Malam Lailatul Qadr yang penuh dengan keagungan itu dinanti-nanti sekian miliar penduduk muslim di dunia. Banyak muslim mencarinya dengan memperbanyak i’tikaf di malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan. Kita dapat menyaksikan antusias muslimin dan muslimat beribadah di malam-malam tersebut, di daerah Condet (al-Hawi) misalnya, setiap malam ganjil terakhir berduyun-duyun manusia berjejal untuk melaksanakan tarawih bersama hingga tengah malam. Peristiwa ini menyebabkan lalu lintas di sekitarnya menjadi macet.
”Saya tadi malam habis i’tikaf di masjid Sunda Kelapa!” Ujar seorang kakek tua asal Sumatera Barat. Ia menceritakan bahwa sudah menjadi kebiasaannya berkeliling ke masjid-masjid yang mengadakan i’tikaf di bulan Ramadhan, terutama menanti malam yang agung tersebut. Masjid hingga halaman masjid penuh dengan pria maupun wanita berdzikir dan mendengar renungan muhasabah hingga shalat Dhuha, katanya.
Di masjid-masjid lain banyak mengadakan hal serupa. Demikian halnya di masjid Jami’e Al-Fattah di Batu Tulis. Namun yang berbeda di masjid ini dengan lainnya, jika di bulan Ramadhan di masjid lain mengadakan tawaquf (berhenti sementara) terhadap majelis taklim/dzikirnya, tetapi masjid ini terus mengadakan pengajian di bulan Ramadhan.
Hal lainnya yang berbeda adalah kegiatan menghidupkan malam Lailatul Qadr di masjid ini diadakan pada malam yang sudah diyakini sebagai malam Lailatul Qadr berdasarkan petunjuk ruhaniyah. Melalui petunjuk ruhaniyah inilah malam Lailatul Qadr dapat diketahui secara pasti.
Berkenaan dengan petunjuk malam Lailatul Qadr tahun ini ada sedikit kisah yang dapat menjadi informasi yang cukup berharga bagi kita semua yang ingin menyimak di balik peristiwa malam Lailatul Qadr.
Informasi awal tentang malam yang dinanti-nantikan tersebut adalah malam 25 atau 27. Petunjuk ini didapat melalui beberapa murid Idrisiyyah yang bersua dengan ruhani Syekh al-Akbar Muhammad Dahlan Ra. Melalui Nabi Khidir As. Bahkan ditambahkan, di antara kedua tanggal tersebut terserah Syekh al-Akbar Muhammad Daud untuk menentukannya. Melalui berita ini Syekh al-Akbar M. Daud dipersilahkan untuk memutuskan kapan malam Lailatul Qadr.
Satu lagi cerita, seorang murid yang beri’tikaf di qubah menceritakan pada suatu malam ia mendengar suara dua orang mengobrol di ruangan qubah. Namun ia tidak tahu asal suara tersebut. Setelah ia selidiki suara itu berasal dari ruang khalwat Syekh al-Akbar Muhammad Daud Dahlan. Dari dalam qubah tersebut terdengar suara Syekh al-Akbar dengan Nabi Khidhir As. Ia berjalan perlahan-lahan untuk memastikan apakah benar suara tersebut berasal dari dalam kamar. ”Ehm, ada yang nguping pembicaraan nih?” suara keras terdengar dari dalam kamar, yang menyebabkan ia lari berjingkat karena malu ketahuan menguping.
Segera ia memposisikan diri duduk menghadap makam. Sambil memejamkan mata, ia berdo’a, ”Ya Allah, jika benar itu adalah Syekh al-Akbar Muhammad Daud Dahlan, guru saya, maka datangkanlah ia padaku!” Hatinya terus berkata demikian sambil berdebar-debar memikirkan apa yang sedang terjadi.
”Assalamu’alaikum!” Salam itu terdengar hingga 3 kali, sehingga menyebabkan ia terhenyak dari posisi duduknya. ”Kamu memanggil Bapak?” tanya seseorang yang berdiri tegak di hadapan si murid. Si murid menjawab dengan menunduk, ”Benar Syekh al-Akbar!” Kepalanya tidak mampu ia tegakkan, ia tidak berani menengadah untuk memandang wajah Syekhnya tersebut.
