan pelemparan seperti tadi, perbuatanmu itu haram!’
Menyaksikan perbedaan mencolok tadi, akhirnya sang guru syariat mengakui keunggulan dan kebenaran al Junaid: ‘Aku mohon ampun kepada Allah atas apa-apa yang menyalahi akan engkau, sekarang benarlah perbuatanmu tadi’. Lalu ia menjadi sahabat al Junaid dan mengambil thariqah daripada al Junaid, sampai ia menjadi sahabatnya yang paling dekat.
************
Imam Qusyairi mengatakan: “Manusia adakalanya terpukau pada ayat dan hadits, adakalanya cenderung pada penggunaan akal dan pikirannya. Bagi manusia pada umumnya, sesuatu yang tampak ghaib bagi mereka menjadi tampak jelas bagi kalangan Shufi. Bagi khalayak, pengetahuan merupakan tumpuan, namun bagi kalangan Shufi pengetahuan itu didapat dari Al Maujud, Allah Al Haq. Mereka adalah sekumpulan hamba yang senantiasa berjumpa dengan Allah SWT (Ahlul Wishal), sementara manusia pada umumnya berpihak pada pencarian bukti (Ahlul Istidlal). Para Shufi itu adalah sebagaimana yang diungkapkan penyair:
Malamku, bersama WajahMu, cemerlang
Sedang kegelapan menyelimuti manusia
Manusia dalam kegelapan yang gulita
Sedang kami dalam cahaya siang benderang.
Tidak satupun zaman dalam periode Islam, melainkan selalu ada seorang Syeikh dari para tokoh Shufi ini, yang mempunyai ilmu tauhid dan kepimpinan spiritual. Tokoh-tokoh panutan umat dari kalangan para ulama pada waktu itu benar-benar telah berpasrah diri kepada Syeikh tersebut, bertawadhu’ dan menyerap barakah darinya. Kalau saja tiada keistimewaan dan citra khususiyyahnya niscaya akan terjadilah persoalan sebaliknya. Inilah yang dialami oleh Imam Ahmad bin Hanbal ketika bersama asy Syafi’i Ra. Datanglah Syaiban ar Ra’yi.
Ahmad bin Hanbal berkata: “Wahai Abu Abdullah , aku ingin mengingatkan orang ini akan kekurangan ilmunya, agar mau tekun meraih sebagian pengetahuan”. Maka asy Syafi’i berkata, “Jangan anda lakukan!” Namun Ahmad tetap saja berupaya. Ahmad berkata kepada Syaiban, “Apa pendapatmu bila ada orang lupa akan shalatnya dari shalat lima waktu sehari semalam. Sementara ia tidak mengerti shalat mana yang terlupakan? Apa kewajiban bagi orang tersebut, wahai Syaiban?” Syaiban menjawab, “Wahai Ahmad, itulah hati yang lupa kepada Allah SWT. Kewajibannya ia harus belajar adab, sehingga ia tidak lupa Tuannya”. Seketika itu pula Ahmad pingsan mendengar jawaban Syaiban. Ketika sadar, as Syafi’i berkata kepada Ahmad, “Bukankah sudah kukatakan, jangan mengganggunya! Syaiban ini orang yang buta huruf. Apabila orang yang buta huruf seperti dia dari kalangan mereka (kaum Shufi)) saja demikian itu, lalu bukankah betapa hebat imam-imam mereka?”
************
Dikisahkan bahwa Ahmad bin Hanbal sangat sering mengunjungi Bisyr Harits al Hafi. Ia begitu mempercayai kata-kata Bisyr sehingga murid-muridnya pernah mencela sikapnya itu.
“Pada saat ini tidak ada orang yang menandingimu di bidang hadits, hukum, teologi, dan setiap cabang ilmu pengetahuan, tetapi saat engkau menemani seorang berandal. Pantaskah perbuatanmu itu?”
“Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli daripada Bisyr”, jawab Ahmad bin Hambal, “Tetapi mengenai Allah ia lebih ahli daripadaku”.
************
Diriwayatkan bahwa ada seorang ahli fiqih dari kalangan Fuqaha besar mempunyai majelis halaqah yang berdekatan dengan halaqah Dulaf asy Syibli di Masjid al Manshur. Faqih besar itu dipanggil dengan nama Abu Amran, yang meremehkan halaqah dan ucapan-ucapan asy Syibli. Suatu hari para murid Abu Amran bertanya kepada asy Syibli tentang masalah haid, dengan tendensi (maksud) ingin mempermalukannya. Asy Syibli menjawab dengan berbagai pandangan ulama mengenai masalah tersebut serta menyebutkan soal khilafiyah dalam masalah haid. Abu Amran langsung berdiri, mencium kepala asy Syibli sambil berkata, “Wahai Abu Bakar , engkau telah menyerap sepuluh pandangan tentang masalah haid yang belum pernah aku dengar sama sekali. Sedangkan yang kuketahui hanya tiga pandangan saja”.
Dikatakan, “Abul Abbas Suraij adalah seorang ulama fiqih yang pernah menghadiri majelis al Junaid Ra. Dan mendengarkan penuturannya. Kemudian Abul Abbas ditanya, “Apa pendapatmu tentang ucapan itu?” Ia menjawab, “Aku tidak mengerti apa yang diucapkan al Junaid. Namun aku tahu ucapan itu merupakan lompatan, yang bukan tergolong lompatan kebatilan”.
Dikatakan kepada Abdullah bin Sa’id bin Kilab, Anda berbicara pandangan masing-masing ulama. Lalu di sana ada seorang tokoh yang dipanggil dengan nama al Junaid. Lihatlah, apakah anda kontra atau tidak?” Abdullah lalu menghadiri majelis al Junaid. Ia bertanya kepada al Junaid tentang tauhid, lalu Junaid menjawabnya. Namun Abdullah kebingungan. Lantas kembali bertanya kepada al Junaid, “Tolong anda ulang ucapan tadi bagiku!” Al Junaid mengulangi, namun dengan ungkapan yang lain. Abdullah lalu berkata, “Wah, ini lain lagi, aku tidak mampu menghafalnya. Tolonglah anda ulangi sekali lagi!” Lantas al Junaid pun mengulanginya, tetapi dengan ungkapan yang lain lagi. Abdullah berkata, “Tidak mungkin bagiku memahami apa yang anda ucapkan. Tolonglah anda uraikan untuk kami!” Al Junaid menjawab, “Kalau anda memperkenankannya, aku akan menguraikannya”. Setelah dijelaskan dengan uraian panjang lebar, lalu Abdullah berdiri, dan berkata akan keutamaan al Junaid beserta keunggulan moralnya. “Apabila prinsip-prinsip kaum Shufi merupakan prinsip yang paling shahih, dan para Syeikhnya merupakan tokoh besar manusia, ulamanya adalah yang paling alim di antara manusia. Bagi para murid yang tunduk kepadanya, jika sang murid itu termasuk ahli salik dan penempuh tujuan mereka, maka para Syeikh inilah yang menjaga apa yang teristimewa, berupa terbukanya keghaiban. Karenanya, tidak dibutuhkan lagi bergaul (terkait) dengan orang yang ada di luar golongan ini. Bila ingin mengikuti jalan Sunnah, sementara dirinya tidak sanggup untuk mandiri dalam hujjah, lalu ingin menahapi wilayah bertaklid agar bisa sampai pada kebenaran, hendaknya ia bertaklid kepada Ulama salafnya. Dan hendaknya melintasi jalan generasi Shufi ini, sebab mereka lebih utama dari yang lain”.
Al Junaid berkata, “Jika anda mengetahui bahwa Allah memiliki ilmu di bawah atap langit ini yang lebih mulia daripada ilmu Tasawuf, di mana kita berbicara di dalamnya dengan sahabat-sahabat dan teman kita, tentu aku akan berjalan dan mencari ilmu tadi”.
************
Adapun tujuan utama mendalami Tasawuf adalah untuk mencapai Ma’rifatullah yang sebenar-benarnya (hakiki), dan faedahnya sampai kepada Allah Ta’ala dengan tersingkapnya hijab (dinding) yang membatasi dirinya yang dhaif dengan Allah Yang Quddus. Jadi bisa dikatakan bahwa tujuan terakhir dan utama dari semua pelaksanaan ibadah seorang hamba adalah mengenal Tuhan yang sebenar-benarnya yang dikatakan sebagai Makrifatullah. Dan dengan mempelajari ilmu Tasawuf itulah merupakan kunci mengenal Allah melalui pengenalan dirinya yang dhaif lagi faqir.
Adapun jalan untuk bermakrifat itu ada 2 cara:
1. Mulazamatudz Dzikri, terus menerus berada dalam dzikir (ingat) akan Alah Ta’ala.
2. Mukhalafa, yakni terus menerus menghindarkan diri dari segala sesuatu yang dapat melupakan Allah Ta’ala.
Sebagian ahli Tasawuf berkata: “Permulaan Tasawuf adalah ilmu pengetahuan, pertengahannya kekal mengerjakan ibadah dan akhirnya adalah mauhibiyyah, yaitu turunnya pemberian/ karunia Allah”.
Maka ilmu pengetahuan itu untuk membukakan kehendak. Amal ibadah menolong segala apa yang dimaksud. Dan pemberian (anugerah Allah) menyampaikan kepada apa yang dicita-citakan.
Nama-nama lain ilmu Tasawuf itu antara lain: ilmu Batin, ilmu Qalbi (hati), ilmu Laduni, ilmu Mukasyafah, ilmu Asrar, ilmu Maknun, ilmu Hakikat, dan lain-lain.

