Rabu, 24 Juni 2009

Perpindahan Ikan Pari


سبحان الله
- سبحان الله - سبحان الله

Bagai dedaun yang terapung-apung di tengah lautan,


beribu-ribu Ikan Pari kelihatan berkumpul di lautan Mexico .

Kejadian yang memukau ini direkam ketika

armada makhluk-makhluk ini melakukan perpindahan.

Dengan meluncur di bawah ombak,

ia mengubah lautan biru menjadi kuning keemasan.

Seorang juru foto amatir, Sandra Critelli merekam foto indah ini.

Katanya,

“Seperti lukisan… permukaan air seperti dipenuhi

dedaun musim luruh yang melayang ditiup angin. “

“Banyak jumlahnya… menjangkau hingga ribuan jumlahnya!”

”Berukuran lebar kepaknya 2.1 meter, ia menutupi seluruh kawasan sekitarnya…

bukan saja di permukaan, malah ada yang bergerak di lapisan bawah.”


Dari: Taman2Syurga@yahoogroups.com

Kamis, 18 Juni 2009

Zurnub bin Yar'ula, orang yang dipanjangkan umurnya

Dari Ibnu Umar Ra., ia berkata: (Suatu ketika) Umar Ra. menulis surat kepada Sa’ad bin Abu Waqash yang berada di Qadisiyyah (Baitul Maqdis): Perintahkan kepada Nadhlah bin Mu’awiyah supaya membawa pasukannya ke Hulwan. Maka langsung Sa’ad menyuruh Nadhlah membawa 300 ratus tentara pergi ke Hulwan. Maka sesampainya di sana ia dapat merebut satu kota itu sehingga mendapat banyak ghanimah dan tawanan, sehingga sesampainya di daratan di tepi bukit, maka Nadhlah mengumandangkan azan untuk shalat. Tiba-tiba ada suara di balik bukit itu yang menjawab setiap bacaan azannya. Saat ia mengucapkan: Allaahu Akbar - Allaahu Akbar, tiba-tiba ada suara jawaban: ’Engkau telah mengagungkan Zat Yang Besar, wahai Nadhlah!’ Dan ketika ia berucap: ”Asyhadu allaa ilaaha illallaah!” Dijawab: ’Itu adalah kalimat Ikhlash wahai Nadhlah!’ ”Asyhadu anna Muhammadar Rosuulullaah”, dijawab, ’Dialah yang teah diberitahu kepada kami oleh Isa As’. ”Hayya ’alash-Sholaaah”, dijawab, ’Beruntung bagi siapa yang menunaikannya!’ Kemudian, ”Hayya ’alal falaah”, dijawab, ’Sungguh beruntung orang yang menyambut Nabi Muhammad Saw!’ Kemudian, Allaahu Akbar - Allaahu Akbar laa ilaaha illallaah”, dijawab, ’Ikhlas benar engkau wahai Nadhlah, maka Allah mengharamkan jasadmu dari api neraka!’
Dan selesai azan Nadhlah berkata: ”Siapakah kamu Yarhamukallah? Seorang malaikat, jin atau seorang hamba Allah? Kamu telah mendengar suaramu, maka tunjukkanlah rupamu, maka kami ini adalah Utusan Allah, Rasulullah Saw dan Umar bin Khathab Ra. Maka tiba-tiba muncul orang tua berambut dan berjenggot putih berpakaian shuf. Lalu ia berkata: ’Assalaamu’alaikum Warohmatullaah wabarokaatuh”. Dijawab: Wa’alaikas salaam warohmah, siapakah kamu semoga Allah memberi rahmat kepadamu?”