”Sampaikan kepada orang yang dekat dengan Bapak itu (sambil memberi isyarat), besok malam (malam 25) malam Lailatul Qadr. Lihat ke langit, semuanya sudah menunggu-nunggu! Cepat segera beritahu!” Betapa kagetnya si murid begitu ia menengadahkan kepalanya ke langit. Subhanallaah! Para malaikat berjejal memenuhi seluruh langit, seolah-olah sedang mengambil ancang-ancang untuk meluncur ke bumi. Rupa-rupanya mereka telah bersiap-siap untuk ’turun’ menunggu titah Syekh al-Akbar Muhammad Daud Dahlan Ra. sebagai wakil Allah yang dikuasakan oleh Rasulullah pada masa ini.
Di siang hari, sebelum datangnya malam Lailatul Qadr kabut tipis seolah menutupi seluruh lapisan langit. Wujud matahari tak tampak tertutupi olehnya. Bukanlah pula awan mendung menyelimutinya, karena hanya diiringi angin semilir yang menenangkan suasana di tengah teriknya kemarau.
Akhirnya malam itu seluruh jama’ah berpesta dzikir hingga sahur menjelang.
Kamis, 25 Oktober 2007
Selasa, 02 Oktober 2007
Gelar Muhyiddin
’Tolong sampaikan kepada Syekh al-Akbar, Beliau mendapatkan satu anugerah lagi dari Allah melalui Nabi Khidir As. Gelar tersebut adalah Muhyiddin. Jadi sekarang Beliau bernama Syekh al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan Ra.’ Demikian salah seorang murid menuturkan kisah pertemuannya dengan Nabi Khidir As.
Apa arti Muhyiddin? Muhyiddin (Muhyi ad-Din) artinya orang yang menghidupkan agama (Islam). Gelar ini (menurut Nabi Khidir As.) sebenarnya diberikan pula kepada setiap Sulthan Awliya pada setiap masa. Yang memberikan nama ini adalah Nabi Muhammad Saw kepada Khalifah-khalifah Beliau di setiap zaman. Dan saat ini adalah Beliau (Syekh al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan Ra.).
Ruhani Rasulullah Saw menyatakan pula, ’Sebenarnya gelar tersebut telah diberikan kepada Sadatul Idrisiyyah (Guru-guru Al-Idrisiyyah yang bermartabat Sulthan Awliya) lainnya. Sebagaimana dahulu diberikan pula kepada Quthbul Ghauts Syekh Abdul Qadir Jaelani. Hanya gelar tersebut disatarkan (disembunyikan)’.
Beliau (Syekh al-Akbar) menurut Nabi Khidir As. mempunyai kelebihan membuka atau menyingkap berbagai jalan. Tidak aneh jika banyak kandungan isi Al-Quran Beliau bedah dengan ketajaman analisa yang Allah anugerahkan kepada Beliau.
Dalam sehari Nabi Khidhir berdialog (bertatap muka) dengan Syekh al-Akbar Muhammad Daud Dahlan Ra. (secara ruhaniyah) lebih dari 70 kali. Interaksi (perjumpaan) itu bahkan terjadi pada saat beliau sedang berbicara di hadapan murid-muridnya. Hanya saja hanya sedikit murid yang menyadari akan hal itu.
Apa arti Muhyiddin? Muhyiddin (Muhyi ad-Din) artinya orang yang menghidupkan agama (Islam). Gelar ini (menurut Nabi Khidir As.) sebenarnya diberikan pula kepada setiap Sulthan Awliya pada setiap masa. Yang memberikan nama ini adalah Nabi Muhammad Saw kepada Khalifah-khalifah Beliau di setiap zaman. Dan saat ini adalah Beliau (Syekh al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan Ra.).
Ruhani Rasulullah Saw menyatakan pula, ’Sebenarnya gelar tersebut telah diberikan kepada Sadatul Idrisiyyah (Guru-guru Al-Idrisiyyah yang bermartabat Sulthan Awliya) lainnya. Sebagaimana dahulu diberikan pula kepada Quthbul Ghauts Syekh Abdul Qadir Jaelani. Hanya gelar tersebut disatarkan (disembunyikan)’.
Beliau (Syekh al-Akbar) menurut Nabi Khidir As. mempunyai kelebihan membuka atau menyingkap berbagai jalan. Tidak aneh jika banyak kandungan isi Al-Quran Beliau bedah dengan ketajaman analisa yang Allah anugerahkan kepada Beliau.
