Selasa, 04 Mei 2010

Sanggahan Imam Abdul Wahab atas Fitnah yang menimpa dirinya

“Tentu tidak samar lagi bagi Tuan-tuan, telah sampai (berita) kepadaku bahwa Risalah Sulaiman bin Suhaim telah sampai kepada Tuan-tuan dan telah diterima bahkan dibenarkan oleh sebagian orang yang mengaku sebagai ahli ilmu golongan Tuan-tuan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT pun mengetahui bahwa orang telah melakukan kebohongan terhadapku mengenai beberapa masalah yang sebetulnya belum pernah aku katakan, bahkan kebanyakan tidak pernah terbetik dalam benakku untuk mengatakannya.

Di antara yang dikatakannya,
1.bahwa aku membatalkan (tidak mengakui) kitab-kitab Imam madzhab yang empat;
2.bahwa aku berkata, “Sesungguhnya manusia – sejak 600 tahun – itu tidak mempunyai kemampuan apa-apa”;
3.bahwa aku juga mengaku sebagai Imam Mujtahid;
4.bahwa aku keluar dari taqlid;
5.bahwa aku – katanya – mengatakan, “Perbedaan para Ulama itu merupakan niqmat (siksaan);
6.bahwa aku mengkafirkan orang-orang yang bertawasul, mengkafirkan Al-Bushiri yang mengatakan (kepada Nabi Muhammad Saw): 'Wahai makhluk yang paling mulia [Yaa Akromal Khalqi];
7.bahwa aku mengatakan 'Jika aku mampu menghancurkan kubah Rasulullah Saw pasti aku akan menghancurkannya, dan jika aku berkuasa (untuk berbuat sesuatu) terhadap Ka'bah tentu aku akan menggantikan saluran airnya dengan kayu,
8.bahwa aku juga mengharamkan ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw dan kuburan kedua orang tua,
9.bahwa aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan nama selain Allah,
10.bahwa aku mengkafirkan Ibnul Faridh dan Ibnu 'Arabi,
11.bahwa aku pernah membakar kitab Dala-ilul Khairat dan kitab Raudhur Riyahin (Taman Ruhani Suci) bahkan menyebutnya sebagai kitab Raudh asy-Syayathin (Taman Syetan-Syetan).

Jawaban atas semua tuduhan itu adalah: “Aku hanya berkata, 'Subhaana hadza buhtanun 'azhim, Sucilah Engkau Ya Allah. Ini adalah suatu kebohongan yang besar'. Sebelum peristiwa seperti ini, pernah juga ada orang yang berdusta kepada Nabi Muhammad Saw, bahwa beliau itu mencaci maki Nabi Isa, putra Maryam, menghina orang-orang shaleh. Maka hati mereka (yang hidup pada zaman Nabi Muhammad Saw) dan hati mereka (yang hidup pada zaman sekarang) itu mempunyai kesamaan, yakni penuh dengan upaya kebohongan terhadap orang lain dan mengatakan perkataan-perkataan yang palsu. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan itu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta”. [Q.S. An-Nahl: 105].

Mereka (yang hidup di zaman Nabi) pun mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “Malaikat, Nabi Isa, dan Uzair itu pasti masuk neraka”. Dalam konteks itulah, Allah SWT berfirman: 'Sesungguhnya orang-orang yang telah berlalu bagi mereka (pemberian) dari Kami (berupa) al-husna (kebaikan/petunjuk) mereka itu dijauhkan dari neraka”. [Q.S. Al-Anbiya: 10]

Inilah surat pribadi Syekh Muhammad bin Abdul Wahab berkenaan dengan karyanya yang telah menyebar luas dengan perhatian dan dana dari Universitas Imam Muhammad bin Sa'ud Al-Islamiyyah.