. Jawab orang itu: ”Saya adalah Dzurnub bin Yar’ula, pesuruh Nabi Isa As. Beliau telah mewasiatkan kepadaku untuk menunggu gunung ini, dan mendo’akan kepadaku umur panjang hingga beliau diturunkan dari langit. Adapun saya, karena tidak dapat bertemu dengan Nabi Muhammad Saw maka kirimkan salamku kepada Umar, dan katakan kepadanya: ’Hai, Umar, sedang-sedanglah kamu, dan mudahkanlah segala sesuatu, sebab hari kiamat telah dekat, dan beritahukan padanya beberapa hal jika terjadi pada umat Nabi Muhammad Saw maka segeralah lari, segeralah lari. Jika lelaki cukup sesama lelaki, jika wanita cukup sesama wanita (homo), dan mereka bernasab kepada yang bukan turunan mereka, dan yang tua tidak sayang kepada yang muda, sedangkan yang muda tidak hormat kepada yang tua, dan meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, dan orang belajar ilmu semata-mata untuk mendapatkan uang, dan turun hujan di musim kemarau, dan anak hanya menyebabkan jengkel kepada orang tua dan bertambah banyak orang yang tidak berbudi, dan berkurang orang yang mengenal budi, dan orang-orang berlomba-lomba membangun rumah, dan hanya menurutkan hawa nafsunya, dan menukarkan agama dengan dunia, dan meremehkan urusan pertumpahan darah, dan memutus hubungan famili, dan menjual hukum, dan mempertinggi bangunan menara (mercu suar) dan memperhias bentuk mushaf, dan menghiasi masjid, dan tersebar suap menyuap, dan merata makan riba, dan memuliakan orang yang kaya, dan wanita dapat berkendaraan sendiri. Kemudian ia pergi dari kami. Seteah itu Sa’ad bin Waqash pergi ke tempat itu membawa 4.000 tentaranya dan tinggal di sana selama 40 hari berazan untuk tiap shalat, tetapi tidak mendengar apa-apa.
[Lihat Kitab Tanbihul Ghofilin dalam Bab Alamat (tanda) kiamat].
Cerita ini diawali ketika seorang murid Al-Idrisiyyah didatangi oleh Syekh al-Akbar Abdul Fattah Ra. yang memberikan resep dipanjangkan dan diberkahi umur. Selanjutnya mengungkap seseorang yang dipanjangkan umur yang bernama Zurnub bin Yar'ula bin Makhnukh. (Konon rata-rata keturunan Nabi Nuh itu usianya panjang-panjang). Hanya demikian saja ceritanya. Kemudian, muncul lagi keterangan bahwa Zurnub bin Yar'ula disebut dalam sebuah kitab. Dan kitab itu pun tidak langsung diberitahu. Selang beberapa waktu diberitahukanlah bahwa nama kitabnya adalah Tanbihul Ghafilin (karya Abu Laits Samarqandi, bukan lainnya [sebab ada kitab yang namanya serupa]). Informasinya datang berangsur-angsur.
Setelah mendapatkan keterangan inipun betapa sulitnya melacak nama Zurnub bin Yar'ula dalam kitab setebal ratusan halaman. Namun, akhirnya Allah pertemukan lembaran halaman yang dimaksud tersebut, yang saat ini telah dapat kita simak ceritanya.
As-Syekh al-Akbar mengatakan Zurnub bin Yar’ula itu berdiam di sebuah pegunungan Cina. Perawakannya tidak seperti perawakan umumnya orang Cina (ia tidak sipit matanya). Wajahnya berkulit kemerah-merahan. Di saat salju menutupi wilayah pegunungan, ia tidak merasakan hawa dingin yang menyengat kulitnya. Hingga kini negara Cina yang begitu padat belum menemukan sosok manusia yang panjang umur ini dengan penampilan yang berbeda dengan orang-orang Cina saat ini.
Pernyataan As-Syekh al-Akbar ini menguatkan fakta sejarah penyebaran Islam ke negeri Cina yang dipelopori oleh sahabat Nabi yang bernama Sa’ad bin Waqqash, dan beliau merupakan sahabat Nabi Saw yang wafat dan dimakamkan di sana.
Wallaahu A'lam bish Showab.