Mengapa berTasawuf

Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ فِيْ جَسَدِ ابْنِ أدَمَ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ لَهَا سَائِرُ الْبَدَنِ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ البَدَنِ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Sesungguhnya di dalam jasad anak Adam (manusia) terdapat sepotong daging, yang jika baik, maka baiklah seluruh badan, dan jika binasa (rusak) maka rusaklah seluruh badan. Ketahuilah ia adalah hati”.
Imam al Ghazali Rhm. berkata: “Sesungguhnya jelaslah sudah dengan hadits ini bahwa asal (pangkal) kemuliaan manusia terletak pada hatinya. Ia seperti raja bagi jasad dan seluruh anggota zhahir (selain hati) yang menjadi tentaranya”.
Ketahuilah, wahai saudaraku yang menjalani Thariqat menuju Makrifatullah, bahwa Ahli Shufi itu mengumpamakan hati itu seperti raja, mengumpamakan badan seperti negeri kerajaan dan anggota zhahir (badan) seperti tentaranya. (Yang dimaksud anggota zhahir di sini adalah mata,hidung, telinga, lidah, tangan, perut, faraj dan kaki). Maka jika hati itu baik niscaya baik pula seluruh anggota zhahirnya dan jika baik seluruh anggota zhahirnya itu, sempurnalah badannya. Sebaliknya jika rusak hatinya, niscaya rusak pula seluruh anggota zhahir dan jika rusak seluruh anggota zhahirnya maka rusaklah seluruh badannya.
Yang dimaksud baik hatinya adalah mengerjakan taat batin dan menjauhi segala maksiat yang batin dan yang dimaksud dengan baik zhahirnya adalah mengerjakan taat yang zhahir dan menjauhi maksiat yang zhahir. Taat yang batin itu yaitu melaksanakan sifat-sifat yang terpuji dan perangai yang baik, seperti ikhlas dalam ibadah, zuhud (tidak menggemarkan diri kepada dunia), wara’ (meninggalkan segala yang haram dan syubhat), sabar, syukur, tawakkal, mahabbah, ridha dan sebagainya. Maksiat yang batin yaitu segala sifat-sifat yang jelek dan perangai yang jahat, seperti: riya’, ‘ujub, kibir (sombong), ghadhab (marah), hasad, dan sebagainya. Taat yang zhahir yaitu: shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Maksiat yang zhahir, yaitu: berzina, dusta, dan sebagainya.
Jika engkau ditanya: ‘Dengan bagaimanakah caranya agar hati menjadi baik sehingga baik pula segala anggota yang zahir?’ maka jawabnya adalah bahwa hati dapat dijadikan baik dengan mengamalkan Ilmu Thariqat (Tasawuf), membanyakkan dzikrullah, karena hati tiada menjadi baik melainkan dengan menjalani ilmu tareqat ahli sufi (belajar ilmu tareqat kepada ahlinya) mengamalkannya, mengambil talqin dzikir/ bai’at kepada guru mursyid yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah saw – Jibril-Haq Allah SWT Jalla wa ‘Azza, membanyakkan zikir yang diambil mealui talqin zikir dari gurunya itu, mengerjakan seluruh awrad/ ratib dari gurunya tanpa menyalahi aturan thariqat gurunya.
Dan juga hati dapat diperbaiki dengan mempelajari ilmu yang memberi manfaat, seperti yang disebutkan oleh Imam Al Ghazali Rhm Ta’ala dalam Bidayatul Hidayah, Minhajul ‘Abidin, Ihya ‘Ulumuddin, kitab yang al Faqir terjemahkan ini (Siyarus Salikin), Nafahatul Uluhiyyah fii suluki Thariqi al Muhammadiyyah karangan Syeikh Muh. As-Samman, Wali Allah dari Madinah.
Dengan menjalani Thariqat Ahli Sufi ini akan sampailah kepada makrifat Allah yang sebenarnya, inilah yang menjadi kemuliaan dan kelebihan seorang manusia. Karena inilah Imam Al Ghazali berkata di dalam Ihya-nya:
فَشَرْفُ الْإِنْسَانِ وَفَضِيْلَتُهُ الَّتِيْ بِهَا فَاقَ جُمْلَةٌ مِنْ أَصْنَافِ الْـخَلْقِ بِاسْتِعْدَادِ لِـمَعْرِفَةِ اللهِ سُبْحَانَه وَتعَالى الَّتِيْ هِيَ فِى الدُّنيَا جَمَالِه وَكَمَالِه وَفَخْرِه وَفِى اْلأخِرَةِ عُدَّتِه وَذَخْرِه وَأَمَّا اسْتِعْدَادُ لـِمَعْرِفَةِ اللهِ بِقَلْبِه لاَ بِـجَارِحَةِ مِنْ جَوَارِه فَالْقَلْبُُ هُوَ الْعَالَـمُ بِاللهِ وَبِصِفَاتِه وَهُوَ الْعَامِلُ للهِ وَهُوَ السَّاعى إِلىَ اللهِ وَهُوَ الْـمُتَقَرََبُ إِلَيْهِ وَهُوَ الْـمُكَاشِفُ بـِمَا عِنْدَ اللهِ وَلَدَيـْهِ وَإِنَّـمَا الْـجَوَارِحُ أَتْبَاعٌ وَخُدَّامٌ وَالاتٌ يَسْتَخْدِِمُهَا الْقَلْبُ وَ يَسْتَعْمَلُهَا
اسْتِعْمَالَ الْمـَلَكُ لِلْعَبِيْدِ وَاسْتَخْدَامُ الرَّاعى لِرَعِيَّتِه وَالصَّانِعُ لألـَّتـِه