Dalam sehari Nabi Khidhir berdialog (bertatap muka) dengan Syekh al-Akbar Muhammad Daud Dahlan Ra. (secara ruhaniyah) lebih dari 70 kali. Interaksi (perjumpaan) itu bahkan terjadi pada saat beliau sedang berbicara di hadapan murid-muridnya. Hanya saja hanya sedikit murid yang menyadari akan hal itu.
Senin, 17 September 2007
GURU yang mengajarkan ilmu
Seseorang yang mendalami Agama memerlukan seorang pemandu yang dipilih Allah untuk dirinya. Ia harus mempelajari ilmunya melalui seorang Guru secara musyafahah. Kalau-lah ia merasa bahwa ia telah menjalankan perkara agama dengan memenuhi secara sempurna syarat dan rukunnya, namun satu hal yang ia lupakan bahwa ia telah meninggalkan adab Salafus Shalih, karena mereka telah melakukan perjuangan gigih dalam menuntut ilmu. Bahkan di kalangan ahli ilmu, orang-orang yang mencukupi dengan membaca buku-buku atau kitab agama tanpa berguru kepada seseorang, dianggap ilmunya itu seperti tidak ada.
Maka tuntutlah Guru yang membimbingmu lahir dan batin, sebagaimana Sayidina Musa As ber-talaqqi ilmu kepada Nabi Khidhir As, dan sebagaimana perjalanan yang begitu jauh Sayidina Jabir bin Abdullah menemui Abdullah bin Anis, hanya untuk mempelajari satu hadits saja. Wajib mencari Guru dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan godaan dan rintangan.
Sayidi Ibrahim ad-Dasuki Rhm. Pernah berkata, ‘Mencari Guru dalam meniti jalan menuju kepada Allah adalah wajib bagi setiap orang yang berkehendak (murid), meskipun ia adalah seorang Ulama besar pada masanya’.
Syekh Ibnu Ruslan dalam Zubad-nya berkata:
Maka tuntutlah Guru yang membimbingmu lahir dan batin, sebagaimana Sayidina Musa As ber-talaqqi ilmu kepada Nabi Khidhir As, dan sebagaimana perjalanan yang begitu jauh Sayidina Jabir bin Abdullah menemui Abdullah bin Anis, hanya untuk mempelajari satu hadits saja. Wajib mencari Guru dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan godaan dan rintangan.
Sayidi Ibrahim ad-Dasuki Rhm. Pernah berkata, ‘Mencari Guru dalam meniti jalan menuju kepada Allah adalah wajib bagi setiap orang yang berkehendak (murid), meskipun ia adalah seorang Ulama besar pada masanya’.
Syekh Ibnu Ruslan dalam Zubad-nya berkata:
مَنْ لَّمْ يَكُنْ يَعْلَمُ ذَا فَلْيَسَأْلِ مَنْ لَّمْ يَجِدْ مُعَلِّمًا فَلْيَرْحَلِ
”Barang siapa yang tidak mengetahui ini, maka hendaklah ia bertanya,
Dan barang siapa tidak mendapatkan Guru, hendaklah ia berangkat ke manapun untuk mencarinya”.
Sayid Abdullah bin Alwi al-Haddad Rhm berkata dalam Qashidah Ro’iyyah-nya:وَخُذْ مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ خَطًّا مُوَفِّرًا فَبِالْعِلْمِ تَسْمُوْ فِى الْحَيَاةِ فِى الْحَشْرِ
”Dan Ambillah olehmu daripada ilmu-ilmu agama itu, akan bagian yang banyak.
Maka dengan ilmu itulah engkau terangkat derajat di dalam kehidupan dan pada saat pengumpulan kelak”.
”Dan Ambillah olehmu daripada ilmu-ilmu agama itu, akan bagian yang banyak.
Maka dengan ilmu itulah engkau terangkat derajat di dalam kehidupan dan pada saat pengumpulan kelak”.