Jakarta, 22 Juli 2007.

Senin, 15 Juni 2009

Ternyata Namanya: "Syekh Balwa"

Syekh Abdul Qadir al-Jaelani Qs. mengoreksi bahwa yang betul adalah Syekh Balwa (bukan Syekh Balwas). Dinamakan 'Balwa' karena begitu banyak ujian (Bala') yang Allah berikan kepadanya. Dia adalah salah satu Wali Allah yang tidak mengetahui bahwa dirinya adalah Wali.
Dikisahkan bahwa ada 3 orang yang taat beribadah kepada Allah. Mereka beribadah di suatu gua untuk menemukan petunjuk menjumpai seseorang yang bernama Syekh Balwa, untuk dijadikan sebagai Gurunya. Sebut saja si A telah beribadah (khalwat) selama 3 tahun, sedangkan si B telah melakukan khalwat selama 2 tahun, dan si C baru 1 tahun melakukan ibadah.
Suatu ketika, saat Syekh Balwa diusir oleh istri dan keluarganya, ia mampir ke gua tersebut yang kebetulan sudah ada di dalamnya 3 orang Abid tersebut. Maka berkumpullah mereka semua. Dalam perbincangan nama Syekh Balwa diganti dengan sebutan lain oleh ketiganya agar tidak diketahui siapapun. Begitu tiba waktu sholat, mereka sholat berjama'ah, dan yang ditunjuk sebagai Imam adalah si A, yang lebih tua dalam menjalankan ibadahnya. Setelah melaksanakan sholat, mereka memohon kepada Allah agar diturunkan hidangan atas mereka. Masing-masing berdo'a, kecuali Syekh Balwa yang hanya memperhatikan ketiga orang tersebut. Beberapa saat turunlah makanan dari langit (entah darimana tiba-tiba muncul di dalam gua). Masing-masing makanan datang sesuai dengan kadar lamanya mereka khalwat. Kalau si C, tentu saja paling lama, karena ia masih baru beribadah selama 1 tahun. Dan kalau si A, permohonannya cepat datangnya karena telah lama mengenyam lamanya khalwat. Saat ketiga orang itu sedang membincangkan seputar cepat lamanya datang hidangan di tengah-tengah mereka, Syekh Balwa keluar dari ruangan gua. Ia turun ke bawah. Lalu ia memanjatkan do'a kepada Allah seperti yang dilakukan oleh ketiga Abid tadi.
Begitu do'a itu dipanjatkan, terdengarlah suara gemuruh yang dirasakan oleh ketiga Abid di dalam gua, sambil bertanya-tanya, 'Siapakah gerangan yang sedang bermunajat seperti ini, sehingga dinding-dinding gua gemetar semuanya!' Mereka tidak mengetahui bahwa Syekh Balwa sedang memanjatkan do'a, 'Yaa Allah, akulah orang yang paling faqir di dunia ini, melebihi Ayub As, melebihi seluruh manusia yang ada di muka bumi ini, maka turunkanlah aku hidangan sebagaimana telah Engkau turunkan kepada mereka bertiga!'
Dan ijabah Do'a yang Allah berikan kepada Syekh Balwa itu berupa iringan makanan yang banyak jumlahnya. Masing-masing dibawa oleh dayang-dayang yang rupawan. Kejadian ini membuat gempar keadaan kampung di sekitar gua. Beberapa saat setelah kejadian itu, ketiga orang di dalam gua menghampiri Syekh Balwa, 'Wahai saudaraku, siapakah Engkau ini sebenarnya?' Maka dijawab oleh Syekh Balwa, 'Aku adalah Balwa. Seorang faqir yang sedang mengembara dan mampir ke sini'. Syekh Balwa menyembunyikan kelakuan istri dan keluarganya atas dirinya, sedangkan ia sedang mengalami kesedihan yang teramat sangat karena dienyahkan dari rumahnya sendiri oleh keluarganya sendiri.
Makanan yang begitu banyak akhirnya dibagi-bagikan kepada penduduk kampung. Dan seorang malaikat menyaru (menyembunyikan identitas dirinya) mengantarkan makanan ke keluarga Syekh Balwa. Kemudian si malaikat itu berkata, 'Wahai keluarga yang tidak mau diuntung, ketahuilah, seharusnya kalian beruntung hidup bersama Syekh Balwa, karena ia seorang Kekasih Allah. Apa yang ia minta, Allah kabulkan. Dan ia sekarang sudah meninggalkan kalian'. Mendengar ini maka menjadi bersedihlah keluarga Syekh Balwa.
Di sisi lain ketiga orang tadi sudah mengetahui kedudukan (maqam) Syekh Balwa, tapi Syekh Balwa tidak mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari Kekasih Allah yang diijabah do'anya.
Kamis, 25 April 2009


Demikianlah cerita yang tidak dijumpai dari tulisan (kitab), tapi bersifat tutur tinular dari Isyraqiyyah. Hal ini pernah dialami oleh Fariduddin 'Athar ketika menyusun untaian kisah Para Wali yang hidup pada masa sebelumnya (Tadzkiratul Awliya). Beliau dapat menuturkan cerita apa yang dialami oleh Para Wali pada ratusan tahun sebelum Beliau lahir, karena mendapatkan bimbingan dan informasi dari gaib. Sedangkan dalam khazanah kitab yang ada hanya sedikit menguraikannya. Demikian pula cerita demi cerita yang diungkapkan oleh Nabi Saw melalui perantara Jibril As. Beliau Saw dapat mengungkapkan cerita pada masa dahulu (hingga sampai kepada kita seperti kisah Syam'un al-Ghazi, 3 orang yang terperangkap di dalam gua, dan sebagainya). Semuanya melalui perantara ruhani untuk menguaknya. Maka jika seorang murid yang sedang menjalankan pertalian erat dengan Murysid al-Mushthafa pada zamannya, misteri apa yang terdahulu dan kemudian akan Allah bukakan padanya. Semuanya bisa diungkap atau hanya dipercayakan kepada beberapa orang saja untuk mengetahuinya. Qul innal fadhla biyadillaahi yu'tiihi masy-yasyaa-u wallaahu waasi'un 'aliiim.