“Kemuliaan manusia dan kelebihannya, yang dengannya mengungguli segala makhluk disebabkan oleh potensi (kemampuan) menuju Makrifat Allah SWT (yakni dengan sebab menjalani thariqat yang menyampaikan kepada Allah) di dunia sebagai keindahan, kesempurnaan, kemegahannya, di akhirat sebagai bekal dan simpanannya. Adapun yang dapat dijadikan sarana menuju makrifatullah adalah hati, bukan anggota tubuh lainnya. Dan hati itulah yang mengetahui keadaan Wujud Allah dan segala Sifat-sifatnya yang Qadim, yang menyebabkan beramal karena Allah, yang menghampiri kepada Allah, yang mendekatkan diri kepada Nya, yang menyingkapkan apa-apa yang ada di HadhiratNya. Sedangkan anggota tubuh lainnya hanya pengikut, pembantu, alat berkhidmah kepada hati, sebagaimana raja, memberikan pekerjaan bagi pelayannya, pemimpin menyuruh kepada bawahannya dan majikan memperkerjakan pegawainya”.
(Ihya Ulumuddin III: 2)
Dan kata Imam al Ghazali:
وَاْلقَلْبُ هُوَ مَقبُوْلٌ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَه وَتعَالى إنَّ سَلَّمَ مِنْ غَيْرِ اللهِ وَهُوَ الْـمَحْجُوْبُ عَنِ اللهِ إِذَا صَارَ مُسْتَغْرِقًا بِغَيْرِ اللهِ وَهُوَ اْلـمُطَالِبُ وَهُوَ الْمُخَاطِبُ وَالْمُعَاتَبُ وَهُوَ الْمُعَاقَبُ وَهُوَ الَّذِيْ يُسْعِدُ بِالْقُرْبِ مِنَ اللهِ فَيُفْلِحُ إِذَا زَكَاهُ وَهُوَ الَّذِيْ يـَخِيْبُ ويَُشْقى إِذَا دَنَسَه وَهُوَ الْـمُطِيْعُ بِالْـحَقِيْقَةِ للهِ تَعَالى وَإِنـَّمَا الَّذِيْ يُنْشِرُ عَلىَ الْـجَوَارِحِ مِنَ الْعِبَادَةِ أنَْوَارِه وَهُوَ الْعَاصِى الْـمُتَمَرَّدُ عَلىَ اللهِ تَعَالى وَإِنـَّمَا السَّارى إِلىَ الأَعْضَاءِ مِنَ الْفَوَاحِشِ آثـَـارِ.
“Hati itu maqbul (diterima) di sisi Allah SWT jika selamat (bersih) dari selain Allah, dan menjadi Mahjub (terdinding/ tertolak) dari Allah, jika ia tenggelam dalam kesibukan dengan selain Allah. Hati itu adalah yang dituntut (untuk berbuat ibadah), yang disuruh (untuk makrifat kepadaNya), yang dicerca/ dimurkai (jika tidak beribadah), yang disiksa (jika berbuat maksiat). Dan hati juga yang menjadi bahagia karena dekat kepada Allah, yang dapat kemenangan jika ia suci (dari segala kejahatan dalam hati), hatilah yang dikenakan kejahatan dan mendapat celaka kalau ia dicemarkan oleh maksiat. Hati pula hakikatnya yang berbuat taat kepada Allah Ta’ala, dan sesungguhnya cahaya hatilah yang menyebabkan segala anggota tubuh berbuat ibadah, demikian pula hati yang jahat menimbulkan maksiat kepada Allah. Karena segala kejahatan anggota zhahir berbekas pada hati yang jahat”.
Dengan sebab itulah para Syaikh Ahlus Shufi bersungguh-sungguh mengetahui (mempelajari) ilmu batin yang menyucikan hati dari segala maksiat batin, yaitu ilmu Tasawuf, yang dinamakan pula Ilmu Thariqat atau Ilmu Suluk. Baik dan jahatanya hati itu tidak dapat diketahui melainkan dengan mengetahui Ilmu Tasawuf.
Muhammad Abduh (W.1905), seorang Mufti Besar & Rektor Al Azhar mengatakan: “Para Shufi berurusan dengan penyembuhan kalbu dan pemurnian dari segala sesuatu yang menghalangi mata batin. Mereka berusaha berdiri tegak dalam Ruh di depan Wajah Kebenaran Yang Tinggi sampai mereka jauh dari segala hal terkeecuali Dia, sehingga zat mereka menyatu dalam ZatNya dan sifat-siat mereka menyatu dengan sifat-sifatNya. Para ahli makrifat di antara mereka, yaitu mereka yang telah mencapai akhir perjallanan mereka, berada dalam derajat yang paling tinggi kesempunaan manusia setelah Nabi”. 
[Wali Sufi Abad 20, hal 100, Martin Lings, yang dikutip dari Maqamat, edisi Badi’uz Zaman al Hamadhani, hal 29.]
Barang siapa mengetahui hatinya, niscaya ia mengetahui nafsunya dan barang siapa mengetahui nafsunya, niscaya ia mengetahui akan Tuhannya, sesuai sabda Nabi SAW:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَه فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
“Barang siapa mengetahui (mengenal) nafsunya niscaya ia mengetahui akan Tuhannya”. (Yakni barang siapa mengetahui hatinya niscaya ia mengetahui nafsunya dan barang siapa mengetahui nafsunya bersifat papa (miskin) maka ia mengetahui bahwa tuhannya bersifat kaya. Dan jika ia mengetahui naffsunya bersifat hina maka ia akan mengetahui bahwa Tuhannya bersifat Mulia. Barang siapa mengetahui nafsunya bersifat dha’if (lemah), maka ia akan mengetahui bahwa Tuhannya bersifat Kuat. Barang siapa mengetahui nafsunya bersifat tak berdaya niscaya ia mengetahui bahwa Tuhannya bersifat Kuasa. Barang siapa mengetahui nafsunya bersifat fana (binasa) maka ia akan mengetahui bahwa Tuhannya bersifat Baqa’ (kekal). Barang siapa mengetahui bahwa nafsunya bersifat hadits (baru) maka ia akan mengetahhui bahwa Tuhannya bersifat Qadim, dan seterusnya, sehingga nyatalah berlawanannya sifat hamba dengan Tuhannya. 
[Siyarus Salikin III, hal 2-4]
Imam al Ghazali Rahimahullah mengisahkan pejalanannya:
ثُمَّ إِنِّيْ لَـمَّا فَرَغْتُ مِنْ هذِهِ الْعُلُوْمِ أَقْبَلْتُ بِهِمَّتِيْ عَلى طَرِيْقَةِ الصُّوْفِيَّةِ
وَعَلِمْتُ أَنَّ طَرِيْقَتَهُمْ إنِـَّمَا تَتِمَّ بِعِلْمٍ وَعَمَلٍ وَكَانَ حَاصِلُ عَمَلِهِمْ قَطَعَ عُقُبَاتِ النَّفْسِ وَالتَّنَزُّهِ عَنْ إِخْلاَقِهَا الْـمَذْمُوْمَةِ وَصِفَاتِهَا الْـخُبْثَة حَتّى يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلى تـَخْلِيَةِ الْقَلْبِ عَنْ غَيْرِ اللهِ وَتـَحْلِيَتِه بِذِكْرِ الله
ِ.
“Kemudian sesudah aku menyelesaikan pelajaran-pelajaran ilmu ini, aku menghadapkan keinginanku menurut jalannya orang-orang Tasawuf. Aku mengetahui bahwa jalan mereka itu dapat sempurna hanya dengan ilmu dan amal. Dan hasil amal itu memotong segala gangguan penghalang hawa nafsu, membersihkan akhlaq yang tercela dan sifat-sifat yang kotor, sehingga berhasil mengosongkan diri selain Allah, mengisinya dengan menyebut Asma Allah”. 
[Ihya’ II: 29]
Sehubungan dengan itu maka berkata Syaikh Abul Hasan as Syadzili Rhm:
مَنْ لـَّمْ يَتَغَلْغَلْ فِيْ هذَا اْلعُلُوْمِ مَاتَ مِصْرًا عَلىَ اْلكَبَائِرِ وَهُوَ لاَيَعْلَمُ
“Barang siapa tiada mempelajari (menyelami) di dalam Ilmu Tasawuf ini, niscaya ia mati dalam keadaan mengekali atas dosa-dosa yang besar, sedangkan ia tiada menyadari (mengetahuinya)”.
[Siyarus Salikin I: 7]