Sumber: Mafahim Yajibu an Tushahaha, Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani. Buku ini sudah diterjemahkan oleh Penerbit Rosdakarya Bandung dengan judul: Meluruskan Kesalahfahaman. Sayid Muhammad ini adalah Ulama yang dikagumi dan dihormati para Habaib khususnya di Indonesia. Selama di Indonesia banyak memberikan Ijazah Awrad Al-Idrisiyyah kepada Ulama maupun kaum muslimin, seperti Istighfar Kabir, Shalawat 'Azhimiyyah, dll. Beliau merupakan keturunan dari keluarga Syekh as-Sayid Ahmad bin Idris al-Hasani al-Fasi. Memperoleh gelar Doktor Cumlaude dari Kairo dalam usia yang relatif muda. Beliau satu-satunya Ulama yang paling gigih mempertahankan tradisi Maulid, Shalawat, Dzikir di wilayah Haramain. Beliau sering mengalami silang pendapat dan perdebatan dengan Ulama-ulama Wahabi, seperti Sy. Abdul Aziz bin Baz. Beliau banyak mengarang Kitab-kitab seputar Adzkar, Shalawat dan Pemahaman Tasawuf. Ulama-ulama Besar Nusantara banyak yang menimba ilmu kepada Beliau semasa hidupnya.

Selasa, 4 Mei 2010

Minggu, 25 April 2010

Berdzikir Berdiri?!

Dalam selingan ceramah Syekh al-Akbar ketika membahas masalah kaifiyat (tata cara) berdzikir kepada Allah pernah diungkapkan bahwa ada yang memfitnah jama'ah Al-Idrisiyyah berdzikir 'berdiri'! Padahal ungkapan itu tidak berbukti sama sekali. Karena jama'ah Al-Idrisiyyah berdzikir 'Allah! Allah! Allah!........' Bukan 'Berdiri! Berdiri! Berdiri!............' Arti dzikir adalah menyebut. Jika dikatakan berdzikir berdiri berarti menyebut 'berdiri!' Mendengar hal ini jama'ah tersenyum mendengarnya.

Yang dimaksud adalah jama'ah Al-Idrisiyyah berdzikir 'Allah! Allah! Allah!' sambil berdiri! Itulah ungkapan yang tepat. Berdzikir demikian didasari Firman Allah: Alladziina yadzkuruunallaaha qiyaamaw waqu'uudaw wa'alaa junuubihim...... 'Mereka yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri atau duduk atau berbaring atas lambungnya...'

26 April 2010


Minggu, 18 April 2010

Wali Allah Yang Tersembunyi

Banyak Wali-wali Allah yang dimasyhurkan setelah wafatnya, di antaranya adalah Mbah Priok. Sebelumnya, Wali Allah itu tersembunyi (mastur), tetapi karena kehendak Allah jua akhirnya Beliau-beliau itu 'tampak ke permukaan'. Banyak tanda kewalian seseorang terbuka secara nyata setelah terlihat jasadnya utuh (tidak hancur) ketika dipindahkan.

Sebenarnya banyak Wali-wali Allah yang disatarkan (tidak masyhur) khususnya di Pulau Jawa ini. Di antaranya adalah Syekh Tubagus Sa'ari. Makam Beliau terletak di area pemakaman Rawamangun. Beliau Hafizh (hafal Al-Quran) di masa hidupnya. Karakter Beliau adalah tidak ingin dikenal sewaktu hidupnya.

Selanjutnya adalah Syekh Raden Abdullah Mukmin, di Tangerang. Sewaktu hidup Beliau dikenal sebagai sosok Ulama biasa yang mengajar dari rumah ke rumah, musholla ke musholla. Padahal ilmunya banyak sekali. Beliau disamping Hafizh Quran juga seorang Muhaddits, yang menghafal banyak sekali hadits-hadits Rasulullah Saw. Beliau ini dikenal kewaliannya setelah jasadnya dipindahkan. Tidak ada bekas kerusakan pada tubuhnya sebab berlalunya masa.

Di daerah Betawi ada seorang Ulama yang bernama Syekh (Kiyai) Ghazali yang semasa hidupnya gandrung (Mahabbah) dengan perilaku, karya, kebiasaan yang dilakukan oleh Imam Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali ath-Thusi Rhm. Sampai-sampai hampir semua Kitab-kitab Imam al-Ghazali Beliau miliki dan disimpan di rumahnya. Beliau wafat dalam usia 99 tahun.