Dan Qashidah itu disyarahkan (diberikan penjelasannya) oleh Sayid Ahmad bin Abu Bakar bin Sumaith al-Alawy al-Hadhrami Rhm, yang bernama Manhalul Wurraad min Faidhil Imdaad bisyarhi abyaatil Quthbi Abdillah bin Alawi al-Haddad, hal. 102 sebagai berikut:
فَقَدْ أَفْهَمَ تَعْبِيْرُ النَّاظِمِ نَفَعَ اللهُ بِهِ بِقَوْلِهِ خُذْ مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ... إلخ أَنَّ اْلأَخْذَ مِنْ شَيْخٍ لَهُ تَمَامُ اْلإِطِّلاَعِ مِمَّا يَتَعَيَّنُ عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ وَأَمَّا مُجَرَّدُ الْمُطَالَعَةِ بِغَيْرِ شَيْخٍ إِتِّكَالًا عَلَى الْفَهْمِ فَقَلِيْلَةُ الْجَدْوَى إِذْلاَ بُدَّ إِنْ تَعْرِضْ عَلَيْهِ مُشْكِلاَتٌ لَا تَتَّضِحُ لَهُ إِلاَّ إِنْ حَلَّهَا شَيْخٌ.
Maka sesungguhnya telah memberi faham oleh keterangan Nazhim Nafa’allaahu bihi, dengan perkataannya: Dan ambillah dari ilmu-ilmu agama, dan seterusnya, bahwa mengambil ilmu dari seorang Guru yang sempurna penela’ahannya itu, terblang daripada apa-apa yang tertentu atas orang yang menuntut ilmu. Dan adapun semata-mata muthala’ah tanpa Guru, karena mengandalkan kefahaman sendiri saja akan sedikit hasilnya. Karena tak dapat tidak, jika datang atasnya kemusykilan-kemusykilan, tidaklah menjadi jelas baginya kecuali dengan penguraian Guru”.
Dan barang siapa yang mengambil ilmu dari buku-buku saja, maka pengetahuannya itu di sisi para hali ilmu, seperti tiada saja”.
Maka sesungguhnya telah memberi faham oleh keterangan Nazhim Nafa’allaahu bihi, dengan perkataannya: Dan ambillah dari ilmu-ilmu agama, dan seterusnya, bahwa mengambil ilmu dari seorang Guru yang sempurna penela’ahannya itu, terblang daripada apa-apa yang tertentu atas orang yang menuntut ilmu. Dan adapun semata-mata muthala’ah tanpa Guru, karena mengandalkan kefahaman sendiri saja akan sedikit hasilnya. Karena tak dapat tidak, jika datang atasnya kemusykilan-kemusykilan, tidaklah menjadi jelas baginya kecuali dengan penguraian Guru”.
Penyair menyatakan:
مَنْ يَأْخُذِ الْعِلْمَ مِنْ شَيْخٍ مُشَافَهَةً يَكُنْ عَنِ الزَّيْغِ وَالتَّصْحِيْفِ فِيْ حَرَمِ
وَمَنْ يَّكُنْ أَخِذًا لِّلْعِلْمِ مِنْ صُحُفٍ فَعِـلْمُهُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِـلْمِ كَالْعَدَمِ
”Barang siapa yang mengambil ilmu dari seorang Guru dengan cara langsung berhadap-hadapan, niscaya terjaga ia dari kesesatan dan kekeliruan.وَمَنْ يَّكُنْ أَخِذًا لِّلْعِلْمِ مِنْ صُحُفٍ فَعِـلْمُهُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِـلْمِ كَالْعَدَمِ
Dan barang siapa yang mengambil ilmu dari buku-buku saja, maka pengetahuannya itu di sisi para hali ilmu, seperti tiada saja”.
Dan kata sya’ir pula:
أَمُدَّعِيًا عِلْمًا وَلَيْسَ بِقَارِئٍ كِتَابًا عَلَى شَيْخٍ بِهِ يَسْهَلُ الْحُزْنُ
أَتَزْعُمُ أَنَّ الذِّهْنَ يُوْضِحُ مُشْكِلاً بِلاَ مُخْيِرٍ تَاللهِ قَدْ كَذَّبَ الذِّهْنُ
وَإِنَّ ابْتِغَآءَ الْعِلْمِ دُوْنَ مُعَلِّمٍ كَمُوْقِدِ مِصْبَاحٍ وَلَيْسَ لَهُ دُهْنُ
”Wahai orang yang mengaku berilmu, padahal ia tidak membaca kitab atas seorang Guru, padanya akan mudahlah berduka cita.
Apakah engkau menyangka bahwa pikiran itu dapat menyatakan kemusykilan, tanpa seorang pembimbing?
Demi Allah, sesungguhnya telah berdustalah pikiran itu. Dan sesungguhnya menuntut ilmu tapa Guru, seperti orang yang menyalakan pelita, padahal pelita itu tidak berminyak”.