Definisi Tasawuf

Sejak dahulu hingga sekarang telah lahir beraneka ragam makna (definisi) serta uraian penafsiran tentang Tasawuf, baik yang berasal dari Ahli Hakikat (Kaum Shufi sendiri), maupun dari kalangan selainnya dengan bermacam tujuan dan keinginan. Hal demikian dikarenakan Tasawuf merupakan jalan menuju mardhatillah, sebagaimana dikatakan:
الطَّرِيْقُ إِلىَ اللهِ بِعَدَدِ نـُجـُوْمِ السَّمَآءِ أَوْ بِعَدَدِ أَنـفَاسِ الْخـَلَائِقِ
“Thariq (jalan) menuju kepada Allah itu sebanyak bintang di langit atau sebanyak nafas makhluk Allah”.
[Menurut lafazh lainnya: الطَّرِيْقُ إِلىَ اللهِ عَلى عَدَدِ أَنفَاسِ الْخَلاَئِقِ
Beraneka ragam bentuk/ mujahadah dapat dilihat di kitab Siyarrus Salikin II: 237-241 & III 56-57, karya Abdus Shamad al Palimbani al Jawi]
Di antara definisi/ makna Tasawuf itu adalah seperti yang dikatakan oleh Syaikh Junaid Al Baghdadi Rhm, bahwa Tasawuf itu adalah membersihkan hati daripada hal/ perkara yang mengganggu pada kebanyakan makhluk, berjuang meninggalkan pengaruh kelakuan bawaan, memadamkan sifat-sifat rendah, menjauhi segala panggilan (seruan) dari hawa nafsu, menghendaki sifat-sifat ruhani yang suci, bergantung kepada hakikat, mendahulukan sesuatu yang terlebih penting dan terlebih kekal, menaburkan nasihat kepada sesama, memegang teguh janji dengan Allah dalam hal Hakikat dan mengikut contoh Rasulullah SAW dalam hal syariat .
Dan lagi berkata Sufi lainnya, yaitu Syaikh Ma’ruf al Karkhi Rhm : “Tasawuf adalah mengambil hakikat, dan putus asa dari apa yang ada dalam tangan sesama makhluk”
Abu Muhammad al Jurairi Rhm mengatakan: “Tasawuf adalah masuk ke dalam akhlak menurut contoh yang diwariskan Nabi dan keluar dari akhlak yang rendah”.
Abu Ali Ahmad ar Ruzbari Rhm barkata: “ Seorang shufi ialah yang memakai kain shuf untuk membersihkan jiwa, memberi makan hawanya dengan kepahitan, meletakkan dunia di bawah tempat duduk dan berjalan (suluk) menurut apa yang dicontohkan Rasulullah Al Mushthafa SAW”.
Dan sebagai inti daripada Tasawuf itu adalah merupakan ilmu menggali hati agar terpancar darinya sumber mata air kehidupan Sunnah Rasulullah SAW sebagai sebaik-baik jalannya orang-orang terpilih baik awal maupun akhir. Itulah sumber mata air keutamaan yang tiada habis dikuras dan digali, tempat lahirnya kehidupan dan terbitnya cahaya hati para ‘Arifin, serta ruhaniyah yang suci.
Tasawuf sebenarnya merupakan thariqah untuk menuju pemurnian jiwa, untuk mencapai kepatuhan sejati pada kebenaran wahyu Ilahi yang diturunkan atas Rasul-Nya, untuk mendorong agar menjalankan perintah Syari’at dengan tulus, dan menumbuhkan kepatuhan yang mutlak, yang tidak mementingkan diri, tiada demi keridhaan Allah. Ia adalah jalan untuk menjadi hamba Allah yang tulus dan bersungguh-sungguh. Dan Tasawuf bukanlah untuk melakukan hal-hal misterius, atau untuk mengagungkan pemujaan.
Ja’far As Shadiq Rhm berkata: “Aku telah berteman dengan 400 orang shufi, kutanyakan kepada mereka 4 masalah, tiada seorangpun yang dapat menjawabnya. Karenanya aku merasa kesal dan pada malam harinya aku bermimpi bertemu Nabi SAW, kutanya keempat masalah itu. Kutanyakan apa dan bagaimana hakikat tauhid, bagaimana definisi akal, apa artinya Tasawuf dan apa hakikat faqir”. Rasulullah menjawab: “Hakikat tauhid itu apa yang terlintas dalam hatimu adalah baharu dan fana. Sedang Allah berbeda dengan yang seperti itu, karena Dia tidak sama dengan yang baharu. Mengenai definisi akal sekurangnya meninggalkan kemewahan dunia dan lebih dari itu meninggalkan memikirkan Zat Allah. Definisi Tasawuf adalah meninggalkan penyabdaran sesuatu kepada makhluk dan menyembunyikan segala rahasia. Hakikat faqir adalah tidak memiliki sesuatu dan tidak dimiliki oleh sesuatu. Dan yang dimaksud tidak memiliki sesuatu yakni tidak memandang apa yang ada pada tanganmu menjadi milikmu, tetapi engkau pandang hanya titipan Allah jua dan Allah dapat mengambilnya sewaktu-waktu. Dan maksud bukan dimiliki oleh sesuatu yakni hatimu tiada cenderung kepada sesuatu, baik kemewahan dunia maupun nikmat akhirat, dan hanya yang menjadi tumpuan hati kepada Allah.
Secara umum Tasawuf itu bisa disederhanakan menjadi:
وُقُوْفُ أَدَبُ الشَّرْعِيَّةِ ظَاهِرًا وَّبَاطِنًا وَّأَدَبُ الألُوْهِيَّةِ
“Mempertahankan adab syari’at dan Ilahiyyah baik zhahir maupun batin”.

Senin, 17 September 2007

GURU yang mengajarkan ilmu

Seseorang yang mendalami Agama memerlukan seorang pemandu yang dipilih Allah untuk dirinya. Ia harus mempelajari ilmunya melalui seorang Guru secara musyafahah. Kalau-lah ia merasa bahwa ia telah menjalankan perkara agama dengan memenuhi secara sempurna syarat dan rukunnya, namun satu hal yang ia lupakan bahwa ia telah meninggalkan adab Salafus Shalih, karena mereka telah melakukan perjuangan gigih dalam menuntut ilmu. Bahkan di kalangan ahli ilmu, orang-orang yang mencukupi dengan membaca buku-buku atau kitab agama tanpa berguru kepada seseorang, dianggap ilmunya itu seperti tidak ada.
Maka tuntutlah Guru yang membimbingmu lahir dan batin, sebagaimana Sayidina Musa As ber-talaqqi ilmu kepada Nabi Khidhir As, dan sebagaimana perjalanan yang begitu jauh Sayidina Jabir bin Abdullah menemui Abdullah bin Anis, hanya untuk mempelajari satu hadits saja. Wajib mencari Guru dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan godaan dan rintangan.
Sayidi Ibrahim ad-Dasuki Rhm. Pernah berkata, ‘Mencari Guru dalam meniti jalan menuju kepada Allah adalah wajib bagi setiap orang yang berkehendak (murid), meskipun ia adalah seorang Ulama besar pada masanya’.
Syekh Ibnu Ruslan dalam Zubad-nya berkata:
مَنْ لَّمْ يَكُنْ يَعْلَمُ ذَا فَلْيَسَأْلِ مَنْ لَّمْ يَجِدْ مُعَلِّمًا فَلْيَرْحَلِ
”Barang siapa yang tidak mengetahui ini, maka hendaklah ia bertanya,
Dan barang siapa tidak mendapatkan Guru, hendaklah ia berangkat ke manapun untuk mencarinya”.
Sayid Abdullah bin Alwi al-Haddad Rhm berkata dalam Qashidah Ro’iyyah-nya:
وَخُذْ مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ خَطًّا مُوَفِّرًا فَبِالْعِلْمِ تَسْمُوْ فِى الْحَيَاةِ فِى الْحَشْرِ
”Dan Ambillah olehmu daripada ilmu-ilmu agama itu, akan bagian yang banyak.
Maka dengan ilmu itulah engkau terangkat derajat di dalam kehidupan dan pada saat pengumpulan kelak”.
Dan Qashidah itu disyarahkan (diberikan penjelasannya) oleh Sayid Ahmad bin Abu Bakar bin Sumaith al-Alawy al-Hadhrami Rhm, yang bernama Manhalul Wurraad min Faidhil Imdaad bisyarhi abyaatil Quthbi Abdillah bin Alawi al-Haddad, hal. 102 sebagai berikut:
فَقَدْ أَفْهَمَ تَعْبِيْرُ النَّاظِمِ نَفَعَ اللهُ بِهِ بِقَوْلِهِ خُذْ مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ... إلخ أَنَّ اْلأَخْذَ مِنْ شَيْخٍ لَهُ تَمَامُ اْلإِطِّلاَعِ مِمَّا يَتَعَيَّنُ عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ وَأَمَّا مُجَرَّدُ الْمُطَالَعَةِ بِغَيْرِ شَيْخٍ إِتِّكَالًا عَلَى الْفَهْمِ فَقَلِيْلَةُ الْجَدْوَى إِذْلاَ بُدَّ إِنْ تَعْرِضْ عَلَيْهِ مُشْكِلاَتٌ لَا تَتَّضِحُ لَهُ إِلاَّ إِنْ حَلَّهَا شَيْخٌ.
Maka sesungguhnya telah memberi faham oleh keterangan Nazhim Nafa’allaahu bihi, dengan perkataannya: Dan ambillah dari ilmu-ilmu agama, dan seterusnya, bahwa mengambil ilmu dari seorang Guru yang sempurna penela’ahannya itu, terblang daripada apa-apa yang tertentu atas orang yang menuntut ilmu. Dan adapun semata-mata muthala’ah tanpa Guru, karena mengandalkan kefahaman sendiri saja akan sedikit hasilnya. Karena tak dapat tidak, jika datang atasnya kemusykilan-kemusykilan, tidaklah menjadi jelas baginya kecuali dengan penguraian Guru”.
Penyair menyatakan:
مَنْ يَأْخُذِ الْعِلْمَ مِنْ شَيْخٍ مُشَافَهَةً يَكُنْ عَنِ الزَّيْغِ وَالتَّصْحِيْفِ فِيْ حَرَمِ
وَمَنْ يَّكُنْ أَخِذًا لِّلْعِلْمِ مِنْ صُحُفٍ فَعِـلْمُهُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِـلْمِ كَالْعَدَمِ