Ada lagi seorang Ulama yang dikenal dengan Wali Musa di Tangerang. Beliau adalah penganut Tarekat Syadziliyyah Qadiriyyah. Beliau tidak memiliki keturunan. Tapi semasa hidupnya dikenal sebagai seorang murid yang sangat penurut (patuh) kepada Gurunya. Nabi Khidhir pun sulit menemui Beliau ini lantaran dekatnya Beliau dengan Gurunya tersebut.

Kalau ada yang pernah berkunjung ke Kebon Raya Bogor, di sana ada sebuah makam yang tidak banyak orang mengetahui identitasnya. Beliau dikenal dengan nama Mbah Jepra. Sebenarnya nama aslinya adalah Sayid Ja'far al-Idrus. Beliau lah yang menundukkan komunitas Jin di tempat itu saat datang pertama kali ke wilayah itu. Beliau dikenal sebagai Ahli Ilmu Mahabbah, sehingga apabila seorang wanita melihatnya akan terpikat kepadanya. Beliau bersembunyi di tempat itu hingga akhir hayatnya.

Di dekat prasasti Batu Tulis Bogor ada sebuah makam pula yang dinamai sebagai Mbah Dalem. Nama aslinya adalah Syekh Sayid Ahmad al-'Athas. Beliau termasuk abdi dalem kerajaan. Kebiasaan Beliau adalah selalu nyepi dan khalwat. Karunia yang Allah berikan padanya adalah di bidang kanuragan dan kewibawaan.

Di daerah Madura ada seorang Ulama yang tidak dikenal, tapi kehidupannya seperti kehidupan Al-Hallaj, karena sering mengalami jadzbah. Namanya Syekh (Kiyai) Hanafi. Beliau masih keturunan Rasulullah Saw dari garis Husein Ra. Beliau mendapatkan Ijazah / Bai'at Thariqah langsung dari Rasulullah Saw secara Yaqzhah wa Musyafahah (sadar dan bersentuhan) sebagaimana yang dialami oleh Syekh Ahmad bin Idris al-Fasi dan banyak Ulama Shufi lainnya. Sewaktu Beliau akan meninggal, Beliau didatangi oleh Rasulullah Saw, sama seperti Syekh (Kiyai) Hamid Pasuruan yang sebelum wafatnya didatangi Beliau Saw sehingga di akhir hayatnya Beliau memutuskan untuk berhenti merokok. Nama Thariqah Syekh Hanafi ini bernama Thariqah Al-Muhammadiyyah al-Khidhiriyyah, sama seperti Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh Ra, pangarang Kitab Al-Ibriz dari Maghribi. Beliau wafat sekitar 40 tahunan.

Banyak Wali-wali tersembunyi, yang banyak orang tidak tahu. Semuanya memiliki martabat (tingkatan) dan kekhususan. Sehingga banyak orang lebih mengetahui Wali yang masyhur daripada mengetahui Wali Khas yang derajatnya ditinggikan oleh Allah pada masanya dibanding lainnya. Bahkan seorang Sulthan Awliya masyhur, Syekh Quthbur Rabbani Abdul Qadir al-Jaelani Qaddasalahu Sirrahul 'Aziz, pada masa hidupnya tidak dikenal sebagai seorang Awliya. Baru setelah 25 tahun terbuka hijab (dinding penutup) akan kewaliannya.

Syekh Abdus Salam bin Masyisy Ra. adalah seorang Wali Mursyid yang tidak dikenal pada masanya. Tapi setelah ditemukan di atas bukit oleh muridnya, yakni Syekh Ali Abul Hasan asy-Syadzili (pendiri Thariqah Syadziliyyah), barulah terkuak keberadaan dan kebesaran Awliya-nya di tengah umat. Masyhur atau tidak, bukanlah tujuan bagi seorang Awliya. Semua terhitung dalam genggaman Kehendak dan takdir-Nya.


Senin, 19 April 2010