أَتَزْعُمُ أَنَّ الذِّهْنَ يُوْضِحُ مُشْكِلاً بِلاَ مُخْيِرٍ تَاللهِ قَدْ كَذَّبَ الذِّهْنُ
وَإِنَّ ابْتِغَآءَ الْعِلْمِ دُوْنَ مُعَلِّمٍ كَمُوْقِدِ مِصْبَاحٍ وَلَيْسَ لَهُ دُهْنُ
”Wahai orang yang mengaku berilmu, padahal ia tidak membaca kitab atas seorang Guru, padanya akan mudahlah berduka cita.
Apakah engkau menyangka bahwa pikiran itu dapat menyatakan kemusykilan, tanpa seorang pembimbing?
Demi Allah, sesungguhnya telah berdustalah pikiran itu. Dan sesungguhnya menuntut ilmu tapa Guru, seperti orang yang menyalakan pelita, padahal pelita itu tidak berminyak”.
يَظُنُّ الْمَرْءُ أَنَّ الْكُتْبِ تُجْدِيْ أَخَـافُهُمْ لِإِدْرَاكِ الْعُـلُوْمِ
وَمَا يَدْرِالْجُهُوْلُ بِأَنَّ فِيْـهَا غَوَامِضَ حَيَّرَتْ عَقْلَ الْفَهِيْمِ
إِذَا رُمْتَ الْعُلُوْمَ بِغَـيْرِ شَيْخٍ ضَلَلْتَ عَنِ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ
وَتَلْتَبِسُ اْلأُمُوْرُ عَلَيْكَ حَتَّى تَصِيْرَ أَضَلَّ مِنْ تُوْمَا الْحَكِيْمِ
”Orang mengira bahwa kitab-kitab itu dapat memberikan hasil kepada saudara yang memahami, untuk mendapatkan ilmu-ilmu.
Dan tidaklah si dungu mengetahui bahwa di dalam kitab-kitab itu banyak terdapat kepelikan yang membingungkan akalnya orang yang mengerti.
Apabila engkau mencari ilmu tanpa seorang Guru, sesatlah engkau dari jalan yang lurus.
Dan akan tersamarlah bagimu segala persoalan, sehingga jadilah engkau lebih sesat dari Al-Hakim Tuma”.
Tiap orang yang menuntut ilmu, dengan cara sendiri tanpa Guru, maka sesungguhnya ia berada di dalam kesesatan”.
وَمَا يَدْرِالْجُهُوْلُ بِأَنَّ فِيْـهَا غَوَامِضَ حَيَّرَتْ عَقْلَ الْفَهِيْمِ
إِذَا رُمْتَ الْعُلُوْمَ بِغَـيْرِ شَيْخٍ ضَلَلْتَ عَنِ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ
وَتَلْتَبِسُ اْلأُمُوْرُ عَلَيْكَ حَتَّى تَصِيْرَ أَضَلَّ مِنْ تُوْمَا الْحَكِيْمِ
”Orang mengira bahwa kitab-kitab itu dapat memberikan hasil kepada saudara yang memahami, untuk mendapatkan ilmu-ilmu.
Dan tidaklah si dungu mengetahui bahwa di dalam kitab-kitab itu banyak terdapat kepelikan yang membingungkan akalnya orang yang mengerti.
Apabila engkau mencari ilmu tanpa seorang Guru, sesatlah engkau dari jalan yang lurus.
Dan akan tersamarlah bagimu segala persoalan, sehingga jadilah engkau lebih sesat dari Al-Hakim Tuma”.
لَيْسَ فِى اْلكُتْبِ وَالدَّقَاتِرِ عِلْمٌ إِنَّمَا الْعِلْمُ فِى الصُّدُوْرِ الرِّجَالِ
كُلُّ مَنْ يَّطْلُبُ الْعِـلْمَ فَرِيْدًا دُوْنَ شَيْـخٍ فَإِنَّهُ ضَــلاَل
”Tidaklah ada di dalam kitab-kitab dan buku-buku itu ilmu. Hanya saja ilmu itu ada pada ahlinya.كُلُّ مَنْ يَّطْلُبُ الْعِـلْمَ فَرِيْدًا دُوْنَ شَيْـخٍ فَإِنَّهُ ضَــلاَل
Tiap orang yang menuntut ilmu, dengan cara sendiri tanpa Guru, maka sesungguhnya ia berada di dalam kesesatan”.
Langganan:
Postingan (Atom)