”Barang siapa yang mengambil ilmu dari seorang Guru dengan cara langsung berhadap-hadapan, niscaya terjaga ia dari kesesatan dan kekeliruan.
Dan barang siapa yang mengambil ilmu dari buku-buku saja, maka pengetahuannya itu di sisi para hali ilmu, seperti tiada saja”.
Dan kata sya’ir pula:
أَمُدَّعِيًا عِلْمًا وَلَيْسَ بِقَارِئٍ كِتَابًا عَلَى شَيْخٍ بِهِ يَسْهَلُ الْحُزْنُ
أَتَزْعُمُ أَنَّ الذِّهْنَ يُوْضِحُ مُشْكِلاً بِلاَ مُخْيِرٍ تَاللهِ قَدْ كَذَّبَ الذِّهْنُ
وَإِنَّ ابْتِغَآءَ الْعِلْمِ دُوْنَ مُعَلِّمٍ كَمُوْقِدِ مِصْبَاحٍ وَلَيْسَ لَهُ دُهْنُ

”Wahai orang yang mengaku berilmu, padahal ia tidak membaca kitab atas seorang Guru, padanya akan mudahlah berduka cita.
Apakah engkau menyangka bahwa pikiran itu dapat menyatakan kemusykilan, tanpa seorang pembimbing?
Demi Allah, sesungguhnya telah berdustalah pikiran itu. Dan sesungguhnya menuntut ilmu tapa Guru, seperti orang yang menyalakan pelita, padahal pelita itu tidak berminyak”.
يَظُنُّ الْمَرْءُ أَنَّ الْكُتْبِ تُجْدِيْ أَخَـافُهُمْ لِإِدْرَاكِ الْعُـلُوْمِ
وَمَا يَدْرِالْجُهُوْلُ بِأَنَّ فِيْـهَا غَوَامِضَ حَيَّرَتْ عَقْلَ الْفَهِيْمِ
إِذَا رُمْتَ الْعُلُوْمَ بِغَـيْرِ شَيْخٍ ضَلَلْتَ عَنِ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ
وَتَلْتَبِسُ اْلأُمُوْرُ عَلَيْكَ حَتَّى تَصِيْرَ أَضَلَّ مِنْ تُوْمَا الْحَكِيْم
ِ
”Orang mengira bahwa kitab-kitab itu dapat memberikan hasil kepada saudara yang memahami, untuk mendapatkan ilmu-ilmu.
Dan tidaklah si dungu mengetahui bahwa di dalam kitab-kitab itu banyak terdapat kepelikan yang membingungkan akalnya orang yang mengerti.
Apabila engkau mencari ilmu tanpa seorang Guru, sesatlah engkau dari jalan yang lurus.
Dan akan tersamarlah bagimu segala persoalan, sehingga jadilah engkau lebih sesat dari Al-Hakim Tuma”.
لَيْسَ فِى اْلكُتْبِ وَالدَّقَاتِرِ عِلْمٌ إِنَّمَا الْعِلْمُ فِى الصُّدُوْرِ الرِّجَالِ
كُلُّ مَنْ يَّطْلُبُ الْعِـلْمَ فَرِيْدًا دُوْنَ شَيْـخٍ فَإِنَّهُ ضَــلاَل

”Tidaklah ada di dalam kitab-kitab dan buku-buku itu ilmu. Hanya saja ilmu itu ada pada ahlinya.
Tiap orang yang menuntut ilmu, dengan cara sendiri tanpa Guru, maka sesungguhnya ia berada di dalam kesesatan”.

Senin, 03 September 2007

Akhlaq Wali Abdal

Akhlaq para Wali Abdal itu ada 10:

  1. Bersih hati,
  2. Dermawan dalam hartanya,
  3. Sidik (lurus) lidahnya,
  4. Rendah diri,
  5. Sabar dalam penderitaan,
  6. Menangis di waktu sendirian,
  7. Nasehat kepada sesama makhluk,
  8. Kasih sayang sesama mukmin,
  9. Memikirkan kerusakan dunia,
  10. Memperhatikan dan mengambil ibarat dari segala kejadian.

Sifat Para Nabi As

Abu Darda Ra. berkata:
12 macam sifat para Nabi As:

  1. Mereka yakin terhadap janji-janji Allah,
  2. Mereka putus harapan dari makhluk,
  3. Permusuhan mereka hanya kepada syetan,
  4. Mereka rajin memperbaiki urusan mereka,
  5. Mereka kasih sayang kepada makhluk,
  6. Mereka sanggup menanggung penderitaan untuk kepentingan kemaslahatan,
  7. Mereka yakin pada syurga, jika mereka berbuat amal, yakni benar bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan pahalanya,
  8. Mereka tunduk pada Haq (kebenaran),
  9. Mereka tidak jemu memberi nasehat meskipun pada musuh,
  10. Mereka tidak menyimpan kelebihan harta, dan selalu memberikan kepada fakir miskin,
  11. Mereka selalu berwudhu,
  12. Mereka tidak gembira jika mendapat, dan tidak sedih jika tidak mendapat dunia.

Tanbihul Ghofilin, Imam Abu Laits Samarqandi Rhm.

Sabtu, 07 Juli 2007

Hubungan Amal Lahir dengan Hati

Kesucian pakaian, kemudian kesucian badan adalah kulit lapis kedua (yang dekat dengan hati). Kesucian hati adalah inti batin yang terdalam. Kesucian hati dari kotornya akhlaq yang tercela adalah kesucian yang terpenting, tetapi pengaruh pancaran hati tidak terlepas dari kesucian lahir. Karena apabila anda menyempurnakan wudhu dan merasakan kebersihan anggota badan lahir anda, maka anda akan merasakan ketentraman dan kejernihan dalam hati anda yang tidak anda rasakan sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya misteri hubungan antara alam Syahadah (alam kasat mata) dengan alam malakut (alam tidak kasat mata). Sesungguhnya anggota badan lahiriyah termasuk alam syahadah, sementara hati termasuk alam malakut secara asal fitrah. Ketika turun ke alam syahadah, ia seperti orang yang asing dari wataknya sendiri.
Adalah sebagaimana mengalirnya pengetahuan hati menuju anggota badan, maka begitu pulalah cahaya akan memantul naik dari kondisi anggota badan menuju hati. Oleh karenanya manusia diperintah shalat, padahal shalat itu sendiri merupakan gerakan anggota tubuh yang termasuk alam syahadah. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menjadikan shalat sebagai amal yang dilakukan di dunia (bukan akhirat) dan merupakan bagian dari dunia. Beliau-pun pernah bersabda: “Ada tiga hal dari dunia kalian yang menjadi kesukaanku,…. .” (al Hadits)
Bila setelah bersuci dan menyempurnakan wudhu ternyata tidak merasakan sedikitpun kejernihan hati yang kami jelaskan, maka ketahuilah bahwa kotoran yang menimpa hatinya dari keseluruhan syahwat dunia dan kesibukannya telah menyebabkan kepenatan pada kepekaan hati sehingga tidak mampu lagi merasakan sentuhan-sentuhan lembut dan hal-hal yang tersembunyi dan halus.
Oleh karena hanya memahami hal-hal yang bersifat konkrit saja, maka perlulah ia mencurahkan perhatian untuk mempertajam kepekaan hati dan menjernihkannya. Hal itu adalah sangat penting baginya.
(Al-Asrar Fil Awliya)

Jumat, 29 Juni 2007

Ciri-ciri Sulthan Awliya

Bermula yang menjadi ciri-ciri yang disifatkan atas keberadaannya seorang Sulthan Awliya atau pemimpin zamannya itu beberapa perkara.
Secara Zhahir:
1. Ummy (kebodohan), yang mewarisi karakter Kenabian dan Kerasulan, sebagaimana yang dijalani Rasulullah SAW dan para Sahabatnya. Kebodohan inilah yang menuntunnya kepada kepatuhan & kebijaksanaan dalam menjalani Makrifat kepada Allah Ta’ala.
2. Selalu pada pendirian sikap yang teguh. Yang dimaksudkan adalah perkara-perkara yang menjadi Hak Allah & RasulNya atas hukum-hukum yang telah ditetapkan. Yang menjadikannya sifat keyakinan dan iman, bukan sifat keraguan.
3. Mengikuti aturan-aturan Allah, yakni tidak meremehkan perkara-perkara yang dapat menjauhkan dirinya kepada Allah.
4. Mengikuti aturan-aturan Rasulullah, yakni perkara Sunnahnya, yang hal itu setara dengan nilai perintah.
Secara Batin:
1. Ridha hatinya, memiliki sifat keikhlasan dalam penempuhan Makrifatnya, apapun yang belum diperoleh ataupun halangan yang timbul, tiada menggoyahkan penerimaan hatinya atas takdir yang telah ditakarkan kepadanya.
2. Gemar mencari Ridha Allah, yakni menyenangi perkara-perkara yang mensucikan hati, yang menjauhinya dari kekotoran-kekotoran (hijab) dirinya kepada Allah atau sesama makhluk.
3. Gemar menyayangi, berusaha mengembangkan sifat Rahmatan lil ‘Alamin, sebagaimana Rasulullah SAW.
4. Gemar Riyadhah, mencari kepuasan batin dengan menunjukkan perihal kebenaran yang didatangkan dari Allah dan RasulNya.
Beberapa faktor penunjang yang menjadikan seseorang diangkat menjadi Sulthan Awliya, yaitu:
1. Nasab Rasulullah, merupakan bekal titisan darah yang menjadi bakat Ilahiyyah.
2. Mempunyai keturunan atas takdirNya, tetapi bukan kehendak Mursyid. Dan tiada seorang Mursyid berkehendak agar anaknya jadi seorang Mursyid. Darah kandung itulah yang dapat mendekatkan dan menguatkan batinnya dalam bermakrifat.
3. Diberi kelebihan Sabar, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW bahwasanya kesabaran itu bertingkat-tingkat sesuai martabatnya.
4. Tahan akan ujian. Sudah menjadi ketetapan atas yang demikian itu. Dengan bekal inilah dapat menguatkan dirinya menghadapi berbagai tantangan akan misi yang diembannya sebagai waratsatul Anbiya’.
Perangainya halus dan bijaksana, mengikuti sifat/perangai kepemimpinan Rasulullah SAW.
************

Benih-Benih Hidayah Kewalian

Apabila Allah melimpahkan maqam Kewalian atas seorang hamba, maka turunlah Hidayah atas dirinya yang dhaif lagi faqir yang merupakan benih-benih Kewalian yang tertanam sejak awal langkah perjalanan (musafir)nya kepada Allah Ta’ala.
Adapun hidayah, yaitu langkah-langkah daripada seorang Awliya itu didapatkannya akan Dia Yang Kuasa lagi Berkehendak atas hamba yang dhaif atas dirinya itu, yakni dengan sifat-sifat yang daripadanya itu berupa:
a) Keberadaannya seorang hamba terhadap Allah Yang Tunggal lagi Mulia atas segala sesuatunya.
b) Keberadaannya seorang hamba terhadap dirinya sendiri yang dhaif lagi fakir atas dirinya itu.
c) Keberadaannya seorang hamba yang dhaif terhadap semua makhluk yang diciptakan Allah Yang Kuasa atas segala kuasa atas makhlukNya.
d) Keberadaannya seorang hamba terhadap dunia yang penuh dengan kehinaan atas dirinya itu.



· Maka terdapatlah tujuh perkara tingkah laku seorang Wali kepada Allah Ta’ala:
1. Senantiasa memberi hakNya kepadaNya.
2. Manjaga batas hukum-hukumNya.
3. Bersyukur atas karuniaNya.
4. Patuh kepada titahNya.
5. Sabar dalam menghadapi cobaan-cobaanNya.
6. Senantiasa memuliakan kesucianNya.
7. Senantiasa rindu atasNya.
· Dan tujuh perkara tingkah laku Awliya terhadap dirinya sendiri:
1. Merasa takut akan Allah Ta’ala.
2. Mau bersedia berjuang.
3. Kuat menahan kesulitan.
4. Memiliki disiplin beribadah.
5. Selalu mencari kebenaran dan keikhlasan.
6. Menjauhkan diri dari apa-apa yang dicintainya terhadap selera nafsunya.
7. Faqr, yakni merasakan dirinya tidak memiliki apa-apa di dunia.
· Dan tujuh perkara tingkah laku Awliya terhadap dunia dan seluruh makhlukNya:
1. Merasa puas terhadap apa yang telah dimiliki.
2. Lebih suka atas apa yang diperoleh daripada yang tidak.
3. Menghindar dari pencarian yang sukar ditangkap.
4. Membenci segala hal yang berlebihan.
5. Zuhud, yakni lebih suka menahan godaan nafsu.
6. Mengenal kejahatan-kejahatan dari dunia ini dan,
7. Meniadakan pengaruhnya.
Dan apabila seorang shufi itu telah mencukupi pengetahuan-pengetahuan di atas tersebut, maka meningkatlah kepada tingkat mujahadah serta suluk. Dan memperbanyak i’tikaf, dan daripadanya itu berhusnuzzhan kepada Allah Ta’ala dan terhadap Mursyid pada zamannya serta tak terlupakan atas dhaifnya.

Rabu, 27 Juni 2007

Rasulullah Saw sebagai pedoman Salikin

Rasulullah Saw sebagai pedoman Salikin, orang-orang yang meniti jalan menuju kepada Allah Ta’ala.

Meniti Sejarah Awal

Junjungan alam Muhammad SAW adalah berbangsa Arab dari suku Quraisy. Silsilah beliau sampai kepada Nabiyallah Ibrahim As, yakni Muhammad bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihrin bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan bin Isma’il bin Ibrahim As. Dari ibunda beliau: Aminah binti Athab bin Abdi Manaf. Diriwayatkan warna kulit beliau putih kemerahan-merahan. Beliau penutup para Nabi dan Rasul. Maka siapa yang mengakui adanya Nabi sesudahnya ia menjadi kafir. Beliau dilahirkan di Makkah di daerah yang dinamakan Sugul Lail sebelum fajar hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal. Pada malam itu adalah lebih utama daripada malam Lailatul Qadar, do’a dikabulkan pada saat dilahirkannya Rasulullah pada malam itu.

Dalam kitab as Sab’iyyatu fil Mawa’izhil Bariyyat (السبعيات في مواعظ البريات) karangan Syaikh Abu Nashr Muhammad al Hamdany Rahimahullahu’anhu, dikisahkan bahwa pada malam dilahirkannya Baginda Rasulullah SAW terdapat 7 keajaiban (mukjizat):
  1. Ibunda Rasulullah tiada merasakan kepayahan daripada kandungannya tidak sebagaimana halnya wanita-wanita pada umumnya.
  2. Dan tiada pula merasakan sakit ketika melahirkan beliau.
  3. Setelah Rasulullah dipisah dari ibu beliau setelah lahirnya, maka beliau bersujud seraya berucap: Ummati, Ummati.
  4. Rasulullah lahir dalam keadaan sudah dikhitan.
  5. Syetan-syetan dilarang naik ke langit, ketika beliau dilahirkan. Padahal sebelumnya syetan-syetan itu dapat naik turun sekehendaknya untuk menguping percakapan para malaikat. Ketika mereka dilarang naik ke langit itu, maka mereka berkumpul kepada iblis ‘alaihi la’natullah, lalu mereka berkata: “Dulu kami bisa naik ke langit, tetapi hari kami dilarang naik.” Iblis berkata: Menyebarlah kalian di muka bumi dari Barat sampai ke Timur. Perhatikan dengan seksama apa sebenarnya yang telah terjadi! Mereka lalu menyebar. Akhirnya setelah mengelilingi Timur dan Barat sampailah mereka ke kota Makkah. Di sana tampak oleh mereka Nabi kita sedang dikelilingi para malaikat dan memancarkan cahaya dari dirinya hingga mencuat ke langit. Sedang malaikat-malaikat itu saling memberi ucapan selamat satu dengan lainnya. Kemudian kembalilah syetan-syetan itu menghadap kepada iblis sambil menceritakan semua yang telah mereka saksikan itu. Maka iblis pun berteriak dengan suara yang sangat keras, seraya berkata: “Anak celakalah kita! Telah muncul ayatul alam dan rahmat bagi bani Adam, karena itulah kalian telah dicegah untuk ke langit tempat pandangannya dan pandangan. Allah berfirman: “Dan Kami telah hiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya.” Ka’bul Akhbar Ra berkata: “Saya telah melihat dalam Taurat bahwa Allah Ta’ala telah mengkhabarkan kepada Musa As tentang saat keluarnya Rasulullah Muhammad SAW, ia berkata: “Sesungguhnya bintang pada tempatnya itu dan apabila ia bergerak dari tempatnya itulah yang menandakan Rasulullah keluar.” Ketika Rasulullah SAW, bintang itu pun bergerak dan pindah dari tempat asalnya. Maka orang-orang Yahudi itu semuanya mengetahui bahwa Rasul yang diberitakan Allah itu telah keluar ke dunia, namun mereka rahasiakan disebabkan kedengkian mereka juga. Dan Allah telah mengkhabarkan kepada kaum Isa As di dalam kitab Injil, bahwasannya apabila pohon kurma kering mengeluarkan daun-daunnya, maka itu menandakan keluarnya Rasulullah ke dunia. Ketika Rasulullah SAW lahir, pohon kurma yang kering dan layu menjadi segar, berdaun, dan berbuah. Melihat hal itu, orang-orang Nasrani itupun mengetahuilah bahwasannya Rasulullah yang telah dijanjikan Allah di dalam Kitab Injil itu telah lahir ke dunia. Tetapi hal itu mereka rahasiakan, disebabkan kedengkian mereka jua. Di dalam Zabur pun Allah mengkhabarkan bahwa, apabila mata air yang telah mereka kenal itu mengeluarkan air maka tandanya Rasul yang dijanjikan kepada mereka itu telah muncul ke bumi. Tepat ketika Rasulullah dilahirkan, mata air itu mengeluarkan air yang berlimpah. Mereka pun mengetahui akan hal itu, namun karena kedengkian mereka, berita itu mereka rahasiakan pula.
  6. Halimatus Sa’diyah, ibu susu Rasulullah SAW, sebelum ia menyusukan Rasulullah, salah satu susunya tidak mengeluarkan susu. Akan tetapi ketika ia meletakkan susunya itu ke mulut Rasulullah seketika itu juga keluarlah air susunya dengan deras.
  7. Ketika Rasulullah dilahirkan, terdengarlah suara tanpa rupa dari sudut-sudut Ka’bah:
Dari sudut pertama:
وَقُلْ جَآءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
“Telah datang kebenaran (al Islam) dan hancurlah kebatilan (kekufuran). Sesungguhnya kebatilan itu tiada kembali lagi.”
Dari sudut kedua:
لَقَدْ جَآءََكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَـيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَـيْكُمْ بِالْـمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللهُ لآ إِلهَ إِلَّا هُوَ عَلَيـْهِ تَوََكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِـيْمِ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang mukmin”.
قَدْأنَزَلْنَاكُمْ نُوْرًا مِّنَ اللهِ وَِكِـتَابٌ مُّبِيْنٌ
Dari sudut ketiga: “Telah datang kepadamu cahaya (Nabi) dari Allah dan Kitab (al Quran) yang menerangkan.”
Dari sudut keempat:
يَآ أيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنََاكَ بِالْـحَقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّدَاعِيًا إِلىَ اللهِ بِإِذْنِه وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا
“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa khabar gembira serta pembawa peringatan, untuk menyeru kepada Agama Allah dengan izinNya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.”

Dan diriwayatkan bahwasanya Abdul Muthalib berkata: Tatkala aku sedang berada di Ka’bah yang banyak berhalanya, tiba-tiba berhala itu berjatuhan dari tempatnya dan sujud Lillahi Ta’ala dan aku dengar suara dari dinding Ka’bah mengatakan: “Telah lahir Nabi pilihan yang akan membinasakan orang-orang kafir dan akan mensucikan aku dari berhala-berhala ini dan akan memerintahkan kepada penyembahan Raja Yang Mengetahui. Wallahu a’lam

Rasulullah diangkat menjadi Rasul dalam usia 40 tahun, sebagai pedoman utama kesempurnaan bagi umat beliau. Beliau berdakwah di Makkah selama 13 tahun dan di Madinah 10 tahun. Wafat di Madinah, di kamar ‘Aisyah dalam usia 63 tahun.

Putri-putri Nabi SAW ada 4 orang: 1. Zainab 2. Ruqayyah 3. Ummu Kalsum 4. Fatimah. Dan putera beliau ada 3 orang:1. Qasim 2. Abdallah 3. Ibrahim, yang kesemuanya dari Ummi Khadijah, kecuali Ibrahim dari Ummu Maria Qibthiyyah. Paman dari pihak ibu 3 orang dan bibi dari pihak ibu 2 orang. Tiga orang paman dari pihak ibu adalah: 1. Aswad 2. Umar 3. Abdu Yaqus. Dan 2 orang bibi dari pihak ibu adalah 1. Furaisah 2. Fahtah dan semuanya meninggal sebelum Nabi SAW diangkat menjadi Rasul.

Isteri-isteri Nabi yang dikenal sebagai Ummul Mukminin adalah 1. Khadijah binti Khuwailid 2. ‘Aisyah binti Abu Bakar 3. Hafsah binti ‘Umar 4. Ummu Salmah 5. Ummu Habibah binti Abu Sofyan 6. Saudah binti Zan’ah 7. Zainab binti Jakhas 8. Zainab binti Huzaimah 9. Maimunah binti Haris 10. Juwariyyah binti Haris 11. Shafiyyah binti Hay.

Paman dari pihak ayah ada 12 orang: 1. Haris 2. Abu Thalib 3. Zubair 4. Hamzah 5. Abu Lahab 6. Murqawam 8. Atiran 9. Abbas 10. Kisam 11. Abdul Ka’bah 12. Hajlun. Bibi dari pihak ayah ada 6 orang: 1. Atikah 2. Umayah 3. Bardha 4. Burrah 5. Shafiyah 6. Arwa.

Para Khalifah Rasulullah yang Rasyidin ada 4, yakni: 1. Sayyidina Abu Bakar yang memerintah selama 2 tahun, 3 bulan, 10 hari 2. Sayyidina Umar bin Khatthab selama 10 tahun 6 bulan 8 hari 3. Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan selama 11 tahun, 11 bulan, 9 hari dan 4. Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib selama 4 tahun, 6 bulan, 7 hari. Kesemuanya adalah diberitakan akan masuk syurga, termasuk: Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdur Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid, Abu Ubadah Amir bin Jarah, maka jumlahnya 10 orang.

Yang ikut perang Badar sejumlah 37 orang. Yang ikut dalam perang Uhud 1000 orang, yang ikut dalam Baitur Ridhwan 1400 orang (1500 orang dalam suatu riwayat). Perjanjian Baitur Ridhwan seperti yang diterangkan dalam firmanNya: “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia (berbai’at) di bawah pohon.” Bai’at inilah yang kemudian mengilhami daripada ijazah, talqin, dan lainnya, yang dipergunakan oleh para Syaikh Thariqah kepada murid sebagai ikatan ruhaniah, janji setia melaksanakan perintah Allah dan Rasul serta wasilah-wasilahnya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Ketahuilah olehmu Rasul dan para Nabi diutus kepada umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan. Dan pengakuannya sebagai rasul (utusan) dibuktikan dengan adanya berbagai mukjizat sebagaimana Sulthan Awliya pada zamannya dan wali-wali lainnya dibuktikan dengan adanya karamah baik semasa hidup atau setelah wafatnya. Maka daripada mukjizat Rasulullah itu adalah banyak, diantaranya:
  1. Kisah masuk Islamnya para sahabat, diantaranya Sayyidina Abu Bakar Ra. Dan kisah masuk Islamnya Abbas Ra. Rasulullah bersabda kepadanya ketika ditawan para sahabatnya: “Tebuslah dirimu, karena engkau adalah orang yang memiliki harta.” ‘Abbas tidak mengaku punya harta. Dan bersabdalah Rasulullah SAW: “Kemanakah harta yang engkau simpan di rumah Ummu Fadhal? Bukankah tidak ada orang lain yang memilikinya selain engkau berdua. Dan engkau telah berjanji kalau dalam perniagaan mendapat laba, untuk Fadhal sekian dan untuk Abdullah sekian daripada harta itu.” Sesudah mendengar itu Abbas berkata: “Demi yang mengutusmu dengan kebenara, tidak ada yang tahu akan masalah itu kecuali aku. Sesungguhnya engkau ini benar-benar Rasul utusan Allah. Kemudian Abbas menyatakan keIslamannya.
  2. Bulan menjadi dua keping di atas kota Makkah, satu keping di atas Jabal Abu Qubais dan satu keping lagi di sebelah gunung dan seluruh penduduk bumi melihatnya. Mengenai masalah ini Allah menceritakan dalam firmanNya: “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.”
  3. Terpancarnya air dari ujung jari tangan Beliau yang mulia, seperti dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Zabir yang menceritakan bahwa ketika itu banyak orang yang merasa dahaga pada hari Hubaidiyah yang dihadapan Rasulullah ada sebuah timba air yang terbuat dari kulit yang disediakan untuk berwudhu. Seorang laki-laki datang menghampirinya sambil berteriak dan menangis seperti anak kecil. Rasulullah bertanya kenapa orang itu menangis dan berteriak. Para sahabat menjawab tidak ada lagi air untuk berwudhu dan untuk diminum melainkan yang ada pada ujung tanganmu. Rasulullah memasukkan tangannya kedalam timba, keluarlah air dari ujung jari Rasulullah dan kamipun meminumnya dan berwudhu. Orang bertanya berapa jumlah yang kamu ketika itu? Jawabnya kalau jumlah kami 100.000 pada waktu itu niscaya air itu cukup tetapi jumlah kami pada waktu itu hanya 1000 orang.
  4. Pohon kayu berbicara dan memenuhi ajakan Rasulullah seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah dalam perjalanan bertemu dengan seorang Badui dan Rasulullah mengajaknya masuk Islam. Badui itu berkata: siapa yang akan menjadi saksi terhadap kebenaran yang engkau katakan? Rasulullah menjawab: “Pohon ini yang akan menjadi saksi. Rasulullah memanggil pohon itu dan pohon itu tercabut dan berada dihadapan Rasulullah dan berucap: kemudian kembali ke tempat semula.
  5. Punggung korma yang kebiasaanya tempat bersandar dalam khutbah, rindu kepada Nabi SAW, karena Nabi berkhutbah di atas mimbar yang sudah disediakan. Orang banyak mendengar suara tangis punggung kurma itu dan punggung kurma itu terus menangis sehingga Rasulullah turun dari atas mimbar membujuknya seperti seorang ibu membujuk anaknya sampai punggung kurma itu berdiam. Demikianlah dikisahkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sekian sahabat.
  6. Batu kecil (kerikil) mengucap tasbih dan benda-benda keras berbicara. Diriwayatkan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, katanya: “Kami bersama Rasulullah berjalan di luar kota Makkah, ketika kami bertemu pohon kayu dan bukit, selalu berkata:
  7. Seekor unta mengadu kepada Nabi SAW karena tuannya memakai tenaganya terus menerus dan unta itu sudah tua, lalu tuannya ingin menyembelihnya. Maka unta itu mengadukan halnya kepada Nabi SAW agar tidak disembelih.
  8. Kambing bakar yang dihidangkan oleh orang Yahudi di Khaibar berbicara bahwa dagingnya beracun agar tidak dimakan Nabi dan Nabi SAW mendengar dan tidak memakannya.
  9. Nabi SAW bertemu dengan anak yang baru berusia beberapa hari ketika melaksanakan Hujjatul Wada’ berkata Beliau SAW: “Aku ini siapa ?” Bayi tersebut menjawab: Rasulullah. Kemudian Nabi bersabda: “Engkau benar, semoga Allah memberi nama anak itu dengan Mubarak al Yamamah.
  10. Sebagian mukjizat Nabi SAW yaitu menyapu dengan tangan beliau betis daripada Abu Rafi’i yang patah sehingga pulih kembali seperti tidak pernah patah. Sebagaimana lagi mendoakan Anas Ra panjang umur, banyak harta dan banyak anak dan doa Rasulullah itu memang dikabulkan Allah dan kehidupan Anas seperti yang didoakan tadi. Dan sebagian lagi Rasulullah mengambil segenggam pasir yang kemudian melemparkannya ke arah musuh sehingga pasir itu masuk ke dalam mata musuh dalam pertemuan Hunain. Sebagaimana lagi laba-laba membuat sarang di pintu gua Tsur di Jabal Nur ketika Rasulullah dan Sayyidina Abu Bakar bersembunyi di dalamnya.

Dan masih banyak lagi mukjizat Nabi SAW yang tidak dapat dibilang banyaknya, seperti yang diriwayatkan oleh al Baihaqi, Abu Nu’aim, dan Thabrani juga Ahmad. Dan sebagai mukjizat yang terbesar adalah al Quran yang abadi hingga akhir zaman, baik manusia maupun jin tiada dapat menandinginya, keindahan sastranya, sekalipun hanya satu surah al Kautsar dan surah al Ikhlash, Allah berfirman:

وَإنْ كُـنْتمْ فِيْ رَيْبٍ مِّـمَّا نَزَّلْنَا عَلى عَبْدِنَا فَأتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثلِه وَادْعُوْا شُهَدَآءََكُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُــنْتمْ صَادِقِيْنَ.

“Dan jika kamu ragu tentang al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad SAW), buatlah satu surah saja yang semisal al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuatnya dan pastilah tidak akan mampu membuatnya, maka takutlah engkau akan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang ingkar (kafir).” (Al Baqarah: 23-24)

Menurut sebagian ulama: Semua kitab yang diturunkan Allah maknanya terhimpun di dalam al Quran dan makna al Quran terhimpun dalam surah al Fatihah dan makna Fatihah terhimpun dalam kalimah Bismillahirrahmanirrahim dan makna Bismillahir rahmanirrahim terhimpun dalam huruf Ba. Seperti dikatakan: بِيْ كَانَ مَا كَانَ وَبِيْ يَكُوْنُ مَا َيكُوْنُ “Denganku ada barang yang telah ada dan denganku ada barang yang akan ada.” Dan lagi dikatakan bahwa daripada Ba itu terhimpun di dalam titiknya. Itulah tintanya daripada lautan ilmu Allah Yang Esa".

Dan ketahuilah olehmu bahwasanya perbuatan yang menyalahi kebiasaan ( خوارق للعادة ) ada 8 macam:

  1. Mukjizat, ialah perbuatan yang menyalahi kebiasaan yang terbit daripada hamba yang diangkat menjadi Rasul.
  2. Irhas, ialah perbuatan yang menyalahi kebiasaan sebelum diangkat menjadi Rasul.
  3. Keramat, ialah bagi para wali Allah.
  4. Ma’unah, ialah bagi mukmin biasa tapi shalih, misalnya dilepaskan dari kesengsaraan. Maknanya adalah pertolongan bagi seorang hamba tertentu agar taat dan kuat ibadah kepada Allah.
  5. Sihir, yang lahir bagi orang-orang yang mempelajarinya.
  6. Istidraj, ialah perbuatan yang menyalahi kebiasaan daripada orang kafir atau muslim yang fasik dikarenakan tipu dayaNya, sehingga dianggap perbuatan baik baginya, padahal perbuatan itu membawanya ke neraka.
  7. Sauzah, yaitu perbuatan daripada seseorang yang bermain-main dengan membalik mata, yang merupakan sebagian dari ilmu sihir.
  8. Ihanah, yaitu lahir dari orang yang dusta, seperti Musailamatul Kadzdzab. Dikisahkan suatu hari ia mendengar bahwa Rasulullah mengembalikan mata Qatadah yang hampir-hampir copot karena anak panah. Rasulullah mengembalikannya ke tempat semula dan disapunya dengan tangan dan akhirnya kembali seperti biasa. Musailamah juga mengembalikan mata salah seorang temannya yang buta sebelah matanya, sesudah disapunya dengan tangan ternyata matanya sebelah buta juga karena menghinakannya. Dan 4 macam yang terakhir ini termasuk yang